Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Ego. Apakah Teman atau Musuh?

Jika engkau marah kepada sesuatu, maka binasakanlah dia.
Apakah pandangan seperti ini benar?

Musuh dari luar dibasmi sampai berapa kalipun tidak akan pernah habis selama masih ada kebencian dalam hati, sedangkan musuh dari dalam-sekali dihabisi dengan tuntas dan ditambah dengan fondasi yang kuat, maka selamanya ia tidak akan pernah muncul lagi.

Pada dasarnya, siapa yang telah melukai diri ini?
Bukan orang lain, bukan siapa siapa selain dari diri sendiri. Ego yang berlebihan adalah penyebab penderitaan manusia.  Jika tidak ada yang namanya ego, maka apa yang bisa dilukai?

Sebagian orang berpendapat, jika tidak ada ego, apalah artinya hidup ini? Apa gunanya kekayaan dan kehormatan yang diperoleh dengan susah payah?
Benar ! Apa arti hidup ini? Apa arti kekayaan dan kehormatan? Apakah hidup ini hanya demi ego? Apakah kekayaan dan kehormatan dapat dimiliki selamanya?

Kekayaan, kehormatan ataupun hal hal lainnya adalah barang titipan. Semuanya bisa datang dan pergi dalam sekejap. Lalu apa gunanya memperlakukan barang titipan seolah olah barang tersebut adalah milik diri sendiri?

Tentu saja, orang yang dikuasai nafsu keinginan akan berpikir bahwa meskipun itu adalah titipan, setidaknya bisa dipakai untuk kebahagiaan saat ini.
Sifat acuh tak acuh seperti ini timbul karena ketidaktahuan. Tentu saja kebahagiaan adalah kebahagiaan, namun kemelekatan yang dalam terhadap kebahagiaan itu pada saatnya nanti akan berubah menjadi racun. Lihat bagaimana orang menjadi sangat menderita hanya karena berusaha mempertahankan kebahagiaan. Orang yang belum mengerti tidak akan paham bahaya dibalik kemelekatan itu. Bahkan jika dihitung hitung, terkadang nilai penderitaan yang sudah dialami seseorang karena berusaha mempertahankan kebahagiaan atau meratapi perginya kebahagiaan itu sudah tidak sebanding dengan nilai kebahagiaan itu sendiri.

– sebuah perumpamaan –
Ada seorang anak yang diberi oleh oleh sepotong kue oleh temannya. Temannya mengatakan bahwa kue tersebut rasanya enak sekali. Namun karena bentuknya yang menarik, ia tidak ingin memakannya. Ia tidak ingin kehilangan kue tersebut, sehingga akhirnya ia menyimpannya.
Selang beberapa hari, kue itu rusak dan bentuknya sudah tidak bagus lagi. Kue itu tidak lagi indah.
Pada akhirnya ia kehilangan kesempatan untuk mencicipi rasa kue tersebut, ia tidak pernah tahu bagaimana rasa kue tersebut.

Ada sebagian orang yang juga seperti itu. Mereka bekerja keras untuk mencari uang. Mereka mengumpulkan harta kekayaan yang jumlahnya sudah diluar kebutuhannya, tapi mereka terlalu kikir untuk menggunakannya. Sampai akhirnya ketika ajal mereka tiba, uang itu tidak terpakai sama sekali, dan satu satunya hal yang diwarisi oleh kekayaannya adalah penderitaan akibat kerja keras selama puluhan tahun.

Disisi lainnya, ada juga orang yang berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah yang banyak dan bisa menikmatinya, namun ia tidak bersedia membagi kemakmurannya kepada orang lain. Setelah semua hal yang bisa dibeli dengan uang ia miliki, ia tidak tahu lagi hal apa yang bisa dia beli. Ia tenggelam dalam kebosanan, ia mulai merasa bahwa uang bukanlah segala galanya, dan pada saat ia telah sadar, sudah tidak banyak waktu baginya untuk mulai menggunakan kekayaannya secara bijak.

Kemudian ada juga orang yang berusaha membeli semua hal dengan uang. Dengan uang ia membeli kehormatan, membeli cinta, membeli teman temannya. Namun karena hatinya tidak tulus, maka orang orang yang menjual cinta, kehormatan dan persahabatan kepadanya juga adalah orang yang tidak tulus. Dengan demikian ia mulai melihat kepalsuan dalam segala hal. Ia akhirnya menderita karena menjadi orang yang penuh curiga, skeptis dan pesimistik terhadap semua hal.

Selanjutnya adalah orang yang licik. Dengan kebodohannya ia mempermainkan ketulusan manusia, mempermainkan perasaan manusia, dan secara konstan tetap menjaga dirinya di posisi sebagai ‘orang baik’. Orang seperti ini sepertinya tidak tersentuh oleh penderitaan, namun sebenarnya ada tangan-tangan tak terlihat yang sedang mempersiapkan balasan yang setimpal atas semua perbuatannya. Tentu saja ia tidak akan menyadarinya karena dalam pikirannya sesuatu yang belum bisa dibuktikan pastilah tidak ada. Dengan cara seperti inilah maka karma buruk akan selalu tersenyum kepadanya dan mengikuti dirinya kemanapun ia pergi.

Sebagai seorang tukang taman sudah seharusnya jika memiliki tangan yang baik dan terampil. Tangan yang suka merusak sudah pasti tidak akan bisa dipakai untuk menciptakan taman yang indah. Demikianlah orang yang suka berbuat jahat perlahan lahan merusak tamannya sendiri. Ia akan terkejut setelah ia berdiri dan menyaksikan keseluruhan pemandangan tamannya, karena selama ini ia hanya melihat bagian per bagian dari taman itu.

Ingatlah bahwa Anda tidak bisa selalu mempercayai mata Anda. Anda juga tidak bisa selalu mempercayai telinga, hidung, kulit, dan lidah Anda. Anda bahkan tidak bisa selalu mempercayai pikiran Anda. Namun meskipun demikian, pengalaman kelima indra itu ditambah dengan pikiran Anda adalah input yang berharga bagi Anda untuk mengembangkan kebijaksanaan Anda.

Semoga semua makhluk memperoleh kesempatan untuk terlepas dari penderitaannya. Semoga semua makhluk berbahagia.

Share

affiliate_link

Categories