<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; puas</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/tag/puas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 18:12:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Sederhana dalam Bertindak (19)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bertindak-19/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bertindak-19/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 00:01:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kesederhanaan]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>
		<category><![CDATA[puas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pemuda yang bercita cita ingin menjadi orang besar berkunjung ke biara untuk meminta bantuan dari seorang guru terkenal. Ketika bertemu dengan guru tersebut, ia langsung bertanya, &#8220;Bagaimana saya dapat menjadi orang besar seperti guru?&#8221; &#8220;Mengapa mau jadi orang besar? Menjadi orang itu sudah merupakan keberhasilan cukup besar&#8220;, jawab sang guru dengan santai. &#8220;Daripada mengeluh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seorang pemuda yang bercita cita ingin menjadi orang besar berkunjung ke biara untuk meminta bantuan dari seorang guru terkenal. Ketika bertemu dengan guru tersebut, ia langsung bertanya, &#8220;<em>Bagaimana saya dapat menjadi orang besar seperti guru?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Mengapa mau jadi orang besar? Menjadi orang itu sudah merupakan keberhasilan cukup besar</em>&#8220;, jawab sang guru dengan santai. &#8220;<em>Daripada mengeluh dan tidak puas dengan apa yang ada, lebih baik mensyukuri betapa beruntungnya Anda yang hari ini sehat dan masih hidup. Bukankah ini lebih berharga?</em>&#8221; sang guru memberi jawaban lebih lanjut.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita menjalani hidup hanya untuk mengejar ketenaran dan keuntungan dalam hidup ini, berarti kita telah memutarbalikkan arti hidup. Orang bijak tidak akan mau menukarkan hidupnya dengan keuntungan sesaat. Kita mesti menyadari bahwa kemashyuran, status, dan kekayaan cenderung membesarkan ego. Sebagai akibatnya, kita dibawa menyimpang seperti pengembara yang tersesat dan tak bisa kembali. Ciri terbaik kebahagiaan saat ini dan yang akan datang adalah pelepasan dari semua keinginan.<br />
Saat kita tidak menginginkan ketenaran, ketenaran itu terkadang malah datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang berlomba menyombongkan diri dan merendahkan orang lain dengan memamerkan karya dan materi mereka. Orang bijaksana bersikap rendah hati dengan tidak merendahkan orang lain.<br />
Buddha bersabda, &#8220;<em>Kerendahan hati berarti kesederhanaan dalam sikap dan pikiran. Seseorang yang memiliki hal ini berarti telah menyingkirkan kesombongan dan tinggi hati, ia seperti kain pembersih kaki, banteng tak bertanduk, ular yang tak bertaring. Ia lemah lembut, ceria, dan mudah bergaul.</em>&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun orang lain memiliki kekayaan dan popularitas, kita tidak perlu menjadi minder apalagi iri hati. Turut bergembira dan hidup bersahaja adalah hal yang dapat membawa kebahahagiaan terbesar bagi kita. Jangan pernah mengeluh kekurangan dan mencari reputasi. Hidup apa adanya, sederhana, dan merasa puas dengan yang dimiliki adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Seperti yang dikatakan J. Khrisnamurti, &#8220;<em>Kesederhanaan tidak dapat ditemukan kecuali seseorang itu merdeka batinnya. Karenanya, kesederhanaan itu haruslah dimulai dari dalam batin, bukan dari kehidupan lahir.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F12%2Fnuansa-hidup-sederhana-dalam-bertindak-19%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Sederhana%20dalam%20Bertindak%20%2819%29" id="wpa2a_2"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bertindak-19/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Rasa Puas dan Tahu Cukup (18)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-rasa-puas-dan-tahu-cukup-18/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-rasa-puas-dan-tahu-cukup-18/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 02:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>
		<category><![CDATA[puas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[Seorang saudagar kaya di suatu pagi berjalan menghirup udara segar di tepi pantai. Pada waktu itu ia terus mengamati seorang nelayan yang sedang asyik merokok sambil tiduran di kapalnya. Kemudian ia mendekati nelayan itu dan bertanya kepadanya, &#8220;Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?&#8221; &#8220;Saya baru saja selesai menangkap ikan dan hasilnya sudah saya jual cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seorang saudagar kaya di suatu pagi berjalan menghirup udara segar di tepi pantai. Pada waktu itu ia terus mengamati seorang nelayan yang sedang asyik merokok sambil tiduran di kapalnya.<br />
Kemudian ia mendekati nelayan itu dan bertanya kepadanya, &#8220;Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?&#8221;<br />
&#8220;Saya baru saja selesai menangkap ikan dan hasilnya sudah saya jual cukup untuk makan hari ini&#8221;, jawab nelayan itu.<br />
&#8220;Hari masih pagi, mengapa engkau tidak melanjutkan menangkap ikan?&#8221; tanya saudagar itu lebih lanjut.<br />
&#8220;Untuk apa?&#8221; tanya balik sang nelayan.<br />
&#8220;Dengan begitu, engkau bisa memperoleh penghasilan lebih untuk mengembangkan usahamu dan kelak engkau dapat menikmati ketenangan dan kenyamanan hidup&#8221;, jawab sang saudagar.<br />
&#8220;Lalu menurut Anda sekarang saya sedang apa?&#8221; jawab nelayan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita menyimak kisah nelayan tersebut diatas, kita dapat mempelajari makna yang terkandung didalamnya. Untuk menikmati hidup, tidaklah perlu menunggu menjadi kaya terlebih dahulu. Banyak hal yang selalu diukur dengan materi sehingga kita menganggap materi sebagai tujuan kebahagiaan. Pola hidup dan cara pandang seperti itu hanya akan menimbulkan kekhawatiran dan kegelisahan.<br />
Apa yang membuat hati kita puas biasanya tidak bisa dibeli dengan uang. Hanya hati yang lega yang bisa merasakan kepuasan.<br />
Uang cuma bisa membeli lebih banyak nafsu. Kita harus memahami bahwa kekayaan tidak diukur dari seberapa banyak harta seseorang, tetapi dari apakah ia merasa cukup.<br />
Ada sebuah ungkapan yang perlu kita renungkan, &#8220;Aku mengeluh tidak punya sepatu hingga bertemu dengan orang yang tak punya kaki&#8221;.<br />
Kita mesti menyadari banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dari kita. Maka bersyukurlah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda ingin menghindari penderitaan, Anda harus merasa puas. Rasa puas adalah dasar dari pencapaian ketenangan dan kedamaian hati.<br />
Seseorang yang penuh dengan rasa puas, walaupun ia berbaring diatas tanah, tetap juga berada dalam keadaan tenang dan bahagia.<br />
Ia yang tidak merasa puas, walaupun ia kaya, tetap juga disebut miskin!<br />
Ia yang merasa puas, walaupun ia miskin, dapat dikatakan orang kaya yang sebenarnya. Orang yang tidak pernah puas terikat oleh bermacam-macam keinginan dan karenanya sering dikasihani oleh orang yang puas. Inilah makna dari rasa puas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F12%2Fnuansa-hidup-rasa-puas-dan-tahu-cukup-18%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Rasa%20Puas%20dan%20Tahu%20Cukup%20%2818%29" id="wpa2a_4"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-rasa-puas-dan-tahu-cukup-18/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

