Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Nuansa Hidup – Kesederhanaan – Mencari Kekayaan (16)

Seorang tua berusia 70 tahun dalam kesehariannya membuka toko onderdil. Usaha ini telah digelutinya sejak usia muda hingga sekarang. Satu kali teman bermain semasa mudanya mengunjungi dirinya. Mereka larut dalam pembicaraan mengenang peristiwa-peristiwa masa lalu dalam kebersamaan mereka. Sebagai penutup pembicaraan, temannya mulai bertanya, “Anda sudah memiliki lebih daripada yang Anda perlukan, sekarang usia kita sudah tidak muda lagi. Tidakkah Anda dapat berhenti setiap saat untuk menikmati sisa hidup ini?”
“Saya tidak tahu caranya untuk berhenti”, jawab orang tua tersebut.

Ada pepatah yang berbunyi demikian, “Semakin kita punya, semakin kita cari; semakin kita dambakan, semakin kita tidak puas.
Hal ini dikarenakan seseorang selalu mengejar materi maka perasaan dan pikirannya juga sangat dipengaruhi oleh materi. Akibatnya, ia terperangkap dan sulit untuk melepaskan diri.
Read the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Tetap Mengasihi Walau Telah Disakiti (15)

Suatu kali seorang perampok masuk ke biara seorang guru Zen. “Harta atau nyawa” kata perampok itu sambil menunjukkan pisaunya pada sang guru. Sang guru dengan tetap tenang menjawab, “Kalau mau harta, di laci lemari ada sedikit uang. Ambillah.”
Kemudian perampok itu menuju ke lemari yang ditunjukkan oleh guru tersebut. Ia menemukan sedikit uang seperti yang telah dikatakan oleh sang guru. Dengan tergesa-gesa, ia mengambil uang itu dan meninggalkan tempat tersebut.
“Tunggu dulu! Setelah menerima sesuatu, engkau mesti mengucapkan terima kasih”, kata sang guru kepada perampok itu. “Thank you”, jawab perampok itu sambil berlalu.
Read the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Tetap Tenang Saat Menerima Buah Karma Buruk (14)

Meskipun Anda sudah pernah membaca artikel di bawah ini atau tidak sepenuhnya setuju dengan beberapa paragraf awal dari artikel ini, saya sarankan agar Anda meneruskan membaca sampai akhir.
Anda tidak akan pernah tahu apa yang bakal Anda lewatkan.
Ambil apa yang Anda butuhkan, dan buang yang tidak Anda perlukan. :)

++++++++++++++++++++++++++++++++++

Ada sebuah keluarga kecil yang hanya terdiri dari suami istri dan seorang anak laki-laki. Satu-satunya harta berharga yang mereka miliki adalah seekor kuda. Pada suatu hari, kuda tersebut lepas dan melarikan diri ke hutan, semua tetangganya bersimpati akan hal ini, mereka datang mengunjungi keluarga tersebut dan berkata, “Sungguh malang nasibmu, saya turut bersedih akan hal ini.”
“Terima kasih, tapi saya percaya bahwa ini bukanlah sebuah kemalangan, mungkin ini adalah awal keberuntungan,” jawab tuan rumah. “Semoga demikian”, jawab tetangganya sambil berpamitan dan menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mengerti.
Read the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Orang Yang Tidak Pernah Mengeluh (13)

Ketika saya melakukan perjalanan ke daerah dengan kereta api, waktu yang ditempuh dalam perjalanan untuk tiba pada tujuan adalah sembilan jam. Saya berada pada gerbong kelas ekonomi tanpa AC. Waktu keberangkatan adalah pukul sembilan pagi.
Awalnya semua berjalan lancar, saya tidak merasakan sesuatu yang membuat tidak nyaman. Tapi karena perjalanan telah berlangsung empat jam, saya mulai merasakan ketidaknyamanan. Hal ini dikarenakan cuaca panas di siang hari dan tebalnya jubah yang saya gunakan. Yang membuat suasana semakin gerah adalah penumpang penumpang lain yang merokok sehingga udara di dalam gerbong tersebut semakin penat. Pada situasi seperti ini, saya sempat mengeluh dan mulai menyalahi orang lain atas ketidaknyamanan yang saya alami. Ada rasa kesal, gelisah dan ingin lari dari kenyataan ini. Saya terus berusaha mengakhiri ketidaknyamanan ini dengan berpikir positif. Saya mencoba menghibur diri dengan mengatakan, “Bukankah ini saat terbaik untuk berlatih menerima kenyataan?”
Read the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Ukuran Kesabaran (12)

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan anak-anak muda berkenaan dengan kesabaran. Diskusi ini terjadi saat saya mendengar salah seorang dari mereka memuju teman lainnya yang dianggap mereka memiliki kesabaran. Sesaat, saya merenungi pembicaraan tersebut, dan kemudian saya mulai bertanya kepada mereka, “Kita sering membuat pernyataan yang menyimpulkan seseorang itu sabar atau tidak sabar. Sebenarnya apa yang menjadi ukuran kesabaran itu? Atas dasar apa kita menyimpulkan seseorang itu sabar atau tidak sabar?”
Pertanyaan saya ini sempat mengejutkan mereka. Diantara mereka kemudian ada yang nyeletuk, “Iya, ya. Kalau dipikir-pikir ukuran kesabaran itu berbeda-beda dari setiap orang. Ada yang tahan terhadap celaan, tapi tidak tahan kalau dipukul. Ada yang sabar dalam bekerja, tapi tidak sabar dengan omongan orang. Wah… kalau begitu sebenarnya ukuran kesabaran itu seperti apa ya?”

Pembicaraan mereka akhirnya terfokus pada kesabaran. Setiap diantara mereka mulai saling bertanya-tanya sambil memberikan pandangan-pandangan mereka sendiri terhadap standar kesabaran. Saya membiarkan mereka berdiskusi dan mengeluarkan pendapat mereka. Ini dimaksudkan agar mereka dapat merenung untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan mengembangkan pengertian yang luas dalam hal ini. Setelah diskusi berjalan cukup panjang, akhirnya mereka sepakat menyimpulkan bahwa kesabaran itu ada batasnya. Lalu mereka meminta pendapat saya mengenai kesimpulan mereka. Saya katakan pada mereka bahwa kesabaran itu tiada batas namun bertingkat.

Setiap orang memiliki tingkat kesabaran yang berbeda. Ada tiga tingkatan seseorang yang dapat dikatakan memiliki kesabaran, yaitu : orang yang tidak pernah mengeluh, orang yang tetap tenang menerima buah karma buruk dan orang yang tetap mengasihi walaupun disakiti. Inilah tiga tingkatan yang menjadi ukuran apakah seseorang itu memiliki kesabaran atau belum.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup – karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Melihat Kesalahan Orang Lain, Ia Ragu Akan Hal Itu (11)

Seorang guru berjalan mengelilingi biara. Suatu kali ia melewati dapur dan melihat seorang muridnya sedang mencomot makan siangnya.
“Wah, murid ini kurang ajar! Saya akan menegurnya nanti saat makan bersama nanti!” kata sang guru dalam hati.
Ketika waktu makan tiba, semua murid berkumpul di aula ruang makan. Sang guru kemudian memanggil murid yang mencomot makanan tadi di dapur.
“Saya tadi melihat kamu mencomot makanan yang seharusnya dipersembahkan kepada Buddha. Kenapa kamu lakukan hal itu?” tanya sang guru. “O, iya guru, pada makanan tersebut ada kotoran yang menempel. Saya ingat pesan guru bahwa kita hendaknya tidak membuang makanan. Karena itulah akhirnya saya makan bagian yang kotor dari makanan itu”, jawab murid. Mendengar penjelasan muridnya itu, sang guru merasa bersalah telah menuduh muridnya yang bukan-bukan. “Maafkanlah saya, ternyata mata ini tidak dapat dipercaya”, kata sang guru.

Ada orang yang dengan hanya mendengar tanpa melihat, langsung percaya. Inilah sebab dari timbulnya prasangka dan perselisihan yang semestinya tidak perlu terjadi. Setiap orang tentu memiliki alasan tersendiri dalam melakukan sesuatu. Jangan mudah terpengaruh oleh apa yang kita dengar dari orang lain sebelum kita mengetahuinya dengan pasti. Sebab orang yang mengabarkan berita ini tentunya sudah menambah bumbu-bumbu di dalamnya (hiperbola) dan mengurangi intinya sehingga cerita itu sudah tidak utuh dan dapat menyesatkan. Orang sering bertengkar untuk hal yang tidak membawa manfaat. Katakanlah ia menang/benar, lalu apa yang ia peroleh? Kecuali menambah ego, ketidaktenangan dan permusuhan. Seperti yang Buddha katakan, “Ia yang selalu mencari kesalahan orang lain dan tidak memperhatikan kesalahan diri sendiri, maka pikirannya akan tercemar.”
Adalah baik bagi kita memiliki pola pikir secara positif untuk menghindari prasangka dan perselisihan yang timbul dari kesalahpahaman.

Meskipun engkau bisa menunjukkan kesalahan orang lain, kesimpulan engkau sendiri juga belum tentu benar. Pun begitu engkau yakini benar.
Syair Zen

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup – Karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Memuji Dengan Tulus Kebaikan Orang Lain (10)

Jarang orang berjiwa besar untuk mengakui kelebihan orang lain, apalagi untuk memberikan sebuah pujian. Adalah mudah bagi kita untuk memuji dan bersikap baik kepada mereka yang dapat menyenangkan hati kita. Tapi sulit bagi kita untuk bersikap baik dan memuji pada mereka yang tidak menyenangkan hati kita. Terkadang kita pun menunjukkan sikap kurang bersahabat pada mereka. Ini disebabkan cara kita berpikir yang terlalu “Elu, elu, gue, gue, Elu baik ama gue, gue baik ama elu. Elu cuek ama gue, gue lebih cuek ama elu.”

Kita tidak perlu cemas bila orang lain tidak mengakui jasa kita. Kita baru boleh cemas apabila diri kita tidak mau mengakui jasa orang lain. Terlebih bila kita mengakui jasa orang lain sebagai jasa kita. Tidak seharusnya kita mencela orang lain dengan mengutip kelemahan-kelemahan mereka dan mengabaikan sifat baik serta karya mereka yang bermanfaat. Memuji adalah hal yang dapat membantu membangkitkan semangat dan keceriaan seseorang. Karenanya pujilah dengan tulus setiap kebaikan apapun yang dilakukan seseorang pada siapapun. Jadilah para bijaksana yang menghargai kebaikan orang lain dengan memujinya, karena para bijaksana selalu memuji setiap kebaikan yang dilakukan semua makhluk. Menyadari bahwa setiap orang senang menerima apakah itu materi, keramahan, pujian, perhatian, atau menyelesaikan pekerjaan kecil mereka, maka membuat yang lain bahagia adalah sangat mungkin.

Orang bijak adalah ia yang dapat menghargai kebaikan orang lain dan dengan rasa simpati, ia turut bergembira atas kebaikan yang telah dilakukan seseorang. Seorang picik adalah ia yang selalu tidak bahagia melihat kesuksesan orang lain, dengan cemburu dan iri hati, ia berusaha menghancurkan kesuksesan orang lain. Ia berbahagia melihat orang lain menderita, ia tidak menginginkan ada orang lain yang lebih darinya.

Sebenarnya sangat memungkinkan bagi kita untuk menciptakan suasana bersahabat dan menumbuhkan kebersamaan dalam hubungan kita dengan yang lain. Seperti yang Buddha sabdakan, ” Ada empat sifat yang membawa persahabatan. Apakah empat sifat itu? Murah hati, ramah melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain, serta tidak sombong dan merendahkan yang lain”. Jika kita mengembangkan rasa simpati dan dapat menghargai orang lain, maka kebersamaan akan tumbuh dengan sangat indah. Tidak ada rasa iri,dengki dan saling menyalahi. Yang ada adalah perkembangan dan kemajuan bersama.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup – Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Ketika Dicela Tidak Menjadi Marah (9)

Buddha bersabda, “O, Athula. Bukan hanya sekarang mereka mencela orang yang banyak bicara. Mereka juga mencela orang yang sedikit bicara. Begitu juga mereka mencela orang yang tidak bicara. Di dunia ini tidak ada seorang pun yang tidak dicela
Kita harus menahan ego dan tidak menghujani orang yang mengkritik kita dengan kebencian. Jangan menganggap musuh pada orang yang tidak sependapat dengan kita. Kritikan dapat membawa kemajuan. Kita tidak hanya belajar dari teman, namun juga dari mereka yang mengkritik kita.
Mereka mungkin benar. Jika kita tidak mendengarkan apa yang mereka katakan, kita mungkin melepaskan kesempatan untuk belajar. Jadilah seperti seekor gajah di medan perang, bertahan terhadap rasa sakit karena anak panah. Kita juga bisa menahan celaan dari orang lain dan mencapai kedamaian dengan kesabaran.

Pada suatu kesempatan, Buddha diundang oleh seorang brahmana untuk menerima persembahan makanan di rumahnya. Bersama dengan rombongan para bhikkhu, Buddha mengunjungi rumah brahmana tersebut. Setibanya di tempat tujuan, brahmana tersebut bukannya mempersembahkan makanan kepada Buddha dan para bhikkhu, ia malah mencaci maki Buddha dengan kata-kata kasar.

Dengan tenang Buddha bertanya kepada brahmana tersebut, “Apakah tamu-tamu mengunjungi rumahmu O brahmana?”

“Ya”, jawab brahmana.

“Apa yang engkau lakukan ketika para tamu hadir?”

“Saya akan menyiapkan jamuan yang istimewa.”

“Jika mereka tidak makan, apa yang engkau lakukan atas hidangan yang telah disiapkan?”

“Wah, dengan senang hati saya akan makan sendiri hidangan tersebut.”

“Demikianlah O brahmana, engkau telah mengundang Bhagava dan engkau telah menjamu Bhagava dengan caci maki. Bhagava tidak menerimanya. Semua itu akan kembali kepadamu.”
Buddha mengatakan “Jika seseorang mencaci maki seorang suci dengan kata-kata yang tidak pantas, maka semua keburukan itu akan kembali kepadanya. Ini bagaikan melempar debu berlawanan dengan angin dan debu tersebut akan mengenai wajahnya sendiri. Atau bagaikan seseorang yang meludah keatas dan ludah tersebut akan jatuh mengenai wajahnya sendiri.”

Ada sebuah syair yang berbunyi, “Bunga yang mekar siap menerima embun yang jatuh dengan lembut dan tahan dengan hujan yang deras. Sama halnya ketika kita ditegur dengan cara yang halus atau keras, kita mesti tegar.”

Orang yang mau mendengar kritikan dan memperbaiki kesalahan adalah seorang satria yang memiliki kebesaran jiwa untuk kemajuan dirinya dan yang lain.

Seperti Yang Mulia Dalai Lama katakan, “Dari pengalaman saya sendiri, masa yang paling sulit dalam hidup ini merupakan masa yang paling menghasilkan pengetahuan dan pengalaman.” Jika Anda hanya menjalani segala sesuatunya dengan mudah, Anda akan merasa “Semuanya baik baik saja”. Hingga pada suatu hari ketika Anda menghadapi masalah, Anda merasa tertekan dan tidak berdaya. Melalui masa masa sulit Anda dapat belajar, dapat mengembangkan kekuatan di dalam diri, pengendalian diri, dan keberanian untuk menghadapi masalah. Siapa yang memberimu kesempatan seperti ini? Musuhmu.

Untuk mengembangkan benih belas kasih, kita mesti memiliki toleransi dan kesabaran. Dalam rangka melatih toleransi ini, musuh kita adalah guru terbaik. Karena musuh dapat mengajarkan kita toleransi, yang tidak dapat diajarkan oleh guru dan orangtua kita. Jadi untuk melatih toleransi, seorang musuh sungguh sangat menolong – mereka adalah kawan dan guru yang terbaik.”

Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Ketika Dipuji Tidak Menjadi Sombong (8)

Setiap orang tentunya merasa senang dipuji. Pujian bagi sementara orang dapat memotivasi mereka untuk terus berkarya, tetapi pujian juga dapat membuat orang terlena dan menjadi sombong.

Tidak ada yang salah terhadap pujian. Yang penting bagaimana kita menyikapi dan merespon pujian yang diberikan seseorang kepada kita.

Memperoleh pujian dari yang lain adalah sebuah penghargaan sekaligus pengakuan mereka terhadap keistimewaan yang dimiliki orang tersebut.

Setiap orang memiliki keistimewaannya sendiri. Karenanya tidak pantas bagi kita merasa “paling dibandingkan dengan yang lain, terlebih menyombongkannya dengan merendahkan orang lain.

Seorang guru Zen berkata, “Orang yang melakukan kebaikan dengan pamrih tidak ada kebajikan. Orang yang menonjolkan diri akan menarik perhatian orang lain. Itu bukan kebijaksanaan melainkan kebodohan”

Banyak orang berlomba menyombongkan diri dan merendahkan orang lain dengan memamerkan karya dan materi mereka. Orang bijaksana bersikap rendah hati dengan tidak merendahkan orang lain.

Seorang guru berkata kepada muridnya, “Mari kita berlomba menjadi yang paling rendah. Yang menang boleh makan kue ini.”

“Baiklah Guru, saya adalah seekor kuda.”, kata si murid.

“Saya kotoran kuda itu”, jawab sang Guru. 

Si murid berpikir sejenak, kemudian dengan semangat ia menjawab,”Saya adalah seekor cacing di dalam kotoran itu”.

“Sedang apa kau disana?”, tanya sang Guru.

“Saya sedang menikmati musim panas sambil minum jus”, jawab si murid dengan penuh semangat.

“Baiklah kalau begitu saya mengaku kalah”, jawab gurunya sambil mengambil kue itu dan memakannya.

Si murid jadi bingung, tapi kemudian ia mengerti bahwa gurunyalah yang memenangkan perlombaan itu karena beliau mengaku kalah.

Akhirnya si murid memperoleh sebuah pengertian bahwa yang rendah hati itu sungguh bernilai.

Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Ciri Orang Bijak (7)

Siladitya adalah seorang pemuda daerah yang menjadi aktivis di sebuah vihara kecil dan sederhana. Dalam hubungannya dengan teman-teman sesama aktivis, ia sangat disenangi dan dikagumi. Bukan karena penampilannya yang tampan, tetapi lebih dikarenakan adanya keindahan dalam dirinya.
Keindahan apakah yang dimilikinya hingga membuat teman-teman menyenanginya?
Sebenarnya tidak ada hal yang istimewa. Sederhana saja, ia hanyalah seorang yang periang, rendah hati, suka menolong dan tidak merendahkan yang lain.
Kehadirannya dalam setiap pertemuan menambah semangat dan kegembiraan tersendiri bagi teman-teman lainnya. Ia telah menjadi figur ideal bagi teman-temannya.

Seperti yang Buddha sabdakan di hutan Jeta dekat kota Savatthi kepada seorang perumah tangga mengenai ciri orang bijak. Pada waktu itu Buddha bersabda, “O, perumah tangga, seseorang dikatakan bijak bila ia memiliki empat ciri. Apakah keempat ciri tersebut? Dalam hal ini, ketika ia dipuji orang lain, ia tidak menjadi sombong; begitu juga ketika ia mendapat celaan dari yang lain, ia tidak menjadi marah; ia memuji dengan tulus perbuatan baik orang lain. Dan yang terakhir, ketika ia mengetahui kesalahan orang lain, ia ragu akan hal itu. Inilah empat ciri orang bijak.”

Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share