<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; kesederhanaan</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/tag/kesederhanaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 09:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Sederhana dalam Bicara (20)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 06:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kesederhanaan]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang karyawan yang telah bekerja lama di sebuah perusahaan dan belum memiliki jabatan tinggi, suatu kali sedang makan malam dengan ubi. Temannya yang hidup enak dan mewah karena menjilat atasannya kemudian berkata, &#34;Kalau kamu mau belajar menjilat kepada atasan, kamu tidak perlu makan sampah seperti ubi itu&#34;. &#34;Kalau kamu sudah belajar hidup dengan makan ubi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Seorang karyawan yang telah bekerja lama di sebuah perusahaan dan belum memiliki jabatan tinggi, suatu kali sedang makan malam dengan ubi. Temannya yang hidup enak dan mewah karena menjilat atasannya kemudian berkata, &quot;Kalau kamu mau belajar menjilat kepada atasan, kamu tidak perlu makan sampah seperti ubi itu&quot;.    <br />&quot;Kalau kamu sudah belajar hidup dengan makan ubi, kamu tidak perlu menjilat atasan&quot;, jawab temannya.     <br />Keteguhan hati karyawan yang rela makan ubi daripada menjilat atasan patut dikagumi.     <br />Jarang orang bisa memegang teguh kebenaran ketika ada godaan. Kata-kata yang enak terdengar untuk mempengaruhi orang lain nilainya pantas diragukan dan sering membawa hasil yang lebih buruk. Tidak mengatakan apa yang tidak benar adalah dasar dari perbuatan benar. </p>
<p align="justify">Seseorang yang sederhana dalam berbicara adalah mereka yang tidak banyak bicara. Ia hanya akan berbicara seperlunya. Ia menghindari kegemaran gosip dan omong kosong.    <br />Bila kita suka menyebarkan gosip yang kita dengar dari orang lain, berarti kita membuang jasa dan kebajikan kita.     <br />Ada sebuah syair yang berbunyi; &quot;<em>Banyak berkata banyak bahaya. Diam menjauhkan nasib buruk. Kakaktua bicara dalam sangkar dikurung. Burung burung tak bisa bicara terbang melayang bebas</em>&quot;     <br />Sudah barang tentu jika seseorang banyak bicara, maka semakin besar pula resiko kesalahan yang dibuatnya.     <br />Daripada banyak bicara yang tidak bermanfaat dan membuat orang marah atau benci, lebih baik sepatah kalimat yang bermanfaat dan memberikan kedamaian bagi pendengarnya. Inilah yang disebut kesederhanaan dalam berbicara. </p>
<p align="justify"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Sederhana dalam Bertindak (19)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bertindak-19/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bertindak-19/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 00:01:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kesederhanaan]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>
		<category><![CDATA[puas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pemuda yang bercita cita ingin menjadi orang besar berkunjung ke biara untuk meminta bantuan dari seorang guru terkenal. Ketika bertemu dengan guru tersebut, ia langsung bertanya, &#8220;Bagaimana saya dapat menjadi orang besar seperti guru?&#8221; &#8220;Mengapa mau jadi orang besar? Menjadi orang itu sudah merupakan keberhasilan cukup besar&#8220;, jawab sang guru dengan santai. &#8220;Daripada mengeluh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seorang pemuda yang bercita cita ingin menjadi orang besar berkunjung ke biara untuk meminta bantuan dari seorang guru terkenal. Ketika bertemu dengan guru tersebut, ia langsung bertanya, &#8220;<em>Bagaimana saya dapat menjadi orang besar seperti guru?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Mengapa mau jadi orang besar? Menjadi orang itu sudah merupakan keberhasilan cukup besar</em>&#8220;, jawab sang guru dengan santai. &#8220;<em>Daripada mengeluh dan tidak puas dengan apa yang ada, lebih baik mensyukuri betapa beruntungnya Anda yang hari ini sehat dan masih hidup. Bukankah ini lebih berharga?</em>&#8221; sang guru memberi jawaban lebih lanjut.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita menjalani hidup hanya untuk mengejar ketenaran dan keuntungan dalam hidup ini, berarti kita telah memutarbalikkan arti hidup. Orang bijak tidak akan mau menukarkan hidupnya dengan keuntungan sesaat. Kita mesti menyadari bahwa kemashyuran, status, dan kekayaan cenderung membesarkan ego. Sebagai akibatnya, kita dibawa menyimpang seperti pengembara yang tersesat dan tak bisa kembali. Ciri terbaik kebahagiaan saat ini dan yang akan datang adalah pelepasan dari semua keinginan.<br />
Saat kita tidak menginginkan ketenaran, ketenaran itu terkadang malah datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang berlomba menyombongkan diri dan merendahkan orang lain dengan memamerkan karya dan materi mereka. Orang bijaksana bersikap rendah hati dengan tidak merendahkan orang lain.<br />
Buddha bersabda, &#8220;<em>Kerendahan hati berarti kesederhanaan dalam sikap dan pikiran. Seseorang yang memiliki hal ini berarti telah menyingkirkan kesombongan dan tinggi hati, ia seperti kain pembersih kaki, banteng tak bertanduk, ular yang tak bertaring. Ia lemah lembut, ceria, dan mudah bergaul.</em>&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun orang lain memiliki kekayaan dan popularitas, kita tidak perlu menjadi minder apalagi iri hati. Turut bergembira dan hidup bersahaja adalah hal yang dapat membawa kebahahagiaan terbesar bagi kita. Jangan pernah mengeluh kekurangan dan mencari reputasi. Hidup apa adanya, sederhana, dan merasa puas dengan yang dimiliki adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Seperti yang dikatakan J. Khrisnamurti, &#8220;<em>Kesederhanaan tidak dapat ditemukan kecuali seseorang itu merdeka batinnya. Karenanya, kesederhanaan itu haruslah dimulai dari dalam batin, bukan dari kehidupan lahir.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bertindak-19/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Kesederhanaan &#8211; Mencari Kekayaan (16)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/10/nuansa-hidup-kesederhanaan-mencari-kekayaan-16/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/10/nuansa-hidup-kesederhanaan-mencari-kekayaan-16/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 09:52:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[kesederhanaan]]></category>
		<category><![CDATA[keserakahan]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Seorang tua berusia 70 tahun dalam kesehariannya membuka toko onderdil. Usaha ini telah digelutinya sejak usia muda hingga sekarang. Satu kali teman bermain semasa mudanya mengunjungi dirinya. Mereka larut dalam pembicaraan mengenang peristiwa-peristiwa masa lalu dalam kebersamaan mereka. Sebagai penutup pembicaraan, temannya mulai bertanya, &#8220;Anda sudah memiliki lebih daripada yang Anda perlukan, sekarang usia kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seorang tua berusia 70 tahun dalam kesehariannya membuka toko onderdil. Usaha ini telah digelutinya sejak usia muda hingga sekarang. Satu kali teman bermain semasa mudanya mengunjungi dirinya. Mereka larut dalam pembicaraan mengenang peristiwa-peristiwa masa lalu dalam kebersamaan mereka. Sebagai penutup pembicaraan, temannya mulai bertanya, &#8220;Anda sudah memiliki lebih daripada yang Anda perlukan, sekarang usia kita sudah tidak muda lagi. Tidakkah Anda dapat berhenti setiap saat untuk menikmati sisa hidup ini?&#8221;<br />
&#8220;Saya tidak tahu caranya untuk berhenti&#8221;, jawab orang tua tersebut.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="pegunungan" src="http://i531.photobucket.com/albums/dd356/budhis/stock_Photos/5452750_blog.jpg" alt="" width="400" height="267" /></p>
<p style="text-align: justify;">Ada pepatah yang berbunyi demikian, &#8220;<span style="color: #339966;"><em><strong>Semakin kita punya, semakin kita cari; semakin kita dambakan, semakin kita tidak puas.</strong></em></span>&#8221;<br />
Hal ini dikarenakan seseorang selalu mengejar materi maka perasaan dan pikirannya juga sangat dipengaruhi oleh materi. Akibatnya, ia terperangkap dan sulit untuk melepaskan diri.<br />
<span id="more-315"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #339966;"><strong>Keserakahan Berarti Kemiskinan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dulu mungkin Anda pernah berpikir bahwa jika Anda memiliki uang seratus juta, sudah cukup bagi Anda untuk berpenghidupan yang layak.<br />
Sekarang mungkin Anda telah memiliki lebih dari itu, tapi Anda tetap merasa tidak cukup. Sebenarnya apa yang terjadi? Ternyata keinginan Anda juga ikut bertambah!<br />
Dunia ini berkecukupan untuk setiap kebutuhan manusia, namun tidak akan pernah cukup bagi keserakahan kita.<br />
Orang serakah tidak akan pernah benar-benar menikmati kekayaannya. Dalam mencari, kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah kita dapatkan. Adalah baik jika kita memiliki kemampuan untuk menikmati hidup seutuhnya daripada sekedar memupuk materi. Kita harus menyadari bahwa menjadi kaya atau miskin tidak karena uang tetapi karena kemampuan kita untuk bergembira.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pernah mengamati seorang pengemudi becak.<br />
Kita tahu, menarik becak paling memperoleh penghasilan cukup untuk makan hari itu. Tapi saya tidak melihat ia merasa tertekan akan kondisinya yang pas-pasan itu. Ia tetap bisa tertawa dan bergembira bersama keluarganya. Bahkan istri dan anak-anaknya dapat menerima keadaan tersebut dengan penuh rasa syukur yang mendalam.<br />
Lain sekali dengan pengusaha yang memiliki kekayaan jauh lebih besar dari pengemudi becak tersebut, namun tampak lebih tertekan hidupnya dibandingkan pengemudi becak. Saya kemudian bertanya-tanya pada diri sendiri, apa yang salah dari itu semua? Bukankah menurut orang-orang memiliki kekayaan merupakan faktor kebahagiaan?</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebuah pepatah yang mengatakan, &#8220;<span style="color: #339966;"><strong><em>Berjuang mengumpulkan materi dan tidak mampu bergembira sama dengan sendok yang berada di dalam sup, tapi tidak tahu rasa sup</em></strong></span>&#8220;.<br />
Kalau kita menganggap kebahagiaan hanya datang dari materi, kita tentu akan terperangkap dan dihanyutkan oleh materi itu. Kita akan terikat oleh pikiran serakah dan kikir. Karenanya, bagi mereka yang menginginkan kebahagiaan harus menghindari ketamakan. Sebab ketamakan berarti kemiskinan. Orang tidak pernah tahu rasa cukup dan bersyukur adalah orang miskin yang sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/10/nuansa-hidup-kesederhanaan-mencari-kekayaan-16/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
