Jun 18, 2010 Comments Off
Nuansa Hidup – Memberi berarti juga menerima (23)
Buddha bersabda, “Seandainya semua makhluk mengerti seperti Aku (Tathagata) mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati apa yang mereka miliki tanpa membaginya pada orang lain. Ia tidak memberikan noda kekikiran berkembang pada dirinya.”
Jelas sekali bahwa seorang yang suka memberi pasti akan menerima buah dari kemurahan hatinya.
Buddha telah mengerti manfaat dari memberi, sehingga Belia menganjurkan kepada kita agar jangan ragu dalam memberi. Banyak diantara kita masih berpikir bahwa memberi berarti berkurang. Cara berpikir seperti ini menunjukkan kurangnya pemahaman kita terhadap hukum karma. Siapa yang menabur benih, dia yang akan memetik hasilnya.
Karenanya berikanlah dana pada mereka yang membutuhkan. Kebajikanmu akan memberikan kebahagiaan, tidak peduli apakah engkau memintanya atau tidak.
Seorang Boddhisatva bernama Sumedha, suatu kali di keheningan malam menyadari kehampaan dunia yang indah ini. Ia berkata, “Aku kehilangan dengan apa yang kusimpan, namun aku memperoleh dengan apa yang kuberikan. Memberi adalah menyebar benih yang akan membuahkan hasil.”
Keesokan harinya, ia mendermakan semua kekayaannya bagi para miskin, sambil mengucapkan pernyataan perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Inilah salah satu praktek kesempurnaan kemurahan hati dari seorang boddhisatva yang tidak lagi melekat pada kekikiran dan mementingkan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa tidaklah mungkin membantu orang lain tanpa membantu diri sendiri, atau merugikan orang lain tanpa merugikan diri sendiri. Memberi berarti juga akan menerima.
Suatu hari seorang guru zen mendatangi rumah seorang saudagar kaya yang terkenal dengan kekikirannya. Setibanya di rumah saudagar tersebut, sang guru memberi sebuah teka-teki (koan). “Bagaimana menurutmu jika tangan selalu terbuka?” tanya sang guru.
“haha..Itu berarti tangan yang tidak berguna“, jawab saudagar tersebut.
“Kalau tangan yang selalu tertutup?“, tanya guru lagi.
“Itu juga tidak berguna“, jawabnya dengan mantap.
“Bagus. Tangan yang selalu terbuka atau tertutup adalah tangan yang mati. Burung yang tidak dapat membuka dan menutup sayapnya, tidak akan pernah dapat terbang. Jika engkau mengerti dan menjalani hidup sesuai dengan pengertian tersebut, maka engkau akan menjadi orang makmur yang sebenarnya. Renungkan itu.“, kata sang guru sambil berlalu.
Setelah mendengar Dharma dari guru, saudagar tersebut mengerti bahwa kekikiran dan pemborosan adalah dua hal yang tidak berguna. Esok harinya ia membagikan beras kepada orang-orang yang tidak mampu. Sang guru setelah mengetahui hal ini berkata, “Ia sedang membuat jalan ke surga.”
Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda