<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; nuansa hidup</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/tag/nuansa-hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 18:12:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Ketidakkekalan (26)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-ketidakkekalan-26/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-ketidakkekalan-26/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 13:27:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[ketidakkekalan]]></category>
		<category><![CDATA[lahir]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=458</guid>
		<description><![CDATA[Untuk benar-benar mempraktekkan Dharma, yang terpenting adalah merenungi ketidakkekalan. Merenungi kepastian datangnya kematian akan mendorongmu untuk melakukan perbuatan baik. Ketika berusia 14 tahun, saya kehilangan seorang teman bermain yang meninggal karena sakit. Pada saat itu, saya hampir tak percaya dan sulit menerima kenyataan ini. Perasaan kehilangan dan takut menyelimuti saya. Saya sempat berpikir kenapa setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Untuk benar-benar mempraktekkan Dharma, yang terpenting adalah merenungi ketidakkekalan. Merenungi kepastian datangnya kematian akan mendorongmu untuk melakukan perbuatan baik.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika berusia 14 tahun, saya kehilangan seorang teman bermain yang meninggal karena sakit. Pada saat itu, saya hampir tak percaya dan sulit menerima kenyataan ini. Perasaan kehilangan dan takut menyelimuti saya. Saya sempat berpikir kenapa setiap orang harus mati? Kalaupun harus mati, kenapa mati di usia muda? Kenapa harus dilahirkan untuk mati? Kenapa kelahiran disambut dengan tawa dan bahagia sementara kematian disambut dengan tangisan? Hahhh&#8230; Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul pada diri saya berkenaan dengan kematian teman saya. Inilah kilas balik yang akhirnya membuat saya berpikir tentang tujuan hidup. Dunia ini dalam satu menit telah terjadi begitu banyak kelahiran dan kematian. Kehidupan sungguh tidak pasti, namun kematian adalah pasti. Hidup bagaikan salju, panas matahari akan mencairkannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F06%2Fnuansa-hidup-ketidakkekalan-26%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Ketidakkekalan%20%2826%29" id="wpa2a_2"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-ketidakkekalan-26/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Saat tepat untuk peduli (25)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 02:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[dana]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Buddha bersabda, &#8220;Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijak&#8220; 1. Berdana kepada orang yang baru saja tiba Ketika seseorang bertamu ke rumah, hendaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Buddha bersabda, &#8220;<em>Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijak</em>&#8220;<span id="more-450"></span></p>
<p style="text-align: justify;">1. Berdana kepada orang yang baru saja tiba<br />
Ketika seseorang bertamu ke rumah, hendaknya tuan rumah mempersilahkan dengan ramah dan menghidangkan jamuan bagi sang tamu. Ini disebut sebagai waktu yang tepat karena pada saat itu sang tamu membutuhkan kenyamanan dan keramahan. Sebuah sambutan yang hangat merupakan pelepas lelah bagi sang tamu. Ibu Teresa mengatakan, &#8220;Begitu banyak penderitaan fisik yang dialami oleh manusia, seperti terserang penyakit, kelaparan dan cuaca panas. Tetapi diantara semua penderitaan, saya percaya bahwa dikucilkan dan merasa kesepian adalah penderitaan yang paling berat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">2. Berdana kepada orang yang akan bepergian<br />
Jika seseorang melakukan perbuatan baik, hendaknya dituntaskan dari awal hingga akhir. Adalah sangat baik bila kita membekali atau memberikan oleh-oleh kepada orang yang akan bepergian. Ini menunjukkan kepedulian dan keramahan. Semua orang akan senang bila memperoleh perhatian dari orang lain. Seseorang yang bersikap ramah dan peduli dengan yang lain akan memberi kesan yang indah bagi yang lain. Karenanya, kemurahan hati selalu membawa persaudaraan yang lebih hangat. Tapi kebanyakan orang bukannya membekali sesuatu pada mereka yang akan bepergian, malah minta oleh-oleh setelah mereka kembali</p>
<p style="text-align: justify;">3. Berdana kepada orang sakit<br />
Suatu kali seorang bhikkhu menderita sakit perut dan berbaring diatas tanah tempat ia terjatuh karena lemah dengan kotoran-kotoran melekat pada badannya. Sang Bhagava dan Y.A. Ananda, yang sedang berkunjung ke tempat kediaman para bhikkhu, mendatangi tempat bhikkhu yang sakit tersebut berbaring. Bhagava bertanya kepadanya, &#8220;<em>Bhikkhu, apa yang terjadi denganmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Saya menderita sakit perut, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Tidak adakah bhikkhu lain merawatmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Tidak, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Mengapa bhikkhu-bhikkhu lain tidak merawatmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Karena saya tidak berguna bagi mereka, Bhante.</em>&#8221;<br />
Kemudian Bhagava berkata kepada Y.A. Ananda ,&#8221;Pergi dan ambillah air. Kita akan membersihkan tubuh bhikkhu ini.&#8221; Maka Y.A. Ananda mengambil air dan Bhagava menyiramkannya ke tubuh bhikkhu yang sakit itu, sambil Y.A. Ananda membersihkan seluruh tubuhnya. Lalu, dengan memegang kepala dan kaki bhikkhu tersebut, Y.A. Ananda bersama-sama mengangkat dan membaringkannya di atas tempat tidur. Kemudian Bhagava memanggil semua bhikkhu yang ada dan bertanya kepada mereka, &#8220;O, para bhikkhu, mengapa kalian tidak merawat bhikkhu yang sakit itu?&#8221;<br />
&#8220;<em>Karena ia tidak berguna bagi kami, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Kalian tidak mempunyai ayah dan ibu yang merawat kalian. Jika kalian tidak saling merawat, siapa yang akan melakukan hal itu?<br />
Ia yang merawat Aku (Tathagata), sesungguhnya sama saja dengan merawat si sakit.</em>&#8221;<br />
Kita semestinya merawat dan menjaga mereka yang sedang sakit. Pada situasi seperti itulah mereka sangat membutuhkan bantuan dari kita. Buddha juga telah mengajarkan bagaimana cara kita merawat orang sakit. Beliau berkata, &#8220;<em>Dengan memenuhi lima syarat, seseorang yang merawat orang sakit dikatakan cocok untuk merawat orang sakit. Apakah kelima syarat tersebut? Ia dapat menyiapkan obat-obatan; ia mengetahui mana yang baik dan tidak &#8211; yang baik ditawarkan dan yang tidak baik tidak ditawarkannya; ia merawat si sakit dengan cinta kasih, bukan dengan suatu pamrih; ia tidak tergoyahkan oleh kotoran, air kencing, muntahan dan air liur; dan, setiap saat ia dapat memberikan petunjuk, semangat, hiburan, dan kepuasan kepada si sakit dengan membicarakan Dhamma.</em>&#8221;<br />
Ada banyak obat dan pengobatan untuk segala macam orang sakit. Namun jika tangan yang baik tidak diberikan dalam pelayanan dan hati yang pemurah tidak diberikan dalam kasih, maka tidak akan pernah ada suatu penyembuhan bagi penyakit mengerikan karena tidak disertai kasih. Shantideva, dalam bukunya Bodhicharyavatara melantunkan syair berikut: &#8220;<em>Semoga aku menjadi penawar rasa sakit, bagi semua makhluk. Semoga aku menjadi dokter dan perawat, bagi semua yang sakit.</em>&#8221;<br />
Setiap perbuatan kasih adalah karya damai, tak peduli betapapun kecilnya. Kesucian tumbuh cepat bila ada kebaikan hati. Saya tidak pernah mendengar orang yang baik hati tersesat. Dunia akan kacau karena tidak ada welas kasih dan kebaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Berdana pada saat sukar mendapatkan makanan<br />
Di India pada abad ke ketujuh, seorang raja bernama Harsha menjadi penganut Buddha yang senang melayani kamu miskin-papa. Suatu hari raja menyampaikan kekhawatirannya kepada peziarah, &#8220;<em>Bertahun tahun sudah aku memerintah seluruh India&#8230; Aku mulai gelisah, karena tidak terdapat kemajuan apapun dalam hal kebajikan.</em>&#8221;<br />
Tiap lima tahun, raja mengadakan apa yang ia sebut sebagai &#8220;Padang Pelimpahan Jasa&#8221;. Banyak orang datang ke padang ini untuk menerima derma darinya. Raja Harsha memasuki tendanya yang amat luas, bersujud menghormati Buddha sambil melantunkan syair berikut; &#8220;<em>Pujilah Buddha, Pujilah Dhamma, Pujilah Sangha ! Dia yang Agung, Yang Diterangi, Yang Dipuja. Bhagava, yang dipuji segala jenis dewa, para suci dan Penyanyi Agung, para makhluk agung di surga dan di bumi. Kepadamu, Buddha aku memuji! Kepadamu Buddha, aku memuji!</em>&#8221;<br />
Kepalanya menunduk hormat kepada &#8220;semua Buddha dari seluruh alam&#8221;. Lalu ia berkata dengan penuh perasaan. &#8220;<em>Pelimpahan harta kekayaanku ini, kusemaikan semua di Tanah Kebahagiaan. Dan semoga pada kelahiran mendatangpun, aku tidak menimbunnya. Melainkan melepaskannya, untuk para miskin-papa.</em>&#8221; Raja kemudian berdoa; &#8220;<em>Semoga aku dapat memberi makan dan minum semua, yang merasakan derita lapar dan kehausan. Semoga aku menjadi mestika yang tak ternilai bagi orang-orang miskin. Semoga aku menjadi pembela bagi mereka, yang dicampakkan terlantar di pinggir jalan. Semoga aku luruh sepenuhnya di dalam pelayanan dan kasih</em>&#8221;<br />
Kemiskinan adalah penyebab kejahatan! Kejahatan akan semakin tumbuh bila tidak ada yang memberi dana. Seseorang akan melakukan kejahatan dikala ia terjepit karena kebutuhan untuk bertahan hidup tidak terpenuhi. Karenanya berikanlah bantuan pada mereka yang membutuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Hasil panen/gaji pertama didanakan kepada orang bijak<br />
Suatu kali beberapa bhikkhu mempertanyakan, kenapa Buddha memilih Y.A. Sariputta dan Y.A. Mogallana sebagai siswa utama (agga savaka). Kenapa bukan kelima pertapa yang menjadi bhikkhu pertama yang dipilih Buddha? Menyadari perkembangan dari pembicaraan para bhikkhu tersebut, Buddha kemudian menjawab, &#8220;<em>O, para bhikkhu, bukan karena Aku yang menjadikan Sariputta dan Mogallana sebagai agga savaka. Pada kelahiran sebelumnya mereka mendanakan hasil panen pertama mereka kepada seorang pertapa dan bertekad, semoga di kemudian hari mereka menjadi siswa utama seorang Buddha. Karena kebajikan dan tekad yang mereka milikilah, akhirnya sekarang mereka peroleh buah dari kebajikan masa lalu dan sekarang menjadi siswa utama.</em>&#8221;<br />
Tidak mudah untuk memberikan penghasilan kita yang pertama. Tetapi Y.A. Sariputta dan Y.A. Mogallana telah melakukannya dan memperoleh hasil dari kebajikan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang dalam memberi mempunyai motivasi yang berbeda. Ada orang berdana karena barang yang dimilikinya sudah rusak sehingga ia berikan kepada orang lain. Ada yang berdana karena ia tidak menyukai makanan yang menurutnya tidak enak, bahkan sudah kadaluarsa (lewat waktu). Yang lain memberi karena berharap memperoleh lebih dari yang diberikan. Sebagian lagi karena ingin popularitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara semua itu, pemberian yang didasari kasih dan benda yang diberikan adalah benda terbaik, maka pemberian seperti itu akan menghasilkan kebajikan yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F06%2Fnuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Saat%20tepat%20untuk%20peduli%20%2825%29" id="wpa2a_4"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Bahagia dalam Pelayanan (24)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-bahagia-dalam-pelayanan-24/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-bahagia-dalam-pelayanan-24/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 05:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tapi ukuran sejati adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain. Seorang dokter tetap melayani pasien saat ia mengetahui anaknya baru meninggal. Ia berkata, &#8220;Saya tidak bisa berbuat apa apa soal itu. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tapi ukuran sejati adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang dokter tetap melayani pasien saat ia mengetahui anaknya baru meninggal. Ia berkata, &#8220;Saya tidak bisa berbuat apa apa soal itu. Tapi saya bisa berbuat sesuatu untuk pasien yang sedang sakit&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang benar-benar bahagia adalah mereka yang telah mencari dan menemukan jalan untuk melayani. Mereka mengerti bahwa tidak mungkin berbuat yang terbaik baginya tanpa memberikan yang terbaik bagi yang lain.</p>
<p><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F06%2Fnuansa-hidup-bahagia-dalam-pelayanan-24%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Bahagia%20dalam%20Pelayanan%20%2824%29" id="wpa2a_6"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-bahagia-dalam-pelayanan-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Memberi berarti juga menerima (23)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-memberi-berarti-juga-menerima-23/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-memberi-berarti-juga-menerima-23/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 10:13:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[memberi]]></category>
		<category><![CDATA[menerima]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[Buddha bersabda, &#8220;Seandainya semua makhluk mengerti seperti Aku (Tathagata) mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati apa yang mereka miliki tanpa membaginya pada orang lain. Ia tidak memberikan noda kekikiran berkembang pada dirinya.&#8221; Jelas sekali bahwa seorang yang suka memberi pasti akan menerima buah dari kemurahan hatinya. Buddha telah mengerti manfaat dari memberi, sehingga Belia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buddha bersabda, &#8220;S<em>eandainya semua makhluk mengerti seperti Aku (Tathagata) mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati apa yang mereka miliki tanpa membaginya pada orang lain. Ia tidak memberikan noda kekikiran berkembang pada dirinya.</em>&#8221;<br />
Jelas sekali bahwa seorang yang suka memberi pasti akan menerima buah dari kemurahan hatinya.<br />
Buddha telah mengerti manfaat dari memberi, sehingga Belia menganjurkan kepada kita agar jangan ragu dalam memberi. Banyak diantara kita masih berpikir bahwa memberi berarti berkurang. Cara berpikir seperti ini menunjukkan kurangnya pemahaman kita terhadap hukum karma. Siapa yang menabur benih, dia yang akan memetik hasilnya.<br />
Karenanya berikanlah dana pada mereka yang membutuhkan. Kebajikanmu akan memberikan kebahagiaan, tidak peduli apakah engkau memintanya atau tidak.</p>
<p>Seorang Boddhisatva bernama Sumedha, suatu kali di keheningan malam menyadari kehampaan dunia yang indah ini. Ia berkata, &#8220;<em>Aku kehilangan dengan apa yang kusimpan, namun aku memperoleh dengan apa yang kuberikan. Memberi adalah menyebar benih yang akan membuahkan hasil.</em>&#8221;<br />
Keesokan harinya, ia mendermakan semua kekayaannya bagi para miskin, sambil mengucapkan pernyataan perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Inilah salah satu praktek kesempurnaan kemurahan hati dari seorang boddhisatva yang tidak lagi melekat pada kekikiran dan mementingkan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa tidaklah mungkin membantu orang lain tanpa membantu diri sendiri, atau merugikan orang lain tanpa merugikan diri sendiri. Memberi berarti juga akan menerima.</p>
<p>Suatu hari seorang guru zen mendatangi rumah seorang saudagar kaya yang terkenal dengan kekikirannya. Setibanya di rumah saudagar tersebut, sang guru memberi sebuah teka-teki (koan). &#8220;<em>Bagaimana menurutmu jika tangan selalu terbuka?</em>&#8221; tanya sang guru.<br />
&#8220;<em>haha..Itu berarti tangan yang tidak berguna</em>&#8220;, jawab saudagar tersebut.<br />
&#8220;<em>Kalau tangan yang selalu tertutup?</em>&#8220;, tanya guru lagi.<br />
&#8220;<em>Itu juga tidak berguna</em>&#8220;, jawabnya dengan mantap.<br />
&#8220;<em>Bagus. Tangan yang selalu terbuka atau tertutup adalah tangan yang mati. Burung yang tidak dapat membuka dan menutup sayapnya, tidak akan pernah dapat terbang. Jika engkau mengerti dan menjalani hidup sesuai dengan pengertian tersebut, maka engkau akan menjadi orang makmur yang sebenarnya. Renungkan itu.</em>&#8220;, kata sang guru sambil berlalu.<br />
Setelah mendengar Dharma dari guru, saudagar tersebut mengerti bahwa kekikiran dan pemborosan adalah dua hal yang tidak berguna. Esok harinya ia membagikan beras kepada orang-orang yang tidak mampu. Sang guru setelah mengetahui hal ini berkata, &#8220;<em>Ia sedang membuat jalan ke surga.</em>&#8221;</p>
<p><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F06%2Fnuansa-hidup-memberi-berarti-juga-menerima-23%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Memberi%20berarti%20juga%20menerima%20%2823%29" id="wpa2a_8"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-memberi-berarti-juga-menerima-23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Kekikiran, Iri Hati dan Keserakahan Sebagai Penghalang (22)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 06:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang pengemis datang ke sebuah rumah untuk meminta sesuatu. Tuan rumah keluar dan berkata, &#34;Maaf, tak ada seorang pun disini&#34;. &#34;Aku tak ingin siapapun&#34;, kata pengemis, &#34;Aku cuma ingin makanan&#34;. Inilah salah satu contoh kisah yang menunjukkan kekikiran. Buddha suatu kali berkata, &#34;Bagi mereka yang kikir, tidak akan mungkin dilahirkan di alam dewa.&#34; Seseorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ada seorang pengemis datang ke sebuah rumah untuk meminta sesuatu. Tuan rumah keluar dan berkata, &quot;Maaf, tak ada seorang pun disini&quot;.    <br />&quot;Aku tak ingin siapapun&quot;, kata pengemis, &quot;Aku cuma ingin makanan&quot;. </p>
<p align="justify">Inilah salah satu contoh kisah yang menunjukkan kekikiran. Buddha suatu kali berkata, &quot;Bagi mereka yang kikir, tidak akan mungkin dilahirkan di alam dewa.&quot;    <br />Seseorang yang menikmati buah karma baik masa lalu dan sekarang tidak bermurah hati, ia seperti orang yang hidup dari tabungannya di bank. Terus menerus menarik uang tabungan tanpa menambahnya. </p>
<p align="justify">Kita mesti memahami bahwa kelimpahan adalah mencari si miskin. Bagaikan kecantikan mencari cermin. Maka para miskin adalah cermin kemurahan hati kita. Yang dermawan membuka jalan bahagia bagi dirinya. </p>
<p align="justify">Buddha mengatakan, &quot;sesungguhnya, siapapun yang menghalang-halangi orang lain berdana akan melakukan tiga kesalahan. Apakah tiga kesalahan itu?    <br />Ia menghalangi pemberi dana untuk mendapatkan kebaikan, ia menghalangi penerima dana untuk mendapatkan persembahan, dan ia telah merusak dirinya sendiri dengan kekejiannya.&quot;     <br />Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan dan menurut ketulusan mereka. Karena itu barang siapa yang iri terhadap keberuntungan orang lain, tidak akan memperoleh kedamaian sepanjang hari. </p>
<p align="justify">Praktek berdana akan membantu usaha kita untuk memurnikan pikiran. Keserakahan dan kekikiran dapat dikikis. Kebahagiaan dan berkecukupan adalah hasil dari berdana. Kita mesti mengingat sebuah syair yang berbunyi: Iri hati melenyapkan perbuatan baik, seperti api membakar kayu. Kemurahan hati menghancurkan permusuhan, seperti air menyiram api. </p>
<p align="justify"><strong><em>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</em></strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F06%2Fnuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Kekikiran%2C%20Iri%20Hati%20dan%20Keserakahan%20Sebagai%20Penghalang%20%2822%29" id="wpa2a_10"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Dasarnya adalah Kasih (21)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/05/nuansa-hidup-dasarnya-adalah-kasih-21/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/05/nuansa-hidup-dasarnya-adalah-kasih-21/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 03:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan ke daerah, suatu kali saya melihat seorang tua innocent yang menjajakan pisang dagangannya di terik matahari. Usia ibu ini kira kira 65 tahun. Entah mengapa ketika saya melihat raut wajah ibu tersebut, ada rasa ingin membuatnya bahagia. Padahal ia bukanlah seorang peminta-minta, ia adalah seorang yang memikul pisang sebagai dagangannya. Saya yakin Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan ke daerah, suatu kali saya melihat seorang tua innocent yang menjajakan pisang dagangannya di terik matahari. Usia ibu ini kira kira 65 tahun. Entah mengapa ketika saya melihat raut wajah ibu tersebut, ada rasa ingin membuatnya bahagia. Padahal ia bukanlah seorang peminta-minta, ia adalah seorang yang memikul pisang sebagai dagangannya. Saya yakin Anda juga pernah mengalami perasaan demikian tatkala Anda berjumpa dengan seseorang yang belum Anda kenal dan timbul perasaan mengharapkan ia bahagia.<br />
Dapatkah kita katakan bahwa perasaan seperti ini adalah perasaan kasih?<br />
Seperti yang Buddha katakan bahwa setiap orang memiliki benih kasih di dalam dirinya, tinggal apakah seseorang itu mengembangkan kasih yang telah ada dalam dirinya atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun saat itu saya tidak berencana membeli pisang, dikarenakan perasaan demikian, akhirnya saya membeli pisang tersebut sebagai ungkapan kepedulian saya kepada ibu tersebut.<br />
Yang membuat saya kagum lagi adalah reaksi rasa syukur dan berterima kasihnya yang sangat mendalam hingga terpancar di wajahnya. Inikah tipe orang yang merasa puas dan berterima kasih atas apa yang telah diperolehnya meskipun hanya cukup untuk makan satu hari?<br />
Ibu ini bahkan telah membuat saya menyadari betapa kasih dapat memberikan kebahagiaan besar bagi orang lain. Saya hanya memberi kebahagiaan kecil padanya, tapi ia telah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga bagi saya. Ia telah memberikan sesuatu yang besar pada saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa ini bagaikan air penyejuk bagi perjalanan saya di siang hari yang panas. Senyuman dan kegembiraannya menjadi penghibur bagi saya dalam meneruskan perjalanan. Setibanya saya pada tujuan, pisang yang telah dibeli dari ibu tersebut saya berikan kepada keluarga yang menjaga vihara. Mereka menerimanya dengan gembira dan berterima kasih atas pemberian tersebut.<br />
Bayangkan berapa banyak orang yang dibahagiakan jika kita memberi perhatian pada mereka.<br />
Ibu Teresa berkata, &#8220;<em>Sebenarnya dalam memberi, bukan berapa banyak yang dapat kita berikan, tapi berapa besar kasih yang menyertai pemberian itu.</em>&#8220;.<br />
Pemberian seperti inilah yang saya percaya dapat memberikan kebahagiaan besar dan bermakna bagi yang menerima daripada pemberian tanpa disertai kasih.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam keheningan malam, saya merenungi betapa indahnya kebersamaan bila diliputi dengan kasih. Hari ini saya mempelajari sesuatu yang bernilai dari seorang ibu yang menjajakan pisang.<br />
Sebenarnya hidup adalah untuk memberi. Mereka yang tidak dapat memberi, sebenarnya tidak hidup.<br />
Berikanlah apa saja yang kita punyai. Pengetahuan kita, materi, semangat, kasih sayang, nasehat dan sebuah senyuman. Saya teringat apa yang dikatakan Ibu Teresa, &#8220;<em>Semua yang kau berikan kepada orang lain adalah pemberian untuk dirimu sendiri. Kasih menyembuhkan semua orang, baik yang menerimanya maupun yang memberikannya</em>&#8220;.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kita ingin bahagia, berikan kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan yang kita berikan akan kembali kepada kita. Karenanya, setiap hari setidaknya lakukanlah kebaikan.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F05%2Fnuansa-hidup-dasarnya-adalah-kasih-21%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Dasarnya%20adalah%20Kasih%20%2821%29" id="wpa2a_12"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/05/nuansa-hidup-dasarnya-adalah-kasih-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Sederhana dalam Bicara (20)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 06:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kesederhanaan]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang karyawan yang telah bekerja lama di sebuah perusahaan dan belum memiliki jabatan tinggi, suatu kali sedang makan malam dengan ubi. Temannya yang hidup enak dan mewah karena menjilat atasannya kemudian berkata, &#34;Kalau kamu mau belajar menjilat kepada atasan, kamu tidak perlu makan sampah seperti ubi itu&#34;. &#34;Kalau kamu sudah belajar hidup dengan makan ubi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Seorang karyawan yang telah bekerja lama di sebuah perusahaan dan belum memiliki jabatan tinggi, suatu kali sedang makan malam dengan ubi. Temannya yang hidup enak dan mewah karena menjilat atasannya kemudian berkata, &quot;Kalau kamu mau belajar menjilat kepada atasan, kamu tidak perlu makan sampah seperti ubi itu&quot;.    <br />&quot;Kalau kamu sudah belajar hidup dengan makan ubi, kamu tidak perlu menjilat atasan&quot;, jawab temannya.     <br />Keteguhan hati karyawan yang rela makan ubi daripada menjilat atasan patut dikagumi.     <br />Jarang orang bisa memegang teguh kebenaran ketika ada godaan. Kata-kata yang enak terdengar untuk mempengaruhi orang lain nilainya pantas diragukan dan sering membawa hasil yang lebih buruk. Tidak mengatakan apa yang tidak benar adalah dasar dari perbuatan benar. </p>
<p align="justify">Seseorang yang sederhana dalam berbicara adalah mereka yang tidak banyak bicara. Ia hanya akan berbicara seperlunya. Ia menghindari kegemaran gosip dan omong kosong.    <br />Bila kita suka menyebarkan gosip yang kita dengar dari orang lain, berarti kita membuang jasa dan kebajikan kita.     <br />Ada sebuah syair yang berbunyi; &quot;<em>Banyak berkata banyak bahaya. Diam menjauhkan nasib buruk. Kakaktua bicara dalam sangkar dikurung. Burung burung tak bisa bicara terbang melayang bebas</em>&quot;     <br />Sudah barang tentu jika seseorang banyak bicara, maka semakin besar pula resiko kesalahan yang dibuatnya.     <br />Daripada banyak bicara yang tidak bermanfaat dan membuat orang marah atau benci, lebih baik sepatah kalimat yang bermanfaat dan memberikan kedamaian bagi pendengarnya. Inilah yang disebut kesederhanaan dalam berbicara. </p>
<p align="justify"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F12%2Fnuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Sederhana%20dalam%20Bicara%20%2820%29" id="wpa2a_14"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Sederhana dalam Bertindak (19)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bertindak-19/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bertindak-19/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 00:01:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kesederhanaan]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>
		<category><![CDATA[puas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pemuda yang bercita cita ingin menjadi orang besar berkunjung ke biara untuk meminta bantuan dari seorang guru terkenal. Ketika bertemu dengan guru tersebut, ia langsung bertanya, &#8220;Bagaimana saya dapat menjadi orang besar seperti guru?&#8221; &#8220;Mengapa mau jadi orang besar? Menjadi orang itu sudah merupakan keberhasilan cukup besar&#8220;, jawab sang guru dengan santai. &#8220;Daripada mengeluh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seorang pemuda yang bercita cita ingin menjadi orang besar berkunjung ke biara untuk meminta bantuan dari seorang guru terkenal. Ketika bertemu dengan guru tersebut, ia langsung bertanya, &#8220;<em>Bagaimana saya dapat menjadi orang besar seperti guru?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Mengapa mau jadi orang besar? Menjadi orang itu sudah merupakan keberhasilan cukup besar</em>&#8220;, jawab sang guru dengan santai. &#8220;<em>Daripada mengeluh dan tidak puas dengan apa yang ada, lebih baik mensyukuri betapa beruntungnya Anda yang hari ini sehat dan masih hidup. Bukankah ini lebih berharga?</em>&#8221; sang guru memberi jawaban lebih lanjut.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita menjalani hidup hanya untuk mengejar ketenaran dan keuntungan dalam hidup ini, berarti kita telah memutarbalikkan arti hidup. Orang bijak tidak akan mau menukarkan hidupnya dengan keuntungan sesaat. Kita mesti menyadari bahwa kemashyuran, status, dan kekayaan cenderung membesarkan ego. Sebagai akibatnya, kita dibawa menyimpang seperti pengembara yang tersesat dan tak bisa kembali. Ciri terbaik kebahagiaan saat ini dan yang akan datang adalah pelepasan dari semua keinginan.<br />
Saat kita tidak menginginkan ketenaran, ketenaran itu terkadang malah datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang berlomba menyombongkan diri dan merendahkan orang lain dengan memamerkan karya dan materi mereka. Orang bijaksana bersikap rendah hati dengan tidak merendahkan orang lain.<br />
Buddha bersabda, &#8220;<em>Kerendahan hati berarti kesederhanaan dalam sikap dan pikiran. Seseorang yang memiliki hal ini berarti telah menyingkirkan kesombongan dan tinggi hati, ia seperti kain pembersih kaki, banteng tak bertanduk, ular yang tak bertaring. Ia lemah lembut, ceria, dan mudah bergaul.</em>&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun orang lain memiliki kekayaan dan popularitas, kita tidak perlu menjadi minder apalagi iri hati. Turut bergembira dan hidup bersahaja adalah hal yang dapat membawa kebahahagiaan terbesar bagi kita. Jangan pernah mengeluh kekurangan dan mencari reputasi. Hidup apa adanya, sederhana, dan merasa puas dengan yang dimiliki adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Seperti yang dikatakan J. Khrisnamurti, &#8220;<em>Kesederhanaan tidak dapat ditemukan kecuali seseorang itu merdeka batinnya. Karenanya, kesederhanaan itu haruslah dimulai dari dalam batin, bukan dari kehidupan lahir.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F12%2Fnuansa-hidup-sederhana-dalam-bertindak-19%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Sederhana%20dalam%20Bertindak%20%2819%29" id="wpa2a_16"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bertindak-19/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Rasa Puas dan Tahu Cukup (18)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-rasa-puas-dan-tahu-cukup-18/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-rasa-puas-dan-tahu-cukup-18/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 02:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>
		<category><![CDATA[puas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[Seorang saudagar kaya di suatu pagi berjalan menghirup udara segar di tepi pantai. Pada waktu itu ia terus mengamati seorang nelayan yang sedang asyik merokok sambil tiduran di kapalnya. Kemudian ia mendekati nelayan itu dan bertanya kepadanya, &#8220;Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?&#8221; &#8220;Saya baru saja selesai menangkap ikan dan hasilnya sudah saya jual cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seorang saudagar kaya di suatu pagi berjalan menghirup udara segar di tepi pantai. Pada waktu itu ia terus mengamati seorang nelayan yang sedang asyik merokok sambil tiduran di kapalnya.<br />
Kemudian ia mendekati nelayan itu dan bertanya kepadanya, &#8220;Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?&#8221;<br />
&#8220;Saya baru saja selesai menangkap ikan dan hasilnya sudah saya jual cukup untuk makan hari ini&#8221;, jawab nelayan itu.<br />
&#8220;Hari masih pagi, mengapa engkau tidak melanjutkan menangkap ikan?&#8221; tanya saudagar itu lebih lanjut.<br />
&#8220;Untuk apa?&#8221; tanya balik sang nelayan.<br />
&#8220;Dengan begitu, engkau bisa memperoleh penghasilan lebih untuk mengembangkan usahamu dan kelak engkau dapat menikmati ketenangan dan kenyamanan hidup&#8221;, jawab sang saudagar.<br />
&#8220;Lalu menurut Anda sekarang saya sedang apa?&#8221; jawab nelayan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita menyimak kisah nelayan tersebut diatas, kita dapat mempelajari makna yang terkandung didalamnya. Untuk menikmati hidup, tidaklah perlu menunggu menjadi kaya terlebih dahulu. Banyak hal yang selalu diukur dengan materi sehingga kita menganggap materi sebagai tujuan kebahagiaan. Pola hidup dan cara pandang seperti itu hanya akan menimbulkan kekhawatiran dan kegelisahan.<br />
Apa yang membuat hati kita puas biasanya tidak bisa dibeli dengan uang. Hanya hati yang lega yang bisa merasakan kepuasan.<br />
Uang cuma bisa membeli lebih banyak nafsu. Kita harus memahami bahwa kekayaan tidak diukur dari seberapa banyak harta seseorang, tetapi dari apakah ia merasa cukup.<br />
Ada sebuah ungkapan yang perlu kita renungkan, &#8220;Aku mengeluh tidak punya sepatu hingga bertemu dengan orang yang tak punya kaki&#8221;.<br />
Kita mesti menyadari banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dari kita. Maka bersyukurlah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda ingin menghindari penderitaan, Anda harus merasa puas. Rasa puas adalah dasar dari pencapaian ketenangan dan kedamaian hati.<br />
Seseorang yang penuh dengan rasa puas, walaupun ia berbaring diatas tanah, tetap juga berada dalam keadaan tenang dan bahagia.<br />
Ia yang tidak merasa puas, walaupun ia kaya, tetap juga disebut miskin!<br />
Ia yang merasa puas, walaupun ia miskin, dapat dikatakan orang kaya yang sebenarnya. Orang yang tidak pernah puas terikat oleh bermacam-macam keinginan dan karenanya sering dikasihani oleh orang yang puas. Inilah makna dari rasa puas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F12%2Fnuansa-hidup-rasa-puas-dan-tahu-cukup-18%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Rasa%20Puas%20dan%20Tahu%20Cukup%20%2818%29" id="wpa2a_18"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-rasa-puas-dan-tahu-cukup-18/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Uang Tidak Dapat Membeli Kebahagiaan (17)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/11/nuansa-hidup-uang-tidak-dapat-membeli-kebahagiaan-17/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/11/nuansa-hidup-uang-tidak-dapat-membeli-kebahagiaan-17/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 05:53:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[Ada kisah seorang yang bekerja sebagai pengayam keranjang. Ia adalah orang sederhana yang menikmati pekerjaannya sebagai pengayam keranjang. Ia bersiul dan bernyanyi selagi mengerjakan pekerjaannya dan menjalani hari harinya dengan gembira dan bahagia. Di malam hari ia beristirahat di dalam pondoknya yang kecil dan tidur nyenyak. Suatu hari ada orang kaya yang lewat di depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img style="border:0;" title="uang money - give money" src="http://i531.photobucket.com/albums/dd356/budhis/stock_Photos/3274973_blog.jpg" alt="" width="144" height="116" align="right" />Ada kisah seorang yang bekerja sebagai pengayam keranjang. Ia adalah orang sederhana yang menikmati pekerjaannya sebagai pengayam keranjang. Ia bersiul dan bernyanyi selagi mengerjakan pekerjaannya dan menjalani hari harinya dengan gembira dan bahagia.<br />
Di malam hari ia beristirahat di dalam pondoknya yang kecil dan tidur nyenyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari ada orang kaya yang lewat di depan pondoknya dan melihat pengayam keranjang yang miskin tersebut. Ia merasa kasihan pada orang ini dan memberinya 1000 dolar.<br />
&#8220;Ambillah ini, dan nikmatilah hidup Anda&#8221;, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengayam keranjang mengambil uang tersebut dengan sangat berterima kasih. Ia tidak pernah melihat uang sebanyak itu selama hidupnya. Ia membawa ke dalam pondoknya yang reyot dan bingung hendak menyimpannya di mana. Tetapi gubuknya tidaklah aman. Sepanjang malam itu ia tidak dapat tidur nyenyak karena kuatir dengan perampok, atau bahkan tikus yang dapat mengerogoti lembaran uang kertas tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari berikutnya ia membawa uang itu ke tempat kerjanya, tetapi ia tidak lagi bersiul dan bernyanyi karena ia terlalu kuatir dengan uangnya. Malam berikutnya ia kembali tidak dapat tidur dengan nyenyak, dan di pagi harinya uang tersebut ia kembalikan kepada pemiliknya dan berkata, &#8220;Kembalikan kebahagiaan saya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><img title="money circle" src="http://i531.photobucket.com/albums/dd356/budhis/stock_Photos/4982130_blog.jpg" alt="" width="141" height="106" align="left" />Ajaran Buddha tidak menentang seseorang untuk mengembangkan kekayaan atau giat dalam berusaha mengumpulkan materi. Buddha bahkan menganjurkan bagi perumah tangga untuk menggunakan kepandaian yang dimiliki dengan bijaksana untuk mendapatkan penghasilan dengan cara yang sah dan jujur.<br />
Yang menjadi pokok penyampaian disini adalah untuk bersikap puas dengan apa yang telah dimiliki dan tidak menjadi budak dari keserakahan kita.</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><span style="color: #808080;"><strong>Uang bagaikan api. Jika api digunakan secara tepat dan benar, maka akan membawa manfaat besar bagi diri kita dan yang lain. Jika digunakan secara keliru, maka akan membawa penderitaan bagi kita dan yang lain.</strong></span></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda.</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F11%2Fnuansa-hidup-uang-tidak-dapat-membeli-kebahagiaan-17%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Uang%20Tidak%20Dapat%20Membeli%20Kebahagiaan%20%2817%29" id="wpa2a_20"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/11/nuansa-hidup-uang-tidak-dapat-membeli-kebahagiaan-17/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

