Buddha bersabda, O, Athula. Bukan hanya sekarang mereka mencela orang yang banyak bicara. Mereka juga mencela orang yang sedikit bicara. Begitu juga mereka mencela orang yang tidak bicara. Di dunia ini tidak ada seorang pun yang tidak dicela.
Kita harus menahan ego dan tidak menghujani orang yang mengkritik kita dengan kebencian. Jangan menganggap musuh pada orang yang tidak sependapat dengan kita. Kritikan dapat membawa kemajuan. Kita tidak hanya belajar dari teman, namun juga dari mereka yang mengkritik kita.
Mereka mungkin benar. Jika kita tidak mendengarkan apa yang mereka katakan, kita mungkin melepaskan kesempatan untuk belajar. Jadilah seperti seekor gajah di medan perang, bertahan terhadap rasa sakit karena anak panah. Kita juga bisa menahan celaan dari orang lain dan mencapai kedamaian dengan kesabaran.
Pada suatu kesempatan, Buddha diundang oleh seorang brahmana untuk menerima persembahan makanan di rumahnya. Bersama dengan rombongan para bhikkhu, Buddha mengunjungi rumah brahmana tersebut. Setibanya di tempat tujuan, brahmana tersebut bukannya mempersembahkan makanan kepada Buddha dan para bhikkhu, ia malah mencaci maki Buddha dengan kata-kata kasar.
Dengan tenang Buddha bertanya kepada brahmana tersebut, Apakah tamu-tamu mengunjungi rumahmu O brahmana?
Ya, jawab brahmana.
Apa yang engkau lakukan ketika para tamu hadir?
Saya akan menyiapkan jamuan yang istimewa.
Jika mereka tidak makan, apa yang engkau lakukan atas hidangan yang telah disiapkan?
Wah, dengan senang hati saya akan makan sendiri hidangan tersebut.
Demikianlah O brahmana, engkau telah mengundang Bhagava dan engkau telah menjamu Bhagava dengan caci maki. Bhagava tidak menerimanya. Semua itu akan kembali kepadamu.
Buddha mengatakan Jika seseorang mencaci maki seorang suci dengan kata-kata yang tidak pantas, maka semua keburukan itu akan kembali kepadanya. Ini bagaikan melempar debu berlawanan dengan angin dan debu tersebut akan mengenai wajahnya sendiri. Atau bagaikan seseorang yang meludah keatas dan ludah tersebut akan jatuh mengenai wajahnya sendiri.
Ada sebuah syair yang berbunyi, Bunga yang mekar siap menerima embun yang jatuh dengan lembut dan tahan dengan hujan yang deras. Sama halnya ketika kita ditegur dengan cara yang halus atau keras, kita mesti tegar.
Orang yang mau mendengar kritikan dan memperbaiki kesalahan adalah seorang satria yang memiliki kebesaran jiwa untuk kemajuan dirinya dan yang lain.
Seperti Yang Mulia Dalai Lama katakan, Dari pengalaman saya sendiri, masa yang paling sulit dalam hidup ini merupakan masa yang paling menghasilkan pengetahuan dan pengalaman.” Jika Anda hanya menjalani segala sesuatunya dengan mudah, Anda akan merasa Semuanya baik baik saja. Hingga pada suatu hari ketika Anda menghadapi masalah, Anda merasa tertekan dan tidak berdaya. Melalui masa masa sulit Anda dapat belajar, dapat mengembangkan kekuatan di dalam diri, pengendalian diri, dan keberanian untuk menghadapi masalah. Siapa yang memberimu kesempatan seperti ini? Musuhmu.
Untuk mengembangkan benih belas kasih, kita mesti memiliki toleransi dan kesabaran. Dalam rangka melatih toleransi ini, musuh kita adalah guru terbaik. Karena musuh dapat mengajarkan kita toleransi, yang tidak dapat diajarkan oleh guru dan orangtua kita. Jadi untuk melatih toleransi, seorang musuh sungguh sangat menolong mereka adalah kawan dan guru yang terbaik.
Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda