Menjadi seperti apakah diri saya sekarang ini, sedikit banyak dipengaruhi oleh orang-orang disekitar saya.
Mungkin bukan hanya saya yang dipengaruhi oleh mereka, mungkin saya juga sudah mempengaruhi hidup mereka.
Terkadang saya melihat bahwa hidup orang-orang disekitar saya, ada yang hidupnya baik dan ada yang hidupnya sengsara.
Saya melihat dan kemudian berpikir, apa yang baik bagi saya dan apa yang tidak baik bagi saya?
Apakah saya ingin menjadi seperti ini atau tidak ingin menjadi seperti itu? Semuanya didasarkan atas pandangan saya terhadap kehidupan orang lain.
Lalu seorang teman berkata, jadilah berbeda karena hanya itu yang membuat kamu ada.
Pernyataannya memang ada benarnya, namun saya tidak bisa percaya seutuhnya.
Pada awalnya saya selalu melihat apa yang dimiliki orang lain, dan saya memutuskan ingin memiliki hal itu juga. Seiring berjalannya waktu, saya sadar bahwa saya tidak boleh hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Maka saya memutuskan untuk menjadi orang yang berbeda.
Namun keinginan untuk berbeda itu terkadang berlebihan. Melakukan sesuatu yang selalu berbeda dengan yang dilakukan orang lain kadang bisa merepotkan diri sendiri dan orang lain.
Berkaca dari pengalaman itulah saya merasa sebagai manusia saya tidak boleh terikat pada hal-hal semacam itu. Saya hendaknya tidak selalu mengikuti trend jika itu tidak bagus, atau sebaliknya keluar dari trend hanya untuk menarik perhatian orang lain.
Tidak ada salahnya menjadi orang yang sederhana.
Justru terkadang bagi orang-orang tertentu lebih sulit berusaha menjadi orang yang sederhana daripada berusaha menjadi seseorang yang luar biasa.
Seorang karyawan yang telah bekerja lama di sebuah perusahaan dan belum memiliki jabatan tinggi, suatu kali sedang makan malam dengan ubi. Temannya yang hidup enak dan mewah karena menjilat atasannya kemudian berkata, "Kalau kamu mau belajar menjilat kepada atasan, kamu tidak perlu makan sampah seperti ubi itu".
"Kalau kamu sudah belajar hidup dengan makan ubi, kamu tidak perlu menjilat atasan", jawab temannya.
Keteguhan hati karyawan yang rela makan ubi daripada menjilat atasan patut dikagumi.
Jarang orang bisa memegang teguh kebenaran ketika ada godaan. Kata-kata yang enak terdengar untuk mempengaruhi orang lain nilainya pantas diragukan dan sering membawa hasil yang lebih buruk. Tidak mengatakan apa yang tidak benar adalah dasar dari perbuatan benar.
Seseorang yang sederhana dalam berbicara adalah mereka yang tidak banyak bicara. Ia hanya akan berbicara seperlunya. Ia menghindari kegemaran gosip dan omong kosong.
Bila kita suka menyebarkan gosip yang kita dengar dari orang lain, berarti kita membuang jasa dan kebajikan kita.
Ada sebuah syair yang berbunyi; "Banyak berkata banyak bahaya. Diam menjauhkan nasib buruk. Kakaktua bicara dalam sangkar dikurung. Burung burung tak bisa bicara terbang melayang bebas"
Sudah barang tentu jika seseorang banyak bicara, maka semakin besar pula resiko kesalahan yang dibuatnya.
Daripada banyak bicara yang tidak bermanfaat dan membuat orang marah atau benci, lebih baik sepatah kalimat yang bermanfaat dan memberikan kedamaian bagi pendengarnya. Inilah yang disebut kesederhanaan dalam berbicara.
Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda
Seorang pemuda yang bercita cita ingin menjadi orang besar berkunjung ke biara untuk meminta bantuan dari seorang guru terkenal. Ketika bertemu dengan guru tersebut, ia langsung bertanya, “Bagaimana saya dapat menjadi orang besar seperti guru?”
“Mengapa mau jadi orang besar? Menjadi orang itu sudah merupakan keberhasilan cukup besar“, jawab sang guru dengan santai. “Daripada mengeluh dan tidak puas dengan apa yang ada, lebih baik mensyukuri betapa beruntungnya Anda yang hari ini sehat dan masih hidup. Bukankah ini lebih berharga?” sang guru memberi jawaban lebih lanjut.
Jika kita menjalani hidup hanya untuk mengejar ketenaran dan keuntungan dalam hidup ini, berarti kita telah memutarbalikkan arti hidup. Orang bijak tidak akan mau menukarkan hidupnya dengan keuntungan sesaat. Kita mesti menyadari bahwa kemashyuran, status, dan kekayaan cenderung membesarkan ego. Sebagai akibatnya, kita dibawa menyimpang seperti pengembara yang tersesat dan tak bisa kembali. Ciri terbaik kebahagiaan saat ini dan yang akan datang adalah pelepasan dari semua keinginan.
Saat kita tidak menginginkan ketenaran, ketenaran itu terkadang malah datang.
Banyak orang berlomba menyombongkan diri dan merendahkan orang lain dengan memamerkan karya dan materi mereka. Orang bijaksana bersikap rendah hati dengan tidak merendahkan orang lain.
Buddha bersabda, “Kerendahan hati berarti kesederhanaan dalam sikap dan pikiran. Seseorang yang memiliki hal ini berarti telah menyingkirkan kesombongan dan tinggi hati, ia seperti kain pembersih kaki, banteng tak bertanduk, ular yang tak bertaring. Ia lemah lembut, ceria, dan mudah bergaul.”
Walaupun orang lain memiliki kekayaan dan popularitas, kita tidak perlu menjadi minder apalagi iri hati. Turut bergembira dan hidup bersahaja adalah hal yang dapat membawa kebahahagiaan terbesar bagi kita. Jangan pernah mengeluh kekurangan dan mencari reputasi. Hidup apa adanya, sederhana, dan merasa puas dengan yang dimiliki adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Seperti yang dikatakan J. Khrisnamurti, “Kesederhanaan tidak dapat ditemukan kecuali seseorang itu merdeka batinnya. Karenanya, kesederhanaan itu haruslah dimulai dari dalam batin, bukan dari kehidupan lahir.“
Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda
Seorang tua berusia 70 tahun dalam kesehariannya membuka toko onderdil. Usaha ini telah digelutinya sejak usia muda hingga sekarang. Satu kali teman bermain semasa mudanya mengunjungi dirinya. Mereka larut dalam pembicaraan mengenang peristiwa-peristiwa masa lalu dalam kebersamaan mereka. Sebagai penutup pembicaraan, temannya mulai bertanya, “Anda sudah memiliki lebih daripada yang Anda perlukan, sekarang usia kita sudah tidak muda lagi. Tidakkah Anda dapat berhenti setiap saat untuk menikmati sisa hidup ini?”
“Saya tidak tahu caranya untuk berhenti”, jawab orang tua tersebut.

Ada pepatah yang berbunyi demikian, “Semakin kita punya, semakin kita cari; semakin kita dambakan, semakin kita tidak puas.”
Hal ini dikarenakan seseorang selalu mengejar materi maka perasaan dan pikirannya juga sangat dipengaruhi oleh materi. Akibatnya, ia terperangkap dan sulit untuk melepaskan diri.
Read the rest of this entry »