Menggunakan judul seperti ini, sebenarnya saya sedikit ragu. Bagaimana mungkin seseorang yang belum mencapai pencerahan bisa menunjukkan jalan menuju pencerahan?
Tapi maksud hati saya memang bukan untuk menunjukkan jalan menuju pencerahan tapi sebaliknya – bagaimana mencari jalan menuju pencerahan?
Tempat seperti itu… Apakah benar bisa dicapai dengan pesawat jet?
Sebelum menjawab pertanyaan seperti itu, perlu kita tanyakan diri kita sendiri… kenapa kita mencari tempat seperti itu?
Alasannya sederhana, karena kita mencari kebahagiaan yang sejati. Namun apakah kebahagiaan yang sejati bisa ditemukan di “suatu tempat”?
Apa yang kita cari bukanlah tempat, melainkan kondisi. Hanyalah bahasa yang terkadang memiliki ambiguitas sehingga sering kali kita terjebak dalam kata-kata.
Orang yang hidupnya senang, tentu akan sangat sulit untuk berpikir untuk mencari kebahagiaan sejati, karena apa yang dipikirnya sebagai kebahagiaan sejati adalah apa yang dirasakannya sekarang, yang tidak lain adalah kebahagiaan duniawi.
Jika itu adalah kebahagiaan duniawi, lantas bagaimana yang disebut dengan kebahagiaan yang sejati. Menjawab pertanyaan itu adalah sangat tidak mungkin untuk saya, karena saya sendiri belum mencapai pencerahan sempurna.
Namun meski begitu saya tahu bahwa kebahagiaan duniawi bukanlah kebahagiaan sejati. Mengapa?
Karena kebahagiaan seperti itu ada kondisi, ada syaratnya. Katakanlah Anda hidup bisa makan enak, bisa punya ini punya itu, semua itu harus ada syaratnya, yaitu harus punya uang. Tanpa uang, mungkin Anda punya cara lain untuk mendapatkannya. Cara tersebut juga adalah sebuah syarat, sebuah kondisi yang harus dipenuhi. Sedangkan kondisi selalu berubah, sehingga dengan demikian kebahagiaan tersebut tidak abadi. Kebahagiaan itu mengandung cacat, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu yg sifatnya ‘sejati’.
Dulu, saya bukanlah seseorang yang peduli dengan segala tetek bengek filosofi seperti ini. Namun setelah mengalami penderitaan dan kesedihan yang mendalam, barulah saya sedikit demi sedikit menyadari ketidakkekalan – kebahgiaan yan berkondisi, tidak memuaskan, namun sangat sulit untuk dilepaskan.
Oleh karena itu saya berpikir, terkadang karena satu pengalaman yang sangat pahit barulah kita bisa sedikit membuka mata kita terhadap kebenaran dengan pengeculian terhadap beberapa orang yang malah semakin gelap mata – tidak mau melepaskan perasaan yang sudah seharusnya dilepaskan, dan terus menerus meracuni diri sendiri dengan kebencian, dendam, keputusasaan dan penderitaan yang ikut bersama-sama dengan perasaan tersebut.
Pertama kalinya saya mengalami kesedihan yang sangat hebat, saya tidak menemukan alasan untuk tetap bertahan hidup di dunia ini. Namun sebelum saya sempat berpikiran bodoh, satu pikiran berkelebat di otak saya – bahwa kematian menyakitkan – bahwa saya tidak yakin bahwa di masa yang akan datang saya tidak akan pernah merasakan hal-hal yang baik lagi. Saya merasa takut kehilangan kesempatan akan sesuatu yang baik yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang seandainya saya tetap bertahan.
Begitulah saya terus melewati hari demi hari dengan penuh kesedihan. Satu tahun lewat, dua tahun juga lewat namun rasa sakit itu masih belum hilang.
Ternyata luka dihati lebih susah sembuh dibanding luka di badan. Semakin lama saya semakin merasa menderita karena semakin banyak kenangan indah yang saya ingat rasanya semakin sakit hati.
Dari sanalah saya mulai berpikir, semakin besar kebahagiaan yang saya rasakan semakin besar juga penderitaan yang saya terima saat kebahagiaan itu pergi. Kebahagiaan tidak lain adalah satu bagian dari koin bersisi dua, satunya adalah surga dan satunya adalah neraka. Kebahagiaan dan penderitaan yang saya alami juga bukanlah berasal dari luar, melainkan berasal dari dalam. Faktor faktor luar hanyalah sebuah pemicu atau mungkin lebih tepat disebut sebagai umpan dan saya nyata-nyata telah memakan umpan itu karena ketidaktahuan saya.
Lalu saya mulai belajar untuk menenangkan pikiran saya.
Disanalah tanpa saya sadari, saya perlahan-lahan sudah mempraktekkan meditasi. Dan setelah saya benar benar mengenal istilah meditasi, saya membeli banyak buku-buku tentang meditasi dan mempraktekkannya.
Pada saat awal mempraktekkannya dengan serius, saya merasa meditasi itu sangat susah. Pikiran ini seperti monyet, tidak bisa dikendalikan. Sekali diam setelah beberapa saat kembali akan muncul banyak pikiran yang menghalangi proses meditasi saya.
Perlu diketahui bahwa dalam meditasi, kita tidak belajar untuk mengosongkan pikiran, namun secara santai memfokuskan pikiran pada satu objek. Pada saat itu objek meditasi saya adalah pernafasan.
Pada saat-saat awal, saya tidak pernah bisa meditasi lewat dari 15 menit, sungguh sangat menyebalkan pikir saya waktu itu.
Saya merasa ada yang salah. Meditasi tentu bukan begini caranya. Saya kembali berpikir di masa yang lalu ketika saya belum begitu mengenal istilah meditasi, secara tidak sadar saya sudah melakukannya dengan sangat mudah. Mengapa setelah saya mengetahui lebih banyak teori tentang meditasi, semuanya malah semakin rumit?
Kemudian saya memutuskan untuk tidak memperdulikan semua teori-teori itu lagi. Saya duduk, kemudian memfokuskan pikiran pada pernafasan. Setiap kali muncul satu pikiran, saya menanggapinya dengan santai, saya menerima pikiran itu apa adanya, tidak berusaha untuk menolaknya. Terkadang saya malah bisa menemukan sesuatu yang lucu dari pikiran pikiran yang datang itu, tidak peduli apa jenis pikiran yang datang itu.
Setiap kali ada pikiran yang datang saya menerima pikiran itu dan kemudian perlahan-lahan memfokuskan pikiran kembali ke pernafasan. Hal tersebut terjadi berulang-ulang, namun saya biarkan saja. Padahal jika ditilik dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya seharusnya sudah merasa sangat jengkel. Tapi kali ini sama sekali tidak. Karena pada saat itu boleh dibilang saya sudah berada pada keadaan yang setengah serius dan setengah bermain-main.
Dari sanalah saya mulai sadar, mengapa latihan-latihan saya yang sebelumnya saya lakukan semakin lama semakin pendek jangka waktunya. Itu karena semakin lama semakin besar kejengkelan yang saya rasakan. Saya telah gagal mendeteksi perasaan itu dan inilah yang menjadi penghalang utama dalam proses meditasi saya. Semua teori-teori yang saya pelajari saya anggap sebagai sebuah beban, sebuah misi yang harus saya selesaikan – padahal meditasi adalah belajar untuk melepaskan beban, bukan sebaliknya mengangkat beban tersebut dipikiran saya. Saya telah melakukan sebuah kesalahan dan sekarang saya memperbaiki kesalahan tersebut.
Setelah saya berhasil mengatasi rasa jengkel tersebut dan menerima dengan lapang dada semua pemikiran yang muncul dalam pikiran saya, kemudian perlahan-lahan mengarahkannya untuk pergi – saya merasa seperti mendapatkan pengalaman baru.
Semakin lama frekwensi datangnya pikiran-pikiran itu semakin sedikit, dan pikiran saya makin lama makin halus. Tidak ada bahasa yang tepat untuk menggambarkan perasaan seperti ini. Pada waktu itu saya merasa bahwa hati ini sangat damai, pikiran sangat bersih, tanpa hambatan dan segala sesuatunya terasa berjalan begitu lancar. Aliran darah dan nafas sangat teratur, dan pikiran menjadi jauh lebih terang dibanding sebelumnya. Setiap kejadian, setiap hal sekecil apapun dilihat dengan pandangan terbuka, persis seperti anak kecil yang baru lahir yang sedang mempelajari dunia luar. Bedanya sekarang saya lebih mempunyai pertimbangan dibanding anak kecil.
Dalam keadaan seperti itu, bahkan kejadian jatuhnya sehelai daun bisa memberikan banyak pelajaran kepada saya.
Pengalaman seperti itu sama sekali bukan pencerahan. Bahkan boleh dibilang saya bahkan belum menempuh 1/8 jalan yang harus saya tempuh. Jadi saya terus berlatih, sampai pada tahap dimana kekuatan jahat itu muncul dari dalam, menggoyahkan batin dan menguasai pikiran saya sewaktu saya sedang tidur. Pada saat sebelumnya, ketika meditasi saya sudah mencapai tahap yang mencukupi, saya bisa mengontrol mimpi dalam tidur saya. Tapi kali ini saya gagal. Semua usaha saya hancur seketika, dan pikiran saya kembali ke keadaan semula.
Saya sedikit merasa kecewa. Namun saya tidak berhenti untuk berusaha. Saya akan mengulang dari awal. Saya masih ingat bagaimana perasaan luar biasa yang saya rasakan pada saat meditasi saya berhasil dan itu sudah menjadi satu pengalaman yang berharga buat saya. Saya juga sudah melihat sendiri bagaimana bentuk kekuatan jahat yang bersemayam di dalam diri setiap manusia dan itu akan menjadi pelajaran buat saya untuk kembali menghadapinya suatu saat nanti.
Semoga…
Dan setelah saat itu tiba, saya akan kembali menulis. Mungkin untuk dibaca diri saya sendiri di kehidupan yang akan datang.