Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Nuansa Hidup – Ketidakkekalan (26)

Untuk benar-benar mempraktekkan Dharma, yang terpenting adalah merenungi ketidakkekalan. Merenungi kepastian datangnya kematian akan mendorongmu untuk melakukan perbuatan baik.

Ketika berusia 14 tahun, saya kehilangan seorang teman bermain yang meninggal karena sakit. Pada saat itu, saya hampir tak percaya dan sulit menerima kenyataan ini. Perasaan kehilangan dan takut menyelimuti saya. Saya sempat berpikir kenapa setiap orang harus mati? Kalaupun harus mati, kenapa mati di usia muda? Kenapa harus dilahirkan untuk mati? Kenapa kelahiran disambut dengan tawa dan bahagia sementara kematian disambut dengan tangisan? Hahhh… Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul pada diri saya berkenaan dengan kematian teman saya. Inilah kilas balik yang akhirnya membuat saya berpikir tentang tujuan hidup. Dunia ini dalam satu menit telah terjadi begitu banyak kelahiran dan kematian. Kehidupan sungguh tidak pasti, namun kematian adalah pasti. Hidup bagaikan salju, panas matahari akan mencairkannya.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Saat tepat untuk peduli (25)

Buddha bersabda, “Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijakRead the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Bahagia dalam Pelayanan (24)

Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tapi ukuran sejati adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.

Seorang dokter tetap melayani pasien saat ia mengetahui anaknya baru meninggal. Ia berkata, “Saya tidak bisa berbuat apa apa soal itu. Tapi saya bisa berbuat sesuatu untuk pasien yang sedang sakit”.

Orang yang benar-benar bahagia adalah mereka yang telah mencari dan menemukan jalan untuk melayani. Mereka mengerti bahwa tidak mungkin berbuat yang terbaik baginya tanpa memberikan yang terbaik bagi yang lain.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Memberi berarti juga menerima (23)

Buddha bersabda, “Seandainya semua makhluk mengerti seperti Aku (Tathagata) mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati apa yang mereka miliki tanpa membaginya pada orang lain. Ia tidak memberikan noda kekikiran berkembang pada dirinya.
Jelas sekali bahwa seorang yang suka memberi pasti akan menerima buah dari kemurahan hatinya.
Buddha telah mengerti manfaat dari memberi, sehingga Belia menganjurkan kepada kita agar jangan ragu dalam memberi. Banyak diantara kita masih berpikir bahwa memberi berarti berkurang. Cara berpikir seperti ini menunjukkan kurangnya pemahaman kita terhadap hukum karma. Siapa yang menabur benih, dia yang akan memetik hasilnya.
Karenanya berikanlah dana pada mereka yang membutuhkan. Kebajikanmu akan memberikan kebahagiaan, tidak peduli apakah engkau memintanya atau tidak.

Seorang Boddhisatva bernama Sumedha, suatu kali di keheningan malam menyadari kehampaan dunia yang indah ini. Ia berkata, “Aku kehilangan dengan apa yang kusimpan, namun aku memperoleh dengan apa yang kuberikan. Memberi adalah menyebar benih yang akan membuahkan hasil.
Keesokan harinya, ia mendermakan semua kekayaannya bagi para miskin, sambil mengucapkan pernyataan perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Inilah salah satu praktek kesempurnaan kemurahan hati dari seorang boddhisatva yang tidak lagi melekat pada kekikiran dan mementingkan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa tidaklah mungkin membantu orang lain tanpa membantu diri sendiri, atau merugikan orang lain tanpa merugikan diri sendiri. Memberi berarti juga akan menerima.

Suatu hari seorang guru zen mendatangi rumah seorang saudagar kaya yang terkenal dengan kekikirannya. Setibanya di rumah saudagar tersebut, sang guru memberi sebuah teka-teki (koan). “Bagaimana menurutmu jika tangan selalu terbuka?” tanya sang guru.
haha..Itu berarti tangan yang tidak berguna“, jawab saudagar tersebut.
Kalau tangan yang selalu tertutup?“, tanya guru lagi.
Itu juga tidak berguna“, jawabnya dengan mantap.
Bagus. Tangan yang selalu terbuka atau tertutup adalah tangan yang mati. Burung yang tidak dapat membuka dan menutup sayapnya, tidak akan pernah dapat terbang. Jika engkau mengerti dan menjalani hidup sesuai dengan pengertian tersebut, maka engkau akan menjadi orang makmur yang sebenarnya. Renungkan itu.“, kata sang guru sambil berlalu.
Setelah mendengar Dharma dari guru, saudagar tersebut mengerti bahwa kekikiran dan pemborosan adalah dua hal yang tidak berguna. Esok harinya ia membagikan beras kepada orang-orang yang tidak mampu. Sang guru setelah mengetahui hal ini berkata, “Ia sedang membuat jalan ke surga.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Kekikiran, Iri Hati dan Keserakahan Sebagai Penghalang (22)

Ada seorang pengemis datang ke sebuah rumah untuk meminta sesuatu. Tuan rumah keluar dan berkata, "Maaf, tak ada seorang pun disini".
"Aku tak ingin siapapun", kata pengemis, "Aku cuma ingin makanan".

Inilah salah satu contoh kisah yang menunjukkan kekikiran. Buddha suatu kali berkata, "Bagi mereka yang kikir, tidak akan mungkin dilahirkan di alam dewa."
Seseorang yang menikmati buah karma baik masa lalu dan sekarang tidak bermurah hati, ia seperti orang yang hidup dari tabungannya di bank. Terus menerus menarik uang tabungan tanpa menambahnya.

Kita mesti memahami bahwa kelimpahan adalah mencari si miskin. Bagaikan kecantikan mencari cermin. Maka para miskin adalah cermin kemurahan hati kita. Yang dermawan membuka jalan bahagia bagi dirinya.

Buddha mengatakan, "sesungguhnya, siapapun yang menghalang-halangi orang lain berdana akan melakukan tiga kesalahan. Apakah tiga kesalahan itu?
Ia menghalangi pemberi dana untuk mendapatkan kebaikan, ia menghalangi penerima dana untuk mendapatkan persembahan, dan ia telah merusak dirinya sendiri dengan kekejiannya."
Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan dan menurut ketulusan mereka. Karena itu barang siapa yang iri terhadap keberuntungan orang lain, tidak akan memperoleh kedamaian sepanjang hari.

Praktek berdana akan membantu usaha kita untuk memurnikan pikiran. Keserakahan dan kekikiran dapat dikikis. Kebahagiaan dan berkecukupan adalah hasil dari berdana. Kita mesti mengingat sebuah syair yang berbunyi: Iri hati melenyapkan perbuatan baik, seperti api membakar kayu. Kemurahan hati menghancurkan permusuhan, seperti air menyiram api.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Dasarnya adalah Kasih (21)

Dalam perjalanan ke daerah, suatu kali saya melihat seorang tua innocent yang menjajakan pisang dagangannya di terik matahari. Usia ibu ini kira kira 65 tahun. Entah mengapa ketika saya melihat raut wajah ibu tersebut, ada rasa ingin membuatnya bahagia. Padahal ia bukanlah seorang peminta-minta, ia adalah seorang yang memikul pisang sebagai dagangannya. Saya yakin Anda juga pernah mengalami perasaan demikian tatkala Anda berjumpa dengan seseorang yang belum Anda kenal dan timbul perasaan mengharapkan ia bahagia.
Dapatkah kita katakan bahwa perasaan seperti ini adalah perasaan kasih?
Seperti yang Buddha katakan bahwa setiap orang memiliki benih kasih di dalam dirinya, tinggal apakah seseorang itu mengembangkan kasih yang telah ada dalam dirinya atau tidak.

Walaupun saat itu saya tidak berencana membeli pisang, dikarenakan perasaan demikian, akhirnya saya membeli pisang tersebut sebagai ungkapan kepedulian saya kepada ibu tersebut.
Yang membuat saya kagum lagi adalah reaksi rasa syukur dan berterima kasihnya yang sangat mendalam hingga terpancar di wajahnya. Inikah tipe orang yang merasa puas dan berterima kasih atas apa yang telah diperolehnya meskipun hanya cukup untuk makan satu hari?
Ibu ini bahkan telah membuat saya menyadari betapa kasih dapat memberikan kebahagiaan besar bagi orang lain. Saya hanya memberi kebahagiaan kecil padanya, tapi ia telah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga bagi saya. Ia telah memberikan sesuatu yang besar pada saya.

Peristiwa ini bagaikan air penyejuk bagi perjalanan saya di siang hari yang panas. Senyuman dan kegembiraannya menjadi penghibur bagi saya dalam meneruskan perjalanan. Setibanya saya pada tujuan, pisang yang telah dibeli dari ibu tersebut saya berikan kepada keluarga yang menjaga vihara. Mereka menerimanya dengan gembira dan berterima kasih atas pemberian tersebut.
Bayangkan berapa banyak orang yang dibahagiakan jika kita memberi perhatian pada mereka.
Ibu Teresa berkata, “Sebenarnya dalam memberi, bukan berapa banyak yang dapat kita berikan, tapi berapa besar kasih yang menyertai pemberian itu.“.
Pemberian seperti inilah yang saya percaya dapat memberikan kebahagiaan besar dan bermakna bagi yang menerima daripada pemberian tanpa disertai kasih.

Dalam keheningan malam, saya merenungi betapa indahnya kebersamaan bila diliputi dengan kasih. Hari ini saya mempelajari sesuatu yang bernilai dari seorang ibu yang menjajakan pisang.
Sebenarnya hidup adalah untuk memberi. Mereka yang tidak dapat memberi, sebenarnya tidak hidup.
Berikanlah apa saja yang kita punyai. Pengetahuan kita, materi, semangat, kasih sayang, nasehat dan sebuah senyuman. Saya teringat apa yang dikatakan Ibu Teresa, “Semua yang kau berikan kepada orang lain adalah pemberian untuk dirimu sendiri. Kasih menyembuhkan semua orang, baik yang menerimanya maupun yang memberikannya“.

Bila kita ingin bahagia, berikan kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan yang kita berikan akan kembali kepada kita. Karenanya, setiap hari setidaknya lakukanlah kebaikan.

Share

Nuansa Hidup – Sederhana dalam Bicara (20)

Seorang karyawan yang telah bekerja lama di sebuah perusahaan dan belum memiliki jabatan tinggi, suatu kali sedang makan malam dengan ubi. Temannya yang hidup enak dan mewah karena menjilat atasannya kemudian berkata, "Kalau kamu mau belajar menjilat kepada atasan, kamu tidak perlu makan sampah seperti ubi itu".
"Kalau kamu sudah belajar hidup dengan makan ubi, kamu tidak perlu menjilat atasan", jawab temannya.
Keteguhan hati karyawan yang rela makan ubi daripada menjilat atasan patut dikagumi.
Jarang orang bisa memegang teguh kebenaran ketika ada godaan. Kata-kata yang enak terdengar untuk mempengaruhi orang lain nilainya pantas diragukan dan sering membawa hasil yang lebih buruk. Tidak mengatakan apa yang tidak benar adalah dasar dari perbuatan benar.

Seseorang yang sederhana dalam berbicara adalah mereka yang tidak banyak bicara. Ia hanya akan berbicara seperlunya. Ia menghindari kegemaran gosip dan omong kosong.
Bila kita suka menyebarkan gosip yang kita dengar dari orang lain, berarti kita membuang jasa dan kebajikan kita.
Ada sebuah syair yang berbunyi; "Banyak berkata banyak bahaya. Diam menjauhkan nasib buruk. Kakaktua bicara dalam sangkar dikurung. Burung burung tak bisa bicara terbang melayang bebas"
Sudah barang tentu jika seseorang banyak bicara, maka semakin besar pula resiko kesalahan yang dibuatnya.
Daripada banyak bicara yang tidak bermanfaat dan membuat orang marah atau benci, lebih baik sepatah kalimat yang bermanfaat dan memberikan kedamaian bagi pendengarnya. Inilah yang disebut kesederhanaan dalam berbicara.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Sederhana dalam Bertindak (19)

Seorang pemuda yang bercita cita ingin menjadi orang besar berkunjung ke biara untuk meminta bantuan dari seorang guru terkenal. Ketika bertemu dengan guru tersebut, ia langsung bertanya, “Bagaimana saya dapat menjadi orang besar seperti guru?
Mengapa mau jadi orang besar? Menjadi orang itu sudah merupakan keberhasilan cukup besar“, jawab sang guru dengan santai. “Daripada mengeluh dan tidak puas dengan apa yang ada, lebih baik mensyukuri betapa beruntungnya Anda yang hari ini sehat dan masih hidup. Bukankah ini lebih berharga?” sang guru memberi jawaban lebih lanjut.

Jika kita menjalani hidup hanya untuk mengejar ketenaran dan keuntungan dalam hidup ini, berarti kita telah memutarbalikkan arti hidup. Orang bijak tidak akan mau menukarkan hidupnya dengan keuntungan sesaat. Kita mesti menyadari bahwa kemashyuran, status, dan kekayaan cenderung membesarkan ego. Sebagai akibatnya, kita dibawa menyimpang seperti pengembara yang tersesat dan tak bisa kembali. Ciri terbaik kebahagiaan saat ini dan yang akan datang adalah pelepasan dari semua keinginan.
Saat kita tidak menginginkan ketenaran, ketenaran itu terkadang malah datang.

Banyak orang berlomba menyombongkan diri dan merendahkan orang lain dengan memamerkan karya dan materi mereka. Orang bijaksana bersikap rendah hati dengan tidak merendahkan orang lain.
Buddha bersabda, “Kerendahan hati berarti kesederhanaan dalam sikap dan pikiran. Seseorang yang memiliki hal ini berarti telah menyingkirkan kesombongan dan tinggi hati, ia seperti kain pembersih kaki, banteng tak bertanduk, ular yang tak bertaring. Ia lemah lembut, ceria, dan mudah bergaul.

Walaupun orang lain memiliki kekayaan dan popularitas, kita tidak perlu menjadi minder apalagi iri hati. Turut bergembira dan hidup bersahaja adalah hal yang dapat membawa kebahahagiaan terbesar bagi kita. Jangan pernah mengeluh kekurangan dan mencari reputasi. Hidup apa adanya, sederhana, dan merasa puas dengan yang dimiliki adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Seperti yang dikatakan J. Khrisnamurti, “Kesederhanaan tidak dapat ditemukan kecuali seseorang itu merdeka batinnya. Karenanya, kesederhanaan itu haruslah dimulai dari dalam batin, bukan dari kehidupan lahir.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Rasa Puas dan Tahu Cukup (18)

Seorang saudagar kaya di suatu pagi berjalan menghirup udara segar di tepi pantai. Pada waktu itu ia terus mengamati seorang nelayan yang sedang asyik merokok sambil tiduran di kapalnya.
Kemudian ia mendekati nelayan itu dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?”
“Saya baru saja selesai menangkap ikan dan hasilnya sudah saya jual cukup untuk makan hari ini”, jawab nelayan itu.
“Hari masih pagi, mengapa engkau tidak melanjutkan menangkap ikan?” tanya saudagar itu lebih lanjut.
“Untuk apa?” tanya balik sang nelayan.
“Dengan begitu, engkau bisa memperoleh penghasilan lebih untuk mengembangkan usahamu dan kelak engkau dapat menikmati ketenangan dan kenyamanan hidup”, jawab sang saudagar.
“Lalu menurut Anda sekarang saya sedang apa?” jawab nelayan itu.

Kalau kita menyimak kisah nelayan tersebut diatas, kita dapat mempelajari makna yang terkandung didalamnya. Untuk menikmati hidup, tidaklah perlu menunggu menjadi kaya terlebih dahulu. Banyak hal yang selalu diukur dengan materi sehingga kita menganggap materi sebagai tujuan kebahagiaan. Pola hidup dan cara pandang seperti itu hanya akan menimbulkan kekhawatiran dan kegelisahan.
Apa yang membuat hati kita puas biasanya tidak bisa dibeli dengan uang. Hanya hati yang lega yang bisa merasakan kepuasan.
Uang cuma bisa membeli lebih banyak nafsu. Kita harus memahami bahwa kekayaan tidak diukur dari seberapa banyak harta seseorang, tetapi dari apakah ia merasa cukup.
Ada sebuah ungkapan yang perlu kita renungkan, “Aku mengeluh tidak punya sepatu hingga bertemu dengan orang yang tak punya kaki”.
Kita mesti menyadari banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dari kita. Maka bersyukurlah.

Jika Anda ingin menghindari penderitaan, Anda harus merasa puas. Rasa puas adalah dasar dari pencapaian ketenangan dan kedamaian hati.
Seseorang yang penuh dengan rasa puas, walaupun ia berbaring diatas tanah, tetap juga berada dalam keadaan tenang dan bahagia.
Ia yang tidak merasa puas, walaupun ia kaya, tetap juga disebut miskin!
Ia yang merasa puas, walaupun ia miskin, dapat dikatakan orang kaya yang sebenarnya. Orang yang tidak pernah puas terikat oleh bermacam-macam keinginan dan karenanya sering dikasihani oleh orang yang puas. Inilah makna dari rasa puas.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Uang Tidak Dapat Membeli Kebahagiaan (17)

Ada kisah seorang yang bekerja sebagai pengayam keranjang. Ia adalah orang sederhana yang menikmati pekerjaannya sebagai pengayam keranjang. Ia bersiul dan bernyanyi selagi mengerjakan pekerjaannya dan menjalani hari harinya dengan gembira dan bahagia.
Di malam hari ia beristirahat di dalam pondoknya yang kecil dan tidur nyenyak.

Suatu hari ada orang kaya yang lewat di depan pondoknya dan melihat pengayam keranjang yang miskin tersebut. Ia merasa kasihan pada orang ini dan memberinya 1000 dolar.
“Ambillah ini, dan nikmatilah hidup Anda”, katanya.

Pengayam keranjang mengambil uang tersebut dengan sangat berterima kasih. Ia tidak pernah melihat uang sebanyak itu selama hidupnya. Ia membawa ke dalam pondoknya yang reyot dan bingung hendak menyimpannya di mana. Tetapi gubuknya tidaklah aman. Sepanjang malam itu ia tidak dapat tidur nyenyak karena kuatir dengan perampok, atau bahkan tikus yang dapat mengerogoti lembaran uang kertas tersebut.

Hari berikutnya ia membawa uang itu ke tempat kerjanya, tetapi ia tidak lagi bersiul dan bernyanyi karena ia terlalu kuatir dengan uangnya. Malam berikutnya ia kembali tidak dapat tidur dengan nyenyak, dan di pagi harinya uang tersebut ia kembalikan kepada pemiliknya dan berkata, “Kembalikan kebahagiaan saya”.

Ajaran Buddha tidak menentang seseorang untuk mengembangkan kekayaan atau giat dalam berusaha mengumpulkan materi. Buddha bahkan menganjurkan bagi perumah tangga untuk menggunakan kepandaian yang dimiliki dengan bijaksana untuk mendapatkan penghasilan dengan cara yang sah dan jujur.
Yang menjadi pokok penyampaian disini adalah untuk bersikap puas dengan apa yang telah dimiliki dan tidak menjadi budak dari keserakahan kita.

Uang bagaikan api. Jika api digunakan secara tepat dan benar, maka akan membawa manfaat besar bagi diri kita dan yang lain. Jika digunakan secara keliru, maka akan membawa penderitaan bagi kita dan yang lain.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda.

Share