<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; penderitaan</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/tag/penderitaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 18:12:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kebahagiaan dan Penderitaan Selalu Hidup Berdampingan dalam Pikiran Manusia</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2011/11/kebahagiaan-dan-penderitaan-selalu-hidup-berdampingan-dalam-pikiran-manusia/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2011/11/kebahagiaan-dan-penderitaan-selalu-hidup-berdampingan-dalam-pikiran-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 03:52:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[pedang]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[semu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=735</guid>
		<description><![CDATA[Dalam posting sebelumnya (Kebahagiaan dan Penderitaan), saya pernah menyebutkan bahwa kebahagiaan dan penderitaan adalah seperti 2 sisi pada satu pedang yang sama. Jika Anda melihat pedang samurai, satu sisi adalah sisi yang tumpul dan sisi lainnya adalah sisi yang tajam. Anda tidak akan mengatakan bahwa pedang itu berbahaya disatu sisi dan tidak berbahaya disisi lainnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam posting sebelumnya (<a title="Kebahagiaan dan Penderitaan" href="http://www.hardychen.com/2011/02/kebahagiaan-dan-penderitaan/" target="_blank">Kebahagiaan dan Penderitaan</a>), saya pernah menyebutkan bahwa kebahagiaan dan penderitaan adalah seperti 2 sisi pada satu pedang yang sama.<br />
Jika Anda melihat pedang samurai, satu sisi adalah sisi yang tumpul dan sisi lainnya adalah sisi yang tajam. Anda tidak akan mengatakan bahwa pedang itu berbahaya disatu sisi dan tidak berbahaya disisi lainnya. Anda hanya akan mengatakan bahwa pedang itu berbahaya, jika Anda senang bermain-main dengannya.<br />
<span id="more-735"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataannya, pedang tidak akan melukai Anda jika Anda tidak menggunakannya atau menggunakannya dengan sangat hati-hati. Jadi bisa disimpulkan, bahaya dari pedang timbul dari aksi yang dilakukan pemakai pedang pada pedang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pertanyaannya, bagaimana Anda memakai pedang itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Satu sisi pedang tidak akan meninggalkan sisi pedang lainnya. Sisi yang tumpul tidak akan meninggalkan sisi yang tajam, begitupun sebaliknya. 2 sisi tersebut adalah bagian dari satu pedang yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga sama halnya dengan kebahagiaan dan penderitaan.<br />
Kebahagiaan semu tidak akan jauh dari penderitaan semu dan penderitaan semu juga tidak akan jauh dari kebahagiaan semu.<br />
Anda mengenal kebahagiaan semu karena Anda tahu bahwa lawan dari kebahagiaan itu, yaitu penderitaan semu juga eksis (ada), demikian pula sebaliknya. 2 hal tersebut adalah satu set yang tak terpisahkan.<br />
Maka dari itu jika Anda melekat pada salah satunya, tidak tertutup kemungkinan Anda juga akan bertemu dengan sisi yang satunya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mengapa dikatakan semu?<br />
Karena hanya hal-hal yang sifatnya semu yang memiliki dualitas. Hal-hal yang semu adalah hal-hal yang sifatnya sementara, selalu berubah-ubah. Ada panas dan ada dingin, ada badai dan ada hari yang cerah, ada tangis dan ada tawa, ada penderitaan dan ada kebahagiaan.<br />
Jika satu sisi hilang/tenggelam, maka sisi yang lainnya akan muncul.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika seseorang yang kaya raya tiba-tiba kehilangan kemakmurannya, ia akan menderita. Dan jika seseorang yang dicintai tiba-tiba kehilangan orang yang mencintainya, ia juga akan menderita.<br />
Seseorang yang sakit bisa jatuh sakit, seseorang yang sekarat bisa berjuang dan sembuh. Fluktuasi seperti ini adalah wajar di dunia nyata dan inilah yang dinamakan &#8220;sesuatu yang tidak memuaskan&#8221;.<br />
Hal-hal semu selalu tidak memuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda bisa saja mulai merasakan penderitaan saat Anda mulai memikirkannya. Anda juga bisa saja belum merasa puas sebelum kebahagiaan itu berakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang bisa saja mengatakan bahwa inilah hidup, inilah yang harus kita terima, inilah yang harus kita jalani, inilah takdir kita. Kita harus menderita untuk bahagia. (Dalam arti lain : Kita harus mengenal penderitaan agar kita bisa menghargai kebahagiaan)</p>
<p style="text-align: justify;">Benarkah itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Kita menderita untuk bahagia dan bahagia untuk menderita. Kita membiarkan diri kita diombang-ambingkan antara kebahagiaan dan penderitaan, penderitaan dan kebahagiaan.<br />
Sebentar di surga kemudian terjun bebas ke neraka?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kita makhluk yang merdeka?<br />
Jika kita seperti itu maka kita tidak pernah merdeka. Tidak sekalipun.<br />
Kita seperti sebatang kayu yang diseret arus ke sebuah tempat yang kita sendiri tidak tahu tempat seperti apa yang akan kita tuju.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang bisa saja mengatakan : &#8220;go with the flow&#8221;. Ikuti aliran kehidupan baik itu senang ataupun sedih, bahagia atau menderita, atau tidak kedua-duanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar, ikuti aliran. Kenyataanya, kita tidak bisa lari dari perubahan. Apa yang kita miliki, kita lihat dan kita rasakan saat ini adalah subyek dari perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun tidakkah kita punya kuasa bahkan sedikit saja untuk hidup lebih baik dalam angin perubahan?<br />
Jika kita mengenal perubahan, bisakah kita beradaptasi terhadap perubahan?<br />
Bisakah kita hidup dengan pikiran yang sama seperti saat kita masih sehat jika tiba saatnya tubuh kita mulai melemah dan digerogoti penyakit?<br />
Bisakah kita tersenyum bebas seperti sewaktu kita masih anak-anak pada saat kita sudah hampir menemui ajal?</p>
<p style="text-align: justify;">Jika ada kebahagiaan datang, kita melekat pada kebahagiaan itu, dan jika kemalangan yang datang, kita juga melekat pada kemalangan itu.<br />
Suatu ketika, jika kita lengah, pedang 2 sisi itu akan melukai kita. Apa yang dilukai bukanlah tubuh fisik, namun pikiran kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Luka di pikiran adalah asal dari semua penderitaan.<br />
Rasa sakit timbul dipikiran, bukan pada bagian tubuh yang dilukai. Rasa sakit diciptakan pikiran, begitu juga dengan penderitaan dan kebahagiaan semua ada dalam pikiran.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita memenuhi pikiran kita dengan semua sensasi itu, baik sakit atau senang.<br />
Kita tidak pernah bebas dari penjara pikiran kita sendiri. Kita tidak dapat mencegah pikiran kita membuat penjara bagi dirinya sendiri setelah menerima respon-respon dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah pikiran kita seperti anak kecil yang tersesat. Anak kecil yang akan senang saat dapat permen dan menangis saat tidak diberikan permen.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ketika kita sudah mengerti semua ini, apa yang bisa kita lakukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kita akan tetap seperti anak kecil, atau kita akan tumbuh dewasa?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kita masih akan terikat pada sesuatu yang semu dan hidup diseret-seret masa lalu ataupun masa depan ataupun masa sekarang?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kita masih ingin memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kita miliki (karena sifatnya yang semu).?<br />
Siapa Anda dan siapa saya? Apa yang saya miliki yang Anda tidak miliki atau sebaliknya apa yang Anda miliki yang saya tidak miliki?</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataannya tidak satupun dari Anda ataupun saya memiliki apa yang (saya ataupun Anda) kira bahwa (saya atau Anda) memilikinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang sesungguhnya berbahagia adalah orang yang tidak diikat tempat dan waktu yang dilaluinya, sebaliknya membawa kebahagiaan dalam setiap tempat dan waktu yang dilaluinya.<br />
Inilah yang disebut kebahagiaan yang sebenarnya.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2011%2F11%2Fkebahagiaan-dan-penderitaan-selalu-hidup-berdampingan-dalam-pikiran-manusia%2F&amp;title=Kebahagiaan%20dan%20Penderitaan%20Selalu%20Hidup%20Berdampingan%20dalam%20Pikiran%20Manusia" id="wpa2a_2"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2011/11/kebahagiaan-dan-penderitaan-selalu-hidup-berdampingan-dalam-pikiran-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelemahan Saya Adalah Sesuatu Yang Paling Saya Suka</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2011/04/kelemahan-saya-adalah-sesuatu-yang-paling-saya-suka/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2011/04/kelemahan-saya-adalah-sesuatu-yang-paling-saya-suka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 04:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[Jika kemarin saya menulis artikel tentang sesuatu yang paling saya benci, maka kali ini saya menuliskan yang sebaliknya yaitu bahwa hal-hal yang paling saya sukai juga adalah kelemahan terbesar saya. Berapa dari kita yang berharap bahwa keinginan kita terpenuhi. Ada berapa banyak orang di dunia ini yang tidak henti-hentinya bermimpi bahwa suatu saat nanti mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kemarin saya menulis artikel tentang sesuatu yang paling saya benci, maka kali ini saya menuliskan yang sebaliknya yaitu bahwa hal-hal yang paling saya sukai juga adalah kelemahan terbesar saya.</p>
<p>Berapa dari kita yang berharap bahwa keinginan kita terpenuhi. Ada berapa banyak orang di dunia ini yang tidak henti-hentinya bermimpi bahwa suatu saat nanti mereka akan menjadi ini atau menjadi seperti itu.</p>
<p>Setelah semua impian-impian itu tercapai apakah artinya pekerjaan telah usai dan kebahagiaan itu tidak akan pernah hilang?<br />
<span id="more-655"></span></p>
<p>Kenyataannya di dunia ini semua berubah.<br />
Semua yang kita miliki sekarang pada saatnya nanti akan kita tinggalkan. Baju-baju yang baru dibeli akan terlihat sangat menawan hari ini namun akan menjadi usang beberapa tahun kemudian.<br />
Kulit yang mulus hari ini juga perlahan-lahan akan menjadi keriput.<br />
Kebahagiaan tanpa henti juga akan membangun rasa bosan, karena mencapai kebahagiaan terkadang sama sulitnya dengan menghargai kebahagiaan tersebut.</p>
<p>Jika semua hal baik yang saya benci ataupun saya suka pada akhirnya akan membuat saya menderita maka hal apakah yang benar-benar akan membuat saya bahagia?</p>
<p>Pada awalnya saya berpikir bahwa segala jenis kebahagiaan ini adalah palsu, dan saya berusaha menolak kenyataan. Namun kenyataannya, baik kebahagiaan ataupun kesengsaraan berada pada koin yang sama di sisi yang berbeda.</p>
<p>Jika saya hanya melihat penderitaan dan mengabaikan sisi sebaliknya yaitu kebahagiaan, maka saya akan merana. Sebaliknya jika saya hanya melihat kebahagiaan dan mengabaikan sisi lainnya, maka saya hanya akan terus bermimpi.</p>
<p>Yang perlu saya lakukan adalah melihat segala hal sebagaimana adanya. Tidak terlarut dalam kesedihan ataupun kegembiraan, dan dengan hati ceria mengarungi lautan kehidupan.<br />
Ada sinar terang mentari pagi, ada juga terik matahari di siang hari, ada badai dan ada hujan, semuanya adalah permainan dalam kehidupan. Jika saya memainkannya dengan benar, tidak panik dan tidak kecewa, tidak benci dan tidak menggantungkan harapan berlebihan, saya akan mengetahui celah dimana saya bisa hidup dengan ceria. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2011%2F04%2Fkelemahan-saya-adalah-sesuatu-yang-paling-saya-suka%2F&amp;title=Kelemahan%20Saya%20Adalah%20Sesuatu%20Yang%20Paling%20Saya%20Suka" id="wpa2a_4"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2011/04/kelemahan-saya-adalah-sesuatu-yang-paling-saya-suka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan : Pertanyaan Bagi Diri Sendiri</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2011/02/renungan-pertanyaan-bagi-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2011/02/renungan-pertanyaan-bagi-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Feb 2011 01:08:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kebencian]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=621</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah Anda ditolak oleh seseorang? Jika pernah, bagaimanakah reaksi Anda? Apakah Anda akan marah, kecewa? Apakah Anda akan berusaha membuat orang yang menolak Anda menyesal di kemudian hari karena telah menolak Anda? Apakah Anda bahkan sudah menyusun plot jika suatu saat nanti orang tersebut menyatakan penyesalannya, Anda secara kejam akan menolak dirinya agar dia merasakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pernahkah Anda ditolak oleh seseorang?<br />
Jika pernah, bagaimanakah reaksi Anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah Anda akan marah, kecewa? Apakah Anda akan berusaha membuat orang yang menolak Anda menyesal di kemudian hari karena telah menolak Anda?<br />
Apakah Anda bahkan sudah menyusun plot jika suatu saat nanti orang tersebut menyatakan penyesalannya, Anda secara kejam akan menolak dirinya agar dia merasakan bagaimana rasanya ditolak?<br />
<span id="more-621"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda pernah merasakan bagaimana rasanya ditolak oleh seseorang, jika Anda sudah tahu bagaimana rasanya menderita karena perasaan itu, masih perlukah Anda membuat orang lain merasakan penderitaan yang sama? Apakah hanya dengan melihat penderitaan orang lain barulah penderitaan Anda akan berkurang?</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda merasa puas setelah melihat orang lain menderita, apakah keadaan Anda akan menjadi lebih baik? Apakah karena sikap yang tidak terpuji itu orang-orang akan menyukai Anda? Apakah Anda benar-benar suka dibenci oleh orang lain?<br />
Apakah Anda berpikir kebencian dapat dipadamkan oleh kebencian? Apakah Anda pikir bahwa api dapat dipadamkan dengan api.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda tahu kebencian tidak membuat perasaan Anda menjadi lebih enak, mengapa Anda terus memelihara kebencian itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda merasa sedih, jika Anda merasa kecewa, jika Anda marah, jika Anda bahagia, yang perlu Anda tanyakan adalah mengapa?<br />
Mengapa begini, mengapa begitu?<br />
Seringkali Anda lupa bertanya pada diri sendiri, oleh karena itu Anda tidak tahu mengenai kebenaran yang akan menyingkap akar permasalahan Anda, dan memecahkannya.<br />
Sering juga Anda menarik kesimpulan yang salah karena saat bertanya dan saat menjawab Anda meracuninya dengan racun emosi yaitu kemarahan, kebencian, kesedihan, keputusasaan. Jika pertanyaan dijejali dengan perasaan semacam itu dan disaat membuat jawaban juga disisipkan emosi negatif seperti itu, jawaban seperti apa yang Anda harapkan?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah itu akan menjadi jawaban yang jujur, apakah jawaban itu adalah kebenaran dari kenyataan yang sebenarnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawaban itu hanya akan menjadi perwujudan emosi Anda. Anda tidak akan mendapatkan banyak kemajuan yang berarti kecuali dalam hal memperburuk suasana hati Anda sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda ingin tahu kebenarannya, maka janganlah bohongi diri Anda sendiri. Tanyalah secara jujur pada diri Anda sendiri. Apakah keinginan dan harapan Anda selama ini sudah diperjuangkan dengan cara dan motivasi yang benar? Apakah kemalangan memang tidak patut jatuh pada diri Anda yang Anda rasa tidak bersalah?</p>
<p style="text-align: justify;">Ada banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan mudah.<br />
Ada yang bilang karena pertanyaannya terlalu sulit, namun benar juga adanya bahwa pertanyaan menjadi sulit adalah karena Anda berpikir terlalu sulit (rumit).</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda merenungkan dengan baik, bahkan penipu paling pandai, penipu yang tak terlihat namun bekerja di balik layar &#8211; sama sekali tidak akan punya kesempatan untuk menipu Anda.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2011%2F02%2Frenungan-pertanyaan-bagi-diri-sendiri%2F&amp;title=Renungan%20%3A%20Pertanyaan%20Bagi%20Diri%20Sendiri" id="wpa2a_6"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2011/02/renungan-pertanyaan-bagi-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadilah Tuan Bagi Sendiri</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2011/02/jadilah-tuan-bagi-sendiri/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2011/02/jadilah-tuan-bagi-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 04:24:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[kesenangan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[tenang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=611</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari ada 2 orang yang berdebat tentang sebuah bendera yang berkibar. Orang pertama mengatakan bahwa benderalah yang bergerak, sedangkan orang kedua berpendapat bahwa angin yang bergerak. Jika angin tidak bergerak mana mungkin bendera bisa berkibar. Pada saat itu muncullah seorang menyela pembicaraan mereka. Dia mengatakan bahwa yang bergerak adalah pikiran mereka sendiri. Di dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu hari ada 2 orang yang berdebat tentang sebuah bendera yang berkibar.<br />
Orang pertama mengatakan bahwa benderalah yang bergerak, sedangkan orang kedua berpendapat bahwa angin yang bergerak. Jika angin tidak bergerak mana mungkin bendera bisa berkibar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu muncullah seorang menyela pembicaraan mereka. Dia mengatakan bahwa yang bergerak adalah pikiran mereka sendiri.<br />
<span id="more-611"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia ini, tidak jarang kita temui orang berdebat hanya karena masalah sepele yang meskipun ditemukan jawabannya juga tidak akan terlalu berpengaruh selain membuat ego pemenang menjadi semakin besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua hal mulai dari ego, yang berlanjut pada kebanggaan, kesenangan, penderitaan, kekecewaan, kesedihan semuanya berasal dari pikiran (persepsi).<br />
Orang yang tidak memiliki kesadaran yang tinggi akan terjebak diantara itu semua, dan hal tersebut tentunya tidak memuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Teman saya suatu kali pernah berkata bahwa ia merasa sangat bosan, waktu berjalan terlalu lambat. Sedangkan teman yang lain malah berkata waktu berjalan sangat cepat.<br />
Lalu diantara mereka mana yang benar?</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa jadi karena yang satu punya banyak pekerjaan yang tidak cukup waktu untuk diselesaikan, sedangkan yang lainnya punya banyak waktu sehingga tidak tahu harus melakukan apa.<br />
Bisa juga karena yang satu bergerak sangat cepat sehingga ia menganggap orang lain/dunia sekitarnya yang bergerak terlalu lambat atau sebaliknya ada orang yang bergerak terlalu lambat sehingga merasa dunia sekitarnya bergerak sangat cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua hanya masalah relativitas dan orang yang tidak dapat menyeimbangkan dirinya akan terjebak ke dalam dualisme yang tak berkesudahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ritme, ada dalam pikiran manusia. Setiap manusia punya ritmenya sendiri-sendiri.<br />
Mungkin Anda dirasa terlalu cepat oleh teman-teman Anda atau sebaliknya mereka merasa Anda terlalu lambat dalam mengerjakan sesuatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun bagaimanapun sebuah pekerjaan mesti diselesaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia ini ada banyak hal, ada banyak frekwensi, ada banyak variasi, dan ada banyak ritme, dan setiap orang punya habitatnya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda bisa menemukan tempat yang cocok bagi diri Anda sendiri, baik di luar ataupun di dalam (kesadaran) diri Anda sendiri, Anda tidak akan mudah disesatkan oleh dinamisme di luar ataupun di dalam diri Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya lebih tertarik untuk membahas dinamisme di dalam diri kita.<br />
Seperti kita ketahui, pikiran kita adalah apa yang kita persepsikan sebagai &#8216;dunia&#8217;. Kita mengenal sesuatu sebagai bagus, atau jelek, harum atau bau, rapi atau berantakan &#8211; semuanya berdasarkan persepsi kita sendiri.<br />
Dari persepsi itu, kita mengembangkan yang dinamakan keinginan. Oh, itu bagus dan ini tidak bagus; saya suka yang bagus. Oh itu menyenangkan dan itu menyebalkan; saya benci hal-hal menyebalkan. Oh, itu menarik dan ini membosankan; saya menginginkan hal itu.<br />
Intinya dari penilaian muncullah keinginan dan ketidakinginan (ketidaksukaan).<br />
Sedangkan seperti yang kita ketahui bersama, dunia ini tidak selalu seperti yang kita harapkan. Tidak semua harapan kita bisa terkabul. Dari sanalah kita senang dan kemudian menderita, dan kemudian senang dan menderita lagi.<br />
Perasaan kita tidak henti-hentinya berkutat pada kesenangan dan penderitaan. Dan kita menganggap, inilah yang dinamakan hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">Yah.. memang beginilah hidup. Kita dikekang oleh kesenangan dan penderitaan. Kita bukanlah makhluk merdeka sepenuhnya. Kita adalah tawanan dari kehidupan yang memiliki sisi atas dan sisi bawah, ada kesenangan dan ada penderitaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu bagaimana caranya kita lepas dari hal tersebut?</p>
<p style="text-align: justify;">Ada orang yang menyarankan supaya kita berusaha keras melenyapkan keterikatan semacam itu.<br />
Namun melenyapkan bukannya perkara gampang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang bilang karena hidup ini tidak berarti, mengapa tidak mengakhiri hidup?<br />
Itu jelas adalah cara berpikir yang salah. Kemanapun kita pergi, bahkan setelah kematian, hukum universal tentang penderitaan dan kesenangan tidak akan meninggalkan diri kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sebuah kitab bela diri Tiongkok kuno pernah dikatakan bahwa terkadang cara terbaik untuk bertahan bukanlah menahan serangan lawan dengan tenaga (keras dilawan dengan keras), sebaliknya adalah dengan menerima pukulan lawan dan mengembalikan tenaga serangan kepada aggressor.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini nampaknya mustahil, namun ini bisa dilakukan, asalkan kita mengerti tekniknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sama halnya dengan diri kita yang selalu dihujani dengan banyak jenis penderitaan, kita bisa mengelak dengan jalan menerima perasaan itu apa adanya. Biarkan ia disana dan jangan diganggu gugat. Biarkan pikiran kita tenang seperti halnya batu karang yang tidak bergeming saat diterjang ombak.<br />
Seiring berjalannya waktu, kita akan lebih sadar, lebih eling terhadap perasaan dalam diri kita sendiri.<br />
Kita akan memiliki kontrol yang lebih kuat terhadap perasaan, sedangkan penderitaan itu akan tetap kita rasakan sampai ia hilang dengan sendirinya karena kita tidak lagi memberikan makanan bagi perasaan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan lain akan datang dan mengganggu, namun jika kita dispilin dengan menjaga pikiran tetap tenang, halangan-halangan itu justru akan membuat kesadaran kita lebih kuat dan lebih tahan terhadap serangan &#8216;dunia luar&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-lahan, kita akan keluar dari cengkreman kesenangan dan penderitaan duniawi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu kita seperti berjalan tanpa beban. Kemanapun kita pergi, kita membawa kedamaian dalam diri kita dan secara otomatis ikut membawa kebahagiaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada satupun hal yang akan membuat kita terikat sepanjang perjalanan hidup kita. Pada saat itu, kita bisa dikatakan sudah memenangkan pertempuran dengan diri sendiri.<br />
Pada saat itulah kita bisa mengatakan bahwa kita adalah tuan bagi diri kita sendiri.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2011%2F02%2Fjadilah-tuan-bagi-sendiri%2F&amp;title=Jadilah%20Tuan%20Bagi%20Sendiri" id="wpa2a_8"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2011/02/jadilah-tuan-bagi-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebahagiaan dan Penderitaan</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2011/02/kebahagiaan-dan-penderitaan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2011/02/kebahagiaan-dan-penderitaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 09:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[bijak]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=591</guid>
		<description><![CDATA[Luka di tubuh tidak lebih sakit dibanding duka di pikiran. Pada saat pikiran ini merasa sedih, semuanya terlihat tidak sama. Semuanya terlihat buruk, dan masa depan terasa suram. Anda benci sinar matahari, nyanyian burung terdengar tidak merdu, dan hembusan angin sejuk membuat pikiran ini semakin sepi dan menderita. Pada saat itu pikiran ini seperti sedang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Luka di tubuh tidak lebih sakit dibanding duka di pikiran.<br />
Pada saat pikiran ini merasa sedih, semuanya terlihat tidak sama.<br />
Semuanya terlihat buruk, dan masa depan terasa suram. Anda benci sinar matahari, nyanyian burung terdengar tidak merdu, dan hembusan angin sejuk membuat pikiran ini semakin sepi dan menderita.<br />
<span id="more-591"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu pikiran ini seperti sedang berjalan menuju ke jurang dengan kecepatan tinggi, mengerem ataupun mengelak tidak akan sempat.<br />
Satu-satunya harapan adalah keajaiban. Bisakah jurang itu menghilang tepat ketika saya akan menabraknya?</p>
<p style="text-align: justify;">Jurang adalah simbolisasi dari kehancuran. Ketika saya jatuh ke jurang, pada saat itu saya akan hancur.<br />
Saya mengerti bahwa saya tidak boleh membawa kerinduan ataupun penyesalan dalam pikiran saya. Lebih-lebih saya tidak boleh membawa siksaan dalam pikiran saya karena semua hal itu akan menyebabkan saya jatuh ke jurang.<br />
Namun mengusir pikiran seperti itu bukan perkara gampang. Rasanya saya seperti diikuti seorang anak yang sangat nakal yang selalu mengganggu saya. Sekuat apapun saya berusaha mengusir anak itu, ia tetap tidak mau pergi.<br />
Lalu saya berpikir, jika dia tidak mau pergi, bagaimana jika saya yang pergi?<br />
Saya berpikir bahwa di tempat lain tidak akan ada anak nakal yang mengganggu saya lagi.<br />
Namun ternyata saya keliru. Di dunia yang luas ini anak nakal ada di mana-mana. Anda tidak dapat melarikan diri darinya. Ia ada karena Anda mengizinkannya untuk berada di sana, berada di dalam pikiran Anda. Kenakalannya ada di dalam pikiran Anda. Yang Anda benci adalah pikiran Anda tentang kenakalan anak itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kerinduan adalah tali yang mengikat diri saya dengan penderitaan. Ikatan ini begitu kuat dan akan semakin kuat ketika saya memaksa untuk melepaskan diri.<br />
Saya sadar, agar dapat sepenuhnya terbebas, saya harus &#8216;menghilang&#8217;.<br />
Saya harus melupakan siapa diri saya, darimana saya datang, dan kemana saya akan pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Penderitaan selalu melekat pada ego. Dan ketika ego menghilang dimanakah ia dapat melekat?<br />
Saya tahu begitu saya dipenjara oleh pemikiran negatif, saya melihat dunia dengan cara yang negatif pula.<br />
Jika saya melihat dunia dengan kaca mata positif, maka saya juga akan melihat dunia dengan cara yang positif.<br />
Dua hal tersebut, negatif dan positif selalu berkecamuk dalam pikiran saya. Mereka seperti 2 saudara yang tidak kenal lelah membuat kekacauan dimana-mana. Mereka adalah 2 sisi dari satu pedang yang sama.<br />
Yang satu adalah sisi yang tumpul dan satunya lagi adalah sisi yang tajam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sudut pandang pengamat, Anda akan melihat bahwa pedang adalah benda yang berbahaya. Anda tidak akan mengatakan bahwa satu sisi pedang sangat berbahaya dan sisi pedang lainnya tidak berbahaya. Anda hanya akan mengatakan bahwa pedang sangat berbahaya,  jika Anda senang bermain-main dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah sisi pedang tidak akan meninggalkan sisi lainnya. Begitupun juga kebahagiaan semu tidak akan jauh meninggalkan kesedihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi orang bijak, mereka tidak lagi bermain-main dengan pedang, melainkan memanfaatkan pedang itu dengan hati-hati sehingga tidak melukai diri mereka sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga dalam kehidupan, orang bijak hendaknya sadar sepenuhnya sehingga dirinya tidak dipermainkan oleh permainan kehidupan yang mengandung 2 sisi yang saling berlawanan namun berada dalam satu entitas yang sama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi orang bijak, selalu eling dan waspada setiap saat. Tidak tenggelam dalam kesedihan dan tidak terlena oleh kebahagiaan. Pikirannya murni seperti air. Pedang setajam apapun tidak akan mampu membelahnya.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2011%2F02%2Fkebahagiaan-dan-penderitaan%2F&amp;title=Kebahagiaan%20dan%20Penderitaan" id="wpa2a_10"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2011/02/kebahagiaan-dan-penderitaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan &#8211; Memberi dan Menerima</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2011/01/renungan-memberi-dan-menerima/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2011/01/renungan-memberi-dan-menerima/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Jan 2011 10:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[akibat]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>
		<category><![CDATA[sebab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=579</guid>
		<description><![CDATA[Dimana mana kita sering mendengar kata cinta. Apa sebenarnya cinta? Bagaimana mencintai? Semua orang punya persepsi mereka sendiri sendiri.. Cinta harusnya bukan sebuah hal yang sifatnya egois, namun seseorang pernah berkata kepada saya bahwa cinta sudah seharusnya egois. Jika begitu adalah pandangannya, saya juga tidak bisa menyalahkan dia. Karena beginilah yang ia lihat dari dunia, beginilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dimana mana kita sering mendengar kata cinta. Apa sebenarnya cinta?<br />
Bagaimana mencintai? Semua orang punya persepsi mereka sendiri sendiri..<br />
Cinta harusnya bukan sebuah hal yang sifatnya egois, namun seseorang pernah berkata kepada saya bahwa cinta sudah seharusnya egois. Jika begitu adalah pandangannya, saya juga tidak bisa menyalahkan dia. Karena beginilah yang ia lihat dari dunia, beginilah ia merasakan manis dan pahitnya dunia.<br />
<span id="more-579"></span><br />
Namun saya percaya cinta bisa lebih besar dari hal itu. Meskipun mungkin tidak semua orang mempunyai hati yang cukup luas untuk menampung cinta yang semacam itu.<br />
Saya selalu berpikir, demi cinta kita bisa mengorbankan banyak hal. Namun setelah berpikir lebih mendalam, saya menyadari bahwa demi cinta sama sekali tidak ada yang namanya pengorbanan.<br />
Jika kita memberikan banyak hal demi cinta, bagaimana mungkin kita bilang bahwa hal itu namanya berkorban. Berkorban adalah istilah yang diberikan jika kita merasa menderita setelah memberikan sesuatu. Jika kita senang melakukannya, jika kita merasa bahagia melakukannya, apakah hal tersebut masih bisa disebut sebagai pengorbanan?<br />
Saya lebih suka menyebutnya sebagai ketulusan.<br />
Kita bisa menjadi letih, lelah, atau sakit setelah kita melakukan sesuatu hal demi orang yang kita cintai. Namun itu bukanlah penderitaan yang sesungguhnya.<br />
Penderitaan yang sesungguhnya adalah jika kita merasa menyesal atas semua perbuatan baik yang kita lakukan, karena kita melakukan sesuatu hanya dengan mengharapkan balasan yang pada akhirnya tidak satupun yang kita terima.<br />
Itulah yang dinamakan penderitaan yang sesungguhnya. Penderitaan timbul karena tidak adanya ketulusan.<br />
Jika kita bisa melihat gambar yang lebih besar dari sebuah persoalan,<br />
kita akan mengerti bahwa diri kita dan orang lain saling terkait satu sama lain. Setiap individu adalah tetesan air yang membentuk sebuah samudra. Meskipun ada tetes air dan ada samudera, namun secara prinsip kita semua adalah sama yaitu air. Jadi kenapa kita selalu membedakan diri kita dengan orang lain? Dia bahagia, saya menderita, dia kaya, saya miskin. Jika kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, semua konsep tersebut hanyalah dualisme dan predikat sementara. Pada akhirnya semuanya akan berubah, melebur, mati dan kemudian terbentuk kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita perhatikan, nasib orang tua mempengaruhi nasib kita sebagai seorang anak, dan nasib kita sebagai anak juga berpengaruh pada orang tua kita. Bukan hanya itu, pertemuan kita dengan banyak orang, dengan banyak teman-teman juga telah mempengaruhi hidup mereka dan mereka juga sudah mempengaruhi hidup kita.<br />
Jika kita dilukai, itu adalah akibat yang kita terima. Kita mungkin merasa sakit pada saat kita dilukai orang lain, namun tahukah bahwa orang yang terluka bukan hanya kita, melainkan juga orang yang melukai kita? Cepat atau lambat setiap orang akan menerima buah dari apa yang telah mereka lakukan. Jadi pada saat kita dirugikan orang lain hendaknya kita bersimpati, karena hutang kita telah berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.<br />
Hal yang sama terjadi pada saat kita berbuat baik pada orang lain, kita tidak seharusnya punya pandangan bahwa hanya orang lain yang diuntungkan atas perbuatan kita, sedangkan kita rugi. Pada saat kita berbuat baik pada orang lain, kita juga berbuat baik pada diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia ini tidak ada satupun orang yang tidak pantas menerima sebuah kebaikan, karena ini semua adalah hukum sebab akibat.<br />
Hukum yang tidak semua bagiannya dapat dilihat jelas oleh kebanyakan orang sehingga membuat mereka berpikir bahwa di dunia ini ada orang yang pantas dan tidak pantas mendapat kebaikan dari orang lain.<br />
Terkadang kita bertemu dengan orang licik yang memanipulasi kita sehingga kita menanggap baik dirinya dan berbuat banyak kebaikan kepadanya. Janganlah kita berpikir bahwa kebaikan yang dia terima hari ini adalah hasil dari perbuatan baik di masa lalu. Sebaliknya ia sedang membuat sebuah sebab bagi sebuah akibat dimasa yang akan datang, sedangkan bagi diri kita sendiri inilah akibat/buah yang pantas kita terima akibat perbuatan kita di masa lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa orang mengatakan bahwa hal ini tidak adil. Bagaimana mungkin hutang bisa berpindah? Namun tidakkah kita pernah berpikir bahwa piutang juga mengikuti prinsip yang sama?<br />
Maka dari itulah, ada orang yang pernah bilang bahwa saya mencintaimu karena saya berhutang padamu di masa lalu. Jadi di kehidupan ini kamu tidak perlu merasa berhutang apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun kita tidak perlu memikirkan hal itu. Jika saya adalah sama dengan semua orang, maka berbuat baik bagi orang lain sama dengan berbuat baik pada diri sendiri. Mencintai seseorang secara tulus sama dengan mencintai diri sendiri. Apa yang perlu dikeluhkan?<br />
Mengapa harus menderita? Yang diperlukan cuma keuletan untuk menerima segala sesuatu apapun itu apa adanya. Rasa sakit sebagai rasa sakit, letih sebagai letih dan tidak memberi kesempatan bagi pikiran ini dikuasai semua bentuk penderitaan itu. Biarkanlah penderitaan itu<br />
tinggal di fisik dan pikiran namun jangan biarkan mereka berkuasa di dalam istana milik sendiri. Perlakukanlah tamu sebagai tamu dan tidak ada satu hal pun yang akan membuat kita menderita. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2011%2F01%2Frenungan-memberi-dan-menerima%2F&amp;title=Renungan%20%26%238211%3B%20Memberi%20dan%20Menerima" id="wpa2a_12"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2011/01/renungan-memberi-dan-menerima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Tidak Adil ?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 10:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[adil]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kebencian]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[melepas]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[Life is Not Fair? Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu. Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat? Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Life is Not Fair?<br />
Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu.<br />
Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat?<br />
Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah lagi keseimbangan jiwanya terganggu. Masih untung jika dia benar-benar jadi gila (setidaknya dia tidak perlu lagi memikirkan kemalangan tersebut), tapi kenyataannya dia masih waras dengan luka berat di hatinya.<br />
Inilah penderitaan.<br />
Lantas dia berkata : &#8220;Hidup TIDAK ADIL !!!&#8221;<br />
Life is unfair,&#8230; huh ?<span id="more-438"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja&#8230; jika hidup memang serba enak, tentunya dia tidak akan seberuntung ini bisa dilahirkan di dunia yang serba enak ini (dengan kata lain pejabat akhirat sudah keliru menaikkannya di pesawat menuju dunia yang salah) !</p>
<p style="text-align: justify;">Life is unfair?&#8230; yes !! Life is fair? &#8230; yes juga !!<br />
Jika semua hal di dunia ini berjalan dengan baik, maka sangatlah tidak adil buat orang-orang yang sedang mempersiapkan tiketnya ke neraka. Karena mereka jadi tidak punya tempat transit untuk mengisi bahan bakar pesawat mereka !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya adalah jika tidak hati-hati-hanya karena ketidaktahuan, ketidakpedulian dan kecerobohan, bisa-bisa Anda juga ikut terbuai naik pesawat kelas VIP &#8211; berlibur ke dunia paling hangat yang pernah ada, dan GRATIS tentunya! Sangat menggiurkan bukan????</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah seorang teman yang lain lagi bertanya &#8211; mengapa orang yang tidak bersalah menjadi korban &#8211; mengapa orang yang bersalah malah dipuji &#8211; puji?<br />
Ya&#8230; mana kutehek?<br />
Mungkin aja itu strategi dari &#8220;dunia bawah&#8221; supaya banyak orang bersedia menghabiskan &#8220;devisa&#8221; mereka &#8211; berlibur ke pulau hangat nun jauh disana. Siapa yang tahu??</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin beberapa orang lantas berpikir,&#8230; strategi black campaign &#8220;pulau hangat&#8221; tersebut sangat keji !<br />
Sejujurnya, kalo mau dikata itu keji, itu sih masih belum seberapa. Ada yang lebih keji lagi, yaitu diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba pikirkan bagaimana caranya kita meracuni diri sendiri dengan dendam, kebencian, iri, cemburu, dlsbg? Bukankah itu termasuk keji?<br />
Ada yang bilang bahwa itu pengaruh dari luar.<br />
Memang benar bahwa granat bisa meledak apabila dipicu, namun pertanyaannya mengapa granat bisa memiliki mekanisme yang membuat dirinya memiliki pemicu untuk menghancurkan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai sekarang pertanyaan itu masih belum terjawab dengan memuaskan, karena kepuasan itu sangat relatif terhadap orang yang mendengar jawaban itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jika tidak ingin menderita &#8211; maka lepaskanlah !</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Statement ini pernah ditanggapi secara ngawur oleh seseorang. Dia mengatakan &#8220;jika tidak ingin menderita &#8211; maka pergilah mati !&#8221;<br />
Tentu itu adalah statement sembrono dari mulut asbun (asal bunyi).<br />
Kecuali dia pernah pergi bertamasya ke alam setelah kematian dan pulang dengan membawa bukti-bukti dan asal usul yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa kehidupan setelah kematian tidak ada penderitaan, maka kata-katanya yang tadi masih belum dapat dipertanggung jawabkan !</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud dari pernyataan &#8220;jika tidak dapat menderita maka lepaskanlah&#8221; adalah jika memang tidak dapat banyak berbuat, maka tidak perlu banyak berbuat.<br />
Teman saya itu, dulunya adalah orang yang miskin sehingga sepiring nasi putih dengan tempe pun terasa sangat berharga, terasa sangat enak.<br />
Sekarang setelah dia mengalami masalah keluarga, meskipun keadaan ekonominya sudah jauh lebih baik, dia bagaimanapun juga sudah tidak mampu lagi merasakan nikmatnya sepiring nasi tempe!</p>
<p style="text-align: justify;">Beruntung dia masih punya sedikit cahaya dalam hatinya, sehingga usaha yang telah dirintisnya dengan susah payah selama beberapa tahun ini tidak dibiarkan terlantar begitu saja.<br />
Perlahan-lahan dia bisa bangkit dan menjadi orang yang lebih baik, mengingat kembali masa lalunya &#8211; belajar dari masa lalunya bahwa dia pernah mengalami hari-hari yang lebih berat dibanding problemnya yang sekarang &#8211; ia telah kembali ke semangat awalnya. Masa mudanya telah kembali !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Dia belajar bahwa sebanyak apapun ia kehilangan, ia tidak boleh dan tidak bisa kehilangan dirinya sendiri, sebab segala apa yang dimilikinya sekarang adalah hasil usaha dirinya sendiri, tidak perduli kehilangan berapa banyak selagi dia masih mempunyai modal &#8211; yakni dirinya sendiri, dia tidak perlu merasa takut.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkaca dari kasus itu, seorang temannya kemudian tidak menahan diri untuk mengutarakan pendapatnya &#8220;<em>memang benar terkadang proses itu lebih berharga dibanding hasil. orang yang terbuai akan hasil yang bagus akan semakin terperosok dan selamanya susah melepaskan diri darinya. mirip seperti kecanduan narkoba. hidup serba enak oi&#8230; naik kereta mewah oi&#8230; sampe lupa diri akhirnya masuk jurang oi&#8230; mati juga tidak membawa kereta mewahnya !!</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jika lengket, bagaimana lepaskan?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ini satu pertanyaan yang bikin kacau pikiran saya. Kok bisa lengket???<br />
Mendengar kata lengket, hal pertama yang saya pikirkan adalah permen karet !!!<br />
Tapi ternyata yang dia maksudkan adalah rasa sakit&#8230; dia tidak tahu bagaimana cara melepaskannya!<br />
Yah&#8230; terkadang semakin berusaha melepaskan malah semakin gak bisa dilepaskan.<br />
Lo, kok bisa???<br />
Mana kutehek !!!<br />
Memangnya benda apa yang bisa dilepaskan sesuka hatinya? Jika tulang Anda sakit, bagaimana caranya Anda melepaskan tulang tersebut dari daging Anda? Bah&#8230; konyol banget !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Kita ambil contoh permen karet tadi. Dikunyah enak&#8230; trus sakit gigi, waktu ke dokter disuruh lepaskan giginya malah gak mau. Takut katanya! Ya udah kalo begitu lepaskan aja dokternya trus simpan giginya !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengerti maksud moral dari cerita itu, ya bagus. Namun di dunia ini masih ada orang yang meskipun ngerti masih tetap nggak mau ngerti &#8211; mereka malah nanya &#8211; &#8220;Loh, kalo dokter bilang gak perlu cabut, cuma kasih obat tapi untuk sementara bakal tetap sakit gimana?&#8221;<br />
&#8220;Ya udah&#8230; ikutin lo saran dokternya &#8230; ditahan dong! Kalo gak mau sakit, ya pergi mati aja !&#8221;<br />
Pertanyaan menyebalkan ini akhirnya dijawab dengan jawaban yang juga sama menyebalkan dan juga sekaligus sembrono !</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tahapan melepaskan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pelepasan ada tahapnya. Semakin tinggi tahapnya semakin banyak penderitaan yang bisa dikurangi, namun semakin banyak juga yang harus &#8220;dikorbankan&#8221;. (Dikorbankan disini diberi tanda petik karena bagi orang-orang yang masih terikat kata pelepasan sama artinya dengan pengorbanan)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam satu sesi meditasi, melalui satu tahapan saya pernah mengalami bagaimana rasanya berjuang melawan sakit gigi. Konyol memang,&#8230; sakit gigi kok malah meditasi. Emangnya bisa fokus?<br />
Tentu saja nggak bisa !!<br />
Setiap kali saya memikirkan nafas, rasa sakit itu kembali datang dan datang lagi. Jengkel, akhirnya saya mengubah obyek meditasi dari nafas menjadi rasa sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awalnya sakitnya semakin menjadi-jadi. Saya mengerang, menangis tapi sayangnya rasa sakit itu tidak berperasaan ! terus menerus menyiksa !<br />
Pada akhirnya karena cape, saya membiarkan rasa sakit itu menyerang otak saya, &#8220;memperhatikan&#8221; rasa sakit tersebut secara seksama dan tidak berusaha melawannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-lahan &#8230; rasa sakit itu TETAP ADA ! Tapi tidak lagi membuat menderita, seolah olah rasa sakit itu tetap terasa namun terpisah dari tubuh. Seperti halnya sentuhan di kulit yang kita sadari namun tidak sampai membuat kita menderita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sayangnya pengalaman itu cuma sekejap. Beberapa hari kemudian saya kembali &#8220;lengket&#8221; dengan segala rasa manis dan pahitnya hal duniawi. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Memang pengalaman masing-masing orang bisa berbeda, namun setiap orang punya kemampuan untuk mencari jalan bagi dirinya sendiri &#8211; asal mau melihat dengan lebih jelas, maka setiap kesakitan &#8211; setiap penderitaan bisa dipegang dan dilepaskan, hanya singgah namun tidak sampai meninggalkan kotoran. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Percaya ? Atau tidak percaya?<br />
Itu hak Anda. Peduli amat !!! LoLs</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai jumpa.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F06%2Fhidup-tidak-adil%2F&amp;title=Hidup%20Tidak%20Adil%20%3F" id="wpa2a_14"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Menuju Pencerahan</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 10:01:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[meditasi]]></category>
		<category><![CDATA[pencerahan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/</guid>
		<description><![CDATA[Menggunakan judul seperti ini, sebenarnya saya sedikit ragu. Bagaimana mungkin seseorang yang belum mencapai pencerahan bisa menunjukkan jalan menuju pencerahan? Tapi maksud hati saya memang bukan untuk menunjukkan jalan menuju pencerahan tapi sebaliknya – bagaimana mencari jalan menuju pencerahan? Tempat seperti itu… Apakah benar bisa dicapai dengan pesawat jet? Sebelum menjawab pertanyaan seperti itu, perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Menggunakan judul seperti ini, sebenarnya saya sedikit ragu. Bagaimana mungkin seseorang yang belum mencapai pencerahan bisa menunjukkan jalan menuju pencerahan?</p>
<p align="justify">Tapi maksud hati saya memang bukan untuk menunjukkan jalan menuju pencerahan tapi sebaliknya – bagaimana mencari jalan menuju pencerahan?</p>
<div align="justify">
<div class="wlWriterEditableSmartContent" id="scid:8747F07C-CDE8-481f-B0DF-C6CFD074BF67:5162fc85-7c12-4174-9bfd-cb615c7bffcd" style="padding-right: 0px; display: inline; padding-left: 0px; float: none; padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-top: 0px"><a href="http://www.hardychen.com/wp-content/uploads/2010/06/6778542_s8x6.jpg" title="" rel="thumbnail"><img border="0" src="http://www.hardychen.com/wp-content/uploads/2010/06/6778542_s.png" width="150" height="150" /></a></div>
</p></div>
<p align="justify">Tempat seperti itu… Apakah benar bisa dicapai dengan pesawat jet? <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Sebelum menjawab pertanyaan seperti itu, perlu kita tanyakan diri kita sendiri… kenapa kita mencari tempat seperti itu?</p>
<p align="justify">Alasannya sederhana, karena kita mencari kebahagiaan yang sejati. Namun apakah kebahagiaan yang sejati bisa ditemukan di “suatu tempat”?</p>
<p align="justify">Apa yang kita cari bukanlah tempat, melainkan kondisi. Hanyalah bahasa yang terkadang memiliki ambiguitas sehingga sering kali kita terjebak dalam kata-kata.</p>
<p align="justify">Orang yang hidupnya senang, tentu akan sangat sulit untuk berpikir untuk mencari kebahagiaan sejati, karena apa yang dipikirnya sebagai kebahagiaan sejati adalah apa yang dirasakannya sekarang, yang tidak lain adalah kebahagiaan duniawi.</p>
<p align="justify">Jika itu adalah kebahagiaan duniawi, lantas bagaimana yang disebut dengan kebahagiaan yang sejati. Menjawab pertanyaan itu adalah sangat tidak mungkin untuk saya, karena saya sendiri belum mencapai pencerahan sempurna. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Namun meski begitu saya tahu bahwa kebahagiaan duniawi bukanlah kebahagiaan sejati. Mengapa?    <br />Karena kebahagiaan seperti itu ada kondisi, ada syaratnya. Katakanlah Anda hidup bisa makan enak, bisa punya ini punya itu, semua itu harus ada syaratnya, yaitu harus punya uang. Tanpa uang, mungkin Anda punya cara lain untuk mendapatkannya. Cara tersebut juga adalah sebuah syarat, sebuah kondisi yang harus dipenuhi. Sedangkan kondisi selalu berubah, sehingga dengan demikian kebahagiaan tersebut tidak abadi. Kebahagiaan itu mengandung cacat, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu yg sifatnya ‘sejati’.</p>
<p align="justify">Dulu, saya bukanlah seseorang yang peduli dengan segala tetek bengek filosofi seperti ini. Namun setelah mengalami penderitaan dan kesedihan yang mendalam, barulah saya sedikit demi sedikit menyadari ketidakkekalan – kebahgiaan yan berkondisi, tidak memuaskan, namun sangat sulit untuk dilepaskan.</p>
<p align="justify">Oleh karena itu saya berpikir, terkadang karena satu pengalaman yang sangat pahit barulah kita bisa sedikit membuka mata kita terhadap kebenaran dengan pengeculian terhadap beberapa orang yang malah semakin gelap mata – tidak mau melepaskan perasaan yang sudah seharusnya dilepaskan, dan terus menerus meracuni diri sendiri dengan kebencian, dendam, keputusasaan dan penderitaan yang ikut bersama-sama dengan perasaan tersebut.</p>
<p align="justify">Pertama kalinya saya mengalami kesedihan yang sangat hebat, saya tidak menemukan alasan untuk tetap bertahan hidup di dunia ini. Namun sebelum saya sempat berpikiran bodoh, satu pikiran berkelebat di otak saya – bahwa kematian menyakitkan – bahwa saya tidak yakin bahwa di masa yang akan datang saya tidak akan pernah merasakan hal-hal yang baik lagi. Saya merasa takut kehilangan kesempatan akan sesuatu yang baik yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang seandainya saya tetap bertahan.</p>
<p align="justify">Begitulah saya terus melewati hari demi hari dengan penuh kesedihan. Satu tahun lewat, dua tahun juga lewat namun rasa sakit itu masih belum hilang.    <br />Ternyata luka dihati lebih susah sembuh dibanding luka di badan. Semakin lama saya semakin merasa menderita karena semakin banyak kenangan indah yang saya ingat rasanya semakin sakit hati.</p>
<p align="justify">Dari sanalah saya mulai berpikir, semakin besar kebahagiaan yang saya rasakan semakin besar juga penderitaan yang saya terima saat kebahagiaan itu pergi. Kebahagiaan tidak lain adalah satu bagian dari koin bersisi dua, satunya adalah surga dan satunya adalah neraka. Kebahagiaan dan penderitaan yang saya alami juga bukanlah berasal dari luar, melainkan berasal dari dalam. Faktor faktor luar hanyalah sebuah pemicu atau mungkin lebih tepat disebut sebagai umpan dan saya nyata-nyata telah memakan umpan itu karena ketidaktahuan saya.</p>
<p align="justify">Lalu saya mulai belajar untuk menenangkan pikiran saya.    <br />Disanalah tanpa saya sadari, saya perlahan-lahan sudah mempraktekkan meditasi. Dan setelah saya benar benar mengenal istilah meditasi, saya membeli banyak buku-buku tentang meditasi dan mempraktekkannya.</p>
<p align="justify">Pada saat awal mempraktekkannya dengan serius, saya merasa meditasi itu sangat susah. Pikiran ini seperti monyet, tidak bisa dikendalikan. Sekali diam setelah beberapa saat kembali akan muncul banyak pikiran yang menghalangi proses meditasi saya.    <br />Perlu diketahui bahwa dalam meditasi, kita tidak belajar untuk mengosongkan pikiran, namun secara santai memfokuskan pikiran pada satu objek. Pada saat itu objek meditasi saya adalah pernafasan.</p>
<p align="justify">Pada saat-saat awal, saya tidak pernah bisa meditasi lewat dari 15 menit, sungguh sangat menyebalkan pikir saya waktu itu.</p>
<p align="justify">Saya merasa ada yang salah. Meditasi tentu bukan begini caranya. Saya kembali berpikir di masa yang lalu ketika saya belum begitu mengenal istilah meditasi, secara tidak sadar saya sudah melakukannya dengan sangat mudah. Mengapa setelah saya mengetahui lebih banyak teori tentang meditasi, semuanya malah semakin rumit?</p>
<p align="justify">Kemudian saya memutuskan untuk tidak memperdulikan semua teori-teori itu lagi. Saya duduk, kemudian memfokuskan pikiran pada pernafasan. Setiap kali muncul satu pikiran, saya menanggapinya dengan santai, saya menerima pikiran itu apa adanya, tidak berusaha untuk menolaknya. Terkadang saya malah bisa menemukan sesuatu yang lucu dari pikiran pikiran yang datang itu, tidak peduli apa jenis pikiran yang datang itu.</p>
<p align="justify">Setiap kali ada pikiran yang datang saya menerima pikiran itu dan kemudian perlahan-lahan memfokuskan pikiran kembali ke pernafasan. Hal tersebut terjadi berulang-ulang, namun saya biarkan saja. Padahal jika ditilik dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya seharusnya sudah merasa sangat jengkel. Tapi kali ini sama sekali tidak. Karena pada saat itu boleh dibilang saya sudah berada pada keadaan yang setengah serius dan setengah bermain-main. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Dari sanalah saya mulai sadar, mengapa latihan-latihan saya yang sebelumnya saya lakukan semakin lama semakin pendek jangka waktunya. Itu karena semakin lama semakin besar kejengkelan yang saya rasakan. Saya telah gagal mendeteksi perasaan itu dan inilah yang menjadi penghalang utama dalam proses meditasi saya. Semua teori-teori yang saya pelajari saya anggap sebagai sebuah beban, sebuah misi yang harus saya selesaikan – padahal meditasi adalah belajar untuk melepaskan beban, bukan sebaliknya mengangkat beban tersebut dipikiran saya. Saya telah melakukan sebuah kesalahan dan sekarang saya memperbaiki kesalahan tersebut.</p>
<p align="justify">Setelah saya berhasil mengatasi rasa jengkel tersebut dan menerima dengan lapang dada semua pemikiran yang muncul dalam pikiran saya, kemudian perlahan-lahan mengarahkannya untuk pergi – saya merasa seperti mendapatkan pengalaman baru.</p>
<p align="justify">Semakin lama frekwensi datangnya pikiran-pikiran itu semakin sedikit, dan pikiran saya makin lama makin halus. Tidak ada bahasa yang tepat untuk menggambarkan perasaan seperti ini. Pada waktu itu saya merasa bahwa hati ini sangat damai, pikiran sangat bersih, tanpa hambatan dan segala sesuatunya terasa berjalan begitu lancar. Aliran darah dan nafas sangat teratur, dan pikiran menjadi jauh lebih terang dibanding sebelumnya. Setiap kejadian, setiap hal sekecil apapun dilihat dengan pandangan terbuka, persis seperti anak kecil yang baru lahir yang sedang mempelajari dunia luar. Bedanya sekarang saya lebih mempunyai pertimbangan dibanding anak kecil. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />    <br />Dalam keadaan seperti itu, bahkan kejadian jatuhnya sehelai daun bisa memberikan banyak pelajaran kepada saya.</p>
<p align="justify">Pengalaman seperti itu sama sekali bukan pencerahan. Bahkan boleh dibilang saya bahkan belum menempuh 1/8 jalan yang harus saya tempuh. Jadi saya terus berlatih, sampai pada tahap dimana kekuatan jahat itu muncul dari dalam, menggoyahkan batin dan menguasai pikiran saya sewaktu saya sedang tidur. Pada saat sebelumnya, ketika meditasi saya sudah mencapai tahap yang mencukupi, saya bisa mengontrol mimpi dalam tidur saya. Tapi kali ini saya gagal. Semua usaha saya hancur seketika, dan pikiran saya kembali ke keadaan semula.</p>
<p align="justify">Saya sedikit merasa kecewa. Namun saya tidak berhenti untuk berusaha. Saya akan mengulang dari awal. Saya masih ingat bagaimana perasaan luar biasa yang saya rasakan pada saat meditasi saya berhasil dan itu sudah menjadi satu pengalaman yang berharga buat saya. Saya juga sudah melihat sendiri bagaimana bentuk kekuatan jahat yang bersemayam di dalam diri setiap manusia dan itu akan menjadi pelajaran buat saya untuk kembali menghadapinya suatu saat nanti.</p>
<p align="justify">Semoga…   <br />Dan setelah saat itu tiba, saya akan kembali menulis. Mungkin untuk dibaca diri saya sendiri di kehidupan yang akan datang. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F06%2Fjalan-menuju-pencerahan%2F&amp;title=Jalan%20Menuju%20Pencerahan" id="wpa2a_16"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sad Ending&#8230; Bisakah Anda Menerima Kenyataan ?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 09:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/</guid>
		<description><![CDATA[Oh Damn God Damn Shit !!  Itulah kata-kata yang selalu berdengung di kepala saya sehabis menonton film/drama yang endingnya buruk. Benar sangat buruk karena perasaan saya menjadi sangat tidak enak sehabis menonton film tersebut. Dalam hati, saya benar benar membenci film itu dan juga diri sendiri. Mengapa hanya sebuah film &#8211; bukan kenyataan, sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Oh Damn God Damn Shit !!  Itulah kata-kata yang selalu berdengung di kepala saya sehabis menonton film/drama yang endingnya buruk. Benar sangat buruk karena perasaan saya menjadi sangat tidak enak sehabis menonton film tersebut.</p>
<p align="justify">Dalam hati, saya benar benar membenci film itu dan juga diri sendiri. Mengapa hanya sebuah film &#8211; bukan kenyataan, sudah bisa menghancurkan hati saya sampai berkeping keping?</p>
<p align="justify">Kebanyakan orang tentu tidak suka dengan ending yang tragis. Namun ada beberapa orang justru senang. Sepertinya memainkan perasaan sendiri adalah pekerjaan yang begitu menyenangkan, huh?</p>
<p align="justify">Hidup itu tidak selalu seindah yang kita kira, dan juga tidak selalu sejelek yang kita kira. Kenyataannya adalah hidup ini ada senang, ada sedih, juga ada bosan. Namun tidak semua orang dapat menerima kenyataan itu, sehingga pada akhirnya malah menyiksa diri sendiri.</p>
<p>Alkisah, ada seorang pria yang memiliki seorang kekasih yang amat dicintainya. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain, namun pemikiran mereka sama sekali berbeda.   <br />Sang pria menyadari bahwa cinta sangatlah indah namun sewaktu waktu dapat berubah menjadi racun, karena tidak ada hal yang abadi di dunia ini, termasuk cinta itu sendiri. Sedangkan sang wanita sama sekali tidak memiliki pemikiran itu. Sang wanita selalu berpikir optimis bahwa semuanya akan selalu indah seperti hari ini, selamanya</p>
<p align="justify">Suatu hari, sang pria mengalami sakit parah dan nyawanya sudah diujung tanduk. Peluangnya untuk bertahan hidup sangatlah tipis. Disisa waktu hidupnya yang semakin menipis, ia berpesan kepada kekasihnya agar tetap dapat melanjutkan hidup dengan baik, jangan bersedih terlalu lama dan berharap agar ia dapat menjaga dirinya sendiri dengan baik. Namun kekasihnya yang selalu berpikir optimis kali ini tidak lagi optimis dengan peluang kesembuhan kekasihnya. Ia merasa sangat sedih dan hatinya hancur berkeping keping. Setiap hari ia hanya bisa menangis dan meratapi nasib kekasihnya.</p>
<p align="justify">Sang pria yang melihat keadaan seperti ini merasa sangat kasihan kepada kekasihnya dan karena rasa cintanya yang besar terhadap kekasihnya ia bertekad untuk sembuh, separah apapun keadaannya saat ini.</p>
<p>Karena tekadnya yang kuat itu telah menguasai seluruh tubuhnya, berangsur angsur tubuhnya mulai pulih dan akhirnya ia sembuh total.   <br />Semenjak itu ia bertekad tidak akan mati mendahului kekasihnya karena rasa belas kasihnya yang besar terhadap kekasihnya.     <br />Ditinggalkan lebih menyakitkan dibanding meninggalkan, bukan?</p>
<p>Dari cerita ini kita sudah dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya pikiran kita tidaklah benar benar bebas.    <br />Kita dikuasai oleh kebahagiaan kita dan penderitaan kita. Kitalah yang tidak melepaskan diri dari jeratan yang kita buat sendiri. Kehancuran ataupun kelanjutan/keberlangsungan kebahagiaan kita ditentukan oleh faktor-faktor yang sifatnya tidak pasti. Dengan demikianlah kita jatuh ke kolam lumpur dan/atau terbang ke langit ke 7.</p>
<p align="justify">Oleh karena itulah, jika kita tidak ingin menderita, tidak ingin dilempar kesana kemari, kita harus mampu menerima kenyataan. Apapun yang akan pergi biarkanlah pergi, apapun yang akan datang biarlah datang namun begitu, jangan selalu menyerahkan semuanya kepada nasib. Apa yang masih bisa diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Apa yang sudah tidak mungkin diperjuangkan, maka lepaskanlah.</p>
<p align="justify">Semoga semua makhluk mampu menemukan kebahagiaannya sendiri.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F02%2Fsad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan%2F&amp;title=Sad%20Ending%26hellip%3B%20Bisakah%20Anda%20Menerima%20Kenyataan%20%3F" id="wpa2a_18"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dimanakah letak kebahagiaan, dimanakah penderitaan?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 10:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[kesan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Orang bilang punya banyak harta membahagiakan. Punya orang yang dicintai juga membahagiakan. Kenyataannya orang yang punya banyak harta terus menerus mengkhawatirkan hartanya, juga terus mengkhawatirkan kekasihnya. Walaupun tidak khawatir, namun saat uang dan cinta pergi&#8230; tetap saja akan menderita. Lalu apakah yang seperti ini yang bisa disebut sebagai kebahagiaan? Kebahagiaan seperti ini sifatnya sesaat, tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="moon" src="http://i531.photobucket.com/albums/dd356/budhis/stock_Photos/2286939_blog.jpg" alt="" width="267" height="280" align="center" /><br />
Orang bilang punya banyak harta membahagiakan. Punya orang yang dicintai juga membahagiakan. Kenyataannya orang yang punya banyak harta terus menerus mengkhawatirkan hartanya, juga terus mengkhawatirkan kekasihnya.<br />
Walaupun tidak khawatir, namun saat uang dan cinta pergi&#8230; tetap saja akan menderita.<br />
Lalu apakah yang seperti ini yang bisa disebut sebagai kebahagiaan?<br />
<span id="more-333"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kebahagiaan seperti ini sifatnya sesaat, tidak akan bertahan selamanya.<br />
Orang bilang mengapa harus berpikir pesimistis. Kebahagiaan saat ini adalah kebahagiaan saat ini, tidak perlu memikirkan masa depan yang tidak pasti.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini betul, namun hal ini juga sekaligus menegaskan bahwa penderitaan akibat ketidakpastian masa depan juga tidak dapat dihindarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Benarkah seperti itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu penyebab penderitaan manusia adalah adanya pemikiran tentang kepemilikan. Harta ini adalah milikku, cinta ini adalah milikku, kebahagiaan ini adalah milikku.<br />
Karena adanya pemikiran seperti ini, maka ketika ketidakpastian merenggut semuanya itu&#8230;akibatnya timbullah penderitaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita seakan tidak sadar bahwa bahkan tubuh kita juga bukanlah milik kita. Setiap detiknya ada sel sel yang mati dan lahir dalam tubuh kita. Apa yang dulunya dianggap sebagai kepunyaan, sekarang mati dan digantikan yang lain. Jika begitu, masih relevankah konsep kepemilikan ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hidup ini setiap bentuk kehidupan akan terus berusaha mempertahankan eksistensinya. Tanpa adanya sifat seperti itu, tidak akan pernah ada makhluk yang bisa hidup, tidak ada regenerasi, tidak ada kehidupan.<br />
Demikian juga dengan kita. Adalah sudah kodratnya kita makan, dan minum untuk mempertahankan hidup kita. Juga sudah kodratnya kita mencintai sesama kita; namun terkadang, tanpa kita sadari kita telah melakukannya secara berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang pernah bertanya, apakah mungkin kita bisa mencintai orang lain tanpa terikat dengan orang tersebut?<br />
Orang tersebut menjawab tidak mungkin.<br />
Dia bertanya lantas menjawab sendiri. Tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat.<br />
Dalam cerita zen, orang tersebut seperti cangkir yang telah penuh. Apapun yang diisikan kedalamnya akan tumpah keluar. Apapun hal yang kita sampaikan tidak akan didengar, kecuali jika hal tersebut sesuai dengan pemikirannya sendiri. Orang tersebut tidak pernah belajar apapun kecuali pandangan-pandangannya sendiri terhadap kehidupan.</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>Dimanakah penderitaan?</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya salah satu alasan mengapa kita menderita adalah kita sendiri yang telah mengikatkan diri ke dalam penderitaan itu. Sebagai contoh, pada saat kita mencintai seseorang, kemudian orang tersebut meninggalkan kita &#8211; kita lantas berpikir bahwa mereka benar benar telah meninggalkan kita. Ini adalah sebuah pandangan yang mungkin tidak tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, apa definisi yang paling tepat untuk kata &#8216;ditinggalkan&#8217;?<br />
Apakah karena orang tersebut tidak ada lagi?<br />
Jika orang tersebut masih ada (masih hidup), namun tidak terlihat oleh kita entah karena sudah pergi ke tempat yang jauh atau karena alasan lain &#8211; apakah itu masih dapat disebut ditinggalkan?<br />
Jika demikian istilah ditinggalkan lebih mengacu kepada apakah orang tersebut masih bisa dilihat dengan mata kepala kita sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika begitu halnya&#8230;seumpamanya kita masih bisa melihatnya (tubuhnya), tapi orang tersebut sudah mati, apakah masih bisa disebut ditinggalkan?<br />
Anngaplah orang tersebut masih hidup namun tiba tiba dia berubah mempunyai perangai (tabiat/sifat) yang lain dari yang kita kenal&#8230; apakah itu juga bisa didefinisikan bahwa orang tersebut telah pergi?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya &#8216;orang&#8217; tersebut tidaklah benar-benar pergi.<br />
Semua yang telah dilakukan orang tersebut telah membuat banyak kesan di pikiran kita. Pada saat orang tersebut meninggalkan kita (meninggal atau telah pergi jauh) &#8211; kesan-kesan tentang dirinya di pikiran kita tetap ada, namun ia telah berhenti berkembang, atau dengan kata lain sudah berhenti bergerak.<br />
Dan karena sudah berhenti bergerak inilah, kita cenderung menganggapnya sebagai mati. Padahal sebenarnya, meskipun orang tersebut telah hilang secara fisik, namun ia tetap hidup dalam pikiran kita. Bahkan ketika orang tersebut masih hidup, yang kita kenali/akui sebenarnya bukanlah fisik dari orang yang kita cintai itu, melainkan kesan kesan yang muncul dalam pikiran kita. Fisik hanyalah salah satu input untuk menciptakan kesan dalam pikiran kita. Creatornya tetap adalah pikiran kita.<br />
Lagipula, jika memang kita mengakui orang tersebut hanya secara fisik, tentunya kita tidak akan merasa tidak nyaman jika orang yang kita cintai bersikap/bertindak tidak sesuai dengan harapan kita, karena yang kita cintai hanya fisiknya. Juga kita tidak akan keberatan jika fisiknya jelek karena yang kita cintai adalah fisiknya, bukan hasil penilaian (kesan) terhadap fisik tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya,&#8230; yang kita cintai bukanlah fisik orang tersebut, melainkan kesan yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri mengenai orang tersebut. Penciptaan kesan tersebut bervariasi tergantung penilaian pikiran kita terhadap orang yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika semua hal itu tinggal dalam pikiran kita, mengapa kita harus khawatir bahwa ini telah pergi dan itu telah datang? Apa yang harus pergi biarkanlah pergi&#8230; apa yang harus datang biarkanlah datang, tidak perlu terikat kepada banyak hal, karena hal-hal itu tidak pernah benar-benar meninggalkan kita, juga tidak pernah benar-benar mendatangi kita. Semuanya berasal dari pikiran dan dapat diselesaikan dalam pikiran.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F11%2Fdimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan%2F&amp;title=Dimanakah%20letak%20kebahagiaan%2C%20dimanakah%20penderitaan%3F" id="wpa2a_20"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

