<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; sakit</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/tag/sakit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 18:12:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Saat tepat untuk peduli (25)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 02:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[dana]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Buddha bersabda, &#8220;Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijak&#8220; 1. Berdana kepada orang yang baru saja tiba Ketika seseorang bertamu ke rumah, hendaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Buddha bersabda, &#8220;<em>Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijak</em>&#8220;<span id="more-450"></span></p>
<p style="text-align: justify;">1. Berdana kepada orang yang baru saja tiba<br />
Ketika seseorang bertamu ke rumah, hendaknya tuan rumah mempersilahkan dengan ramah dan menghidangkan jamuan bagi sang tamu. Ini disebut sebagai waktu yang tepat karena pada saat itu sang tamu membutuhkan kenyamanan dan keramahan. Sebuah sambutan yang hangat merupakan pelepas lelah bagi sang tamu. Ibu Teresa mengatakan, &#8220;Begitu banyak penderitaan fisik yang dialami oleh manusia, seperti terserang penyakit, kelaparan dan cuaca panas. Tetapi diantara semua penderitaan, saya percaya bahwa dikucilkan dan merasa kesepian adalah penderitaan yang paling berat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">2. Berdana kepada orang yang akan bepergian<br />
Jika seseorang melakukan perbuatan baik, hendaknya dituntaskan dari awal hingga akhir. Adalah sangat baik bila kita membekali atau memberikan oleh-oleh kepada orang yang akan bepergian. Ini menunjukkan kepedulian dan keramahan. Semua orang akan senang bila memperoleh perhatian dari orang lain. Seseorang yang bersikap ramah dan peduli dengan yang lain akan memberi kesan yang indah bagi yang lain. Karenanya, kemurahan hati selalu membawa persaudaraan yang lebih hangat. Tapi kebanyakan orang bukannya membekali sesuatu pada mereka yang akan bepergian, malah minta oleh-oleh setelah mereka kembali</p>
<p style="text-align: justify;">3. Berdana kepada orang sakit<br />
Suatu kali seorang bhikkhu menderita sakit perut dan berbaring diatas tanah tempat ia terjatuh karena lemah dengan kotoran-kotoran melekat pada badannya. Sang Bhagava dan Y.A. Ananda, yang sedang berkunjung ke tempat kediaman para bhikkhu, mendatangi tempat bhikkhu yang sakit tersebut berbaring. Bhagava bertanya kepadanya, &#8220;<em>Bhikkhu, apa yang terjadi denganmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Saya menderita sakit perut, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Tidak adakah bhikkhu lain merawatmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Tidak, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Mengapa bhikkhu-bhikkhu lain tidak merawatmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Karena saya tidak berguna bagi mereka, Bhante.</em>&#8221;<br />
Kemudian Bhagava berkata kepada Y.A. Ananda ,&#8221;Pergi dan ambillah air. Kita akan membersihkan tubuh bhikkhu ini.&#8221; Maka Y.A. Ananda mengambil air dan Bhagava menyiramkannya ke tubuh bhikkhu yang sakit itu, sambil Y.A. Ananda membersihkan seluruh tubuhnya. Lalu, dengan memegang kepala dan kaki bhikkhu tersebut, Y.A. Ananda bersama-sama mengangkat dan membaringkannya di atas tempat tidur. Kemudian Bhagava memanggil semua bhikkhu yang ada dan bertanya kepada mereka, &#8220;O, para bhikkhu, mengapa kalian tidak merawat bhikkhu yang sakit itu?&#8221;<br />
&#8220;<em>Karena ia tidak berguna bagi kami, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Kalian tidak mempunyai ayah dan ibu yang merawat kalian. Jika kalian tidak saling merawat, siapa yang akan melakukan hal itu?<br />
Ia yang merawat Aku (Tathagata), sesungguhnya sama saja dengan merawat si sakit.</em>&#8221;<br />
Kita semestinya merawat dan menjaga mereka yang sedang sakit. Pada situasi seperti itulah mereka sangat membutuhkan bantuan dari kita. Buddha juga telah mengajarkan bagaimana cara kita merawat orang sakit. Beliau berkata, &#8220;<em>Dengan memenuhi lima syarat, seseorang yang merawat orang sakit dikatakan cocok untuk merawat orang sakit. Apakah kelima syarat tersebut? Ia dapat menyiapkan obat-obatan; ia mengetahui mana yang baik dan tidak &#8211; yang baik ditawarkan dan yang tidak baik tidak ditawarkannya; ia merawat si sakit dengan cinta kasih, bukan dengan suatu pamrih; ia tidak tergoyahkan oleh kotoran, air kencing, muntahan dan air liur; dan, setiap saat ia dapat memberikan petunjuk, semangat, hiburan, dan kepuasan kepada si sakit dengan membicarakan Dhamma.</em>&#8221;<br />
Ada banyak obat dan pengobatan untuk segala macam orang sakit. Namun jika tangan yang baik tidak diberikan dalam pelayanan dan hati yang pemurah tidak diberikan dalam kasih, maka tidak akan pernah ada suatu penyembuhan bagi penyakit mengerikan karena tidak disertai kasih. Shantideva, dalam bukunya Bodhicharyavatara melantunkan syair berikut: &#8220;<em>Semoga aku menjadi penawar rasa sakit, bagi semua makhluk. Semoga aku menjadi dokter dan perawat, bagi semua yang sakit.</em>&#8221;<br />
Setiap perbuatan kasih adalah karya damai, tak peduli betapapun kecilnya. Kesucian tumbuh cepat bila ada kebaikan hati. Saya tidak pernah mendengar orang yang baik hati tersesat. Dunia akan kacau karena tidak ada welas kasih dan kebaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Berdana pada saat sukar mendapatkan makanan<br />
Di India pada abad ke ketujuh, seorang raja bernama Harsha menjadi penganut Buddha yang senang melayani kamu miskin-papa. Suatu hari raja menyampaikan kekhawatirannya kepada peziarah, &#8220;<em>Bertahun tahun sudah aku memerintah seluruh India&#8230; Aku mulai gelisah, karena tidak terdapat kemajuan apapun dalam hal kebajikan.</em>&#8221;<br />
Tiap lima tahun, raja mengadakan apa yang ia sebut sebagai &#8220;Padang Pelimpahan Jasa&#8221;. Banyak orang datang ke padang ini untuk menerima derma darinya. Raja Harsha memasuki tendanya yang amat luas, bersujud menghormati Buddha sambil melantunkan syair berikut; &#8220;<em>Pujilah Buddha, Pujilah Dhamma, Pujilah Sangha ! Dia yang Agung, Yang Diterangi, Yang Dipuja. Bhagava, yang dipuji segala jenis dewa, para suci dan Penyanyi Agung, para makhluk agung di surga dan di bumi. Kepadamu, Buddha aku memuji! Kepadamu Buddha, aku memuji!</em>&#8221;<br />
Kepalanya menunduk hormat kepada &#8220;semua Buddha dari seluruh alam&#8221;. Lalu ia berkata dengan penuh perasaan. &#8220;<em>Pelimpahan harta kekayaanku ini, kusemaikan semua di Tanah Kebahagiaan. Dan semoga pada kelahiran mendatangpun, aku tidak menimbunnya. Melainkan melepaskannya, untuk para miskin-papa.</em>&#8221; Raja kemudian berdoa; &#8220;<em>Semoga aku dapat memberi makan dan minum semua, yang merasakan derita lapar dan kehausan. Semoga aku menjadi mestika yang tak ternilai bagi orang-orang miskin. Semoga aku menjadi pembela bagi mereka, yang dicampakkan terlantar di pinggir jalan. Semoga aku luruh sepenuhnya di dalam pelayanan dan kasih</em>&#8221;<br />
Kemiskinan adalah penyebab kejahatan! Kejahatan akan semakin tumbuh bila tidak ada yang memberi dana. Seseorang akan melakukan kejahatan dikala ia terjepit karena kebutuhan untuk bertahan hidup tidak terpenuhi. Karenanya berikanlah bantuan pada mereka yang membutuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Hasil panen/gaji pertama didanakan kepada orang bijak<br />
Suatu kali beberapa bhikkhu mempertanyakan, kenapa Buddha memilih Y.A. Sariputta dan Y.A. Mogallana sebagai siswa utama (agga savaka). Kenapa bukan kelima pertapa yang menjadi bhikkhu pertama yang dipilih Buddha? Menyadari perkembangan dari pembicaraan para bhikkhu tersebut, Buddha kemudian menjawab, &#8220;<em>O, para bhikkhu, bukan karena Aku yang menjadikan Sariputta dan Mogallana sebagai agga savaka. Pada kelahiran sebelumnya mereka mendanakan hasil panen pertama mereka kepada seorang pertapa dan bertekad, semoga di kemudian hari mereka menjadi siswa utama seorang Buddha. Karena kebajikan dan tekad yang mereka milikilah, akhirnya sekarang mereka peroleh buah dari kebajikan masa lalu dan sekarang menjadi siswa utama.</em>&#8221;<br />
Tidak mudah untuk memberikan penghasilan kita yang pertama. Tetapi Y.A. Sariputta dan Y.A. Mogallana telah melakukannya dan memperoleh hasil dari kebajikan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang dalam memberi mempunyai motivasi yang berbeda. Ada orang berdana karena barang yang dimilikinya sudah rusak sehingga ia berikan kepada orang lain. Ada yang berdana karena ia tidak menyukai makanan yang menurutnya tidak enak, bahkan sudah kadaluarsa (lewat waktu). Yang lain memberi karena berharap memperoleh lebih dari yang diberikan. Sebagian lagi karena ingin popularitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara semua itu, pemberian yang didasari kasih dan benda yang diberikan adalah benda terbaik, maka pemberian seperti itu akan menghasilkan kebajikan yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F06%2Fnuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Saat%20tepat%20untuk%20peduli%20%2825%29" id="wpa2a_2"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Tidak Adil ?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 10:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[adil]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kebencian]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[melepas]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[Life is Not Fair? Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu. Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat? Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Life is Not Fair?<br />
Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu.<br />
Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat?<br />
Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah lagi keseimbangan jiwanya terganggu. Masih untung jika dia benar-benar jadi gila (setidaknya dia tidak perlu lagi memikirkan kemalangan tersebut), tapi kenyataannya dia masih waras dengan luka berat di hatinya.<br />
Inilah penderitaan.<br />
Lantas dia berkata : &#8220;Hidup TIDAK ADIL !!!&#8221;<br />
Life is unfair,&#8230; huh ?<span id="more-438"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja&#8230; jika hidup memang serba enak, tentunya dia tidak akan seberuntung ini bisa dilahirkan di dunia yang serba enak ini (dengan kata lain pejabat akhirat sudah keliru menaikkannya di pesawat menuju dunia yang salah) !</p>
<p style="text-align: justify;">Life is unfair?&#8230; yes !! Life is fair? &#8230; yes juga !!<br />
Jika semua hal di dunia ini berjalan dengan baik, maka sangatlah tidak adil buat orang-orang yang sedang mempersiapkan tiketnya ke neraka. Karena mereka jadi tidak punya tempat transit untuk mengisi bahan bakar pesawat mereka !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya adalah jika tidak hati-hati-hanya karena ketidaktahuan, ketidakpedulian dan kecerobohan, bisa-bisa Anda juga ikut terbuai naik pesawat kelas VIP &#8211; berlibur ke dunia paling hangat yang pernah ada, dan GRATIS tentunya! Sangat menggiurkan bukan????</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah seorang teman yang lain lagi bertanya &#8211; mengapa orang yang tidak bersalah menjadi korban &#8211; mengapa orang yang bersalah malah dipuji &#8211; puji?<br />
Ya&#8230; mana kutehek?<br />
Mungkin aja itu strategi dari &#8220;dunia bawah&#8221; supaya banyak orang bersedia menghabiskan &#8220;devisa&#8221; mereka &#8211; berlibur ke pulau hangat nun jauh disana. Siapa yang tahu??</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin beberapa orang lantas berpikir,&#8230; strategi black campaign &#8220;pulau hangat&#8221; tersebut sangat keji !<br />
Sejujurnya, kalo mau dikata itu keji, itu sih masih belum seberapa. Ada yang lebih keji lagi, yaitu diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba pikirkan bagaimana caranya kita meracuni diri sendiri dengan dendam, kebencian, iri, cemburu, dlsbg? Bukankah itu termasuk keji?<br />
Ada yang bilang bahwa itu pengaruh dari luar.<br />
Memang benar bahwa granat bisa meledak apabila dipicu, namun pertanyaannya mengapa granat bisa memiliki mekanisme yang membuat dirinya memiliki pemicu untuk menghancurkan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai sekarang pertanyaan itu masih belum terjawab dengan memuaskan, karena kepuasan itu sangat relatif terhadap orang yang mendengar jawaban itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jika tidak ingin menderita &#8211; maka lepaskanlah !</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Statement ini pernah ditanggapi secara ngawur oleh seseorang. Dia mengatakan &#8220;jika tidak ingin menderita &#8211; maka pergilah mati !&#8221;<br />
Tentu itu adalah statement sembrono dari mulut asbun (asal bunyi).<br />
Kecuali dia pernah pergi bertamasya ke alam setelah kematian dan pulang dengan membawa bukti-bukti dan asal usul yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa kehidupan setelah kematian tidak ada penderitaan, maka kata-katanya yang tadi masih belum dapat dipertanggung jawabkan !</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud dari pernyataan &#8220;jika tidak dapat menderita maka lepaskanlah&#8221; adalah jika memang tidak dapat banyak berbuat, maka tidak perlu banyak berbuat.<br />
Teman saya itu, dulunya adalah orang yang miskin sehingga sepiring nasi putih dengan tempe pun terasa sangat berharga, terasa sangat enak.<br />
Sekarang setelah dia mengalami masalah keluarga, meskipun keadaan ekonominya sudah jauh lebih baik, dia bagaimanapun juga sudah tidak mampu lagi merasakan nikmatnya sepiring nasi tempe!</p>
<p style="text-align: justify;">Beruntung dia masih punya sedikit cahaya dalam hatinya, sehingga usaha yang telah dirintisnya dengan susah payah selama beberapa tahun ini tidak dibiarkan terlantar begitu saja.<br />
Perlahan-lahan dia bisa bangkit dan menjadi orang yang lebih baik, mengingat kembali masa lalunya &#8211; belajar dari masa lalunya bahwa dia pernah mengalami hari-hari yang lebih berat dibanding problemnya yang sekarang &#8211; ia telah kembali ke semangat awalnya. Masa mudanya telah kembali !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Dia belajar bahwa sebanyak apapun ia kehilangan, ia tidak boleh dan tidak bisa kehilangan dirinya sendiri, sebab segala apa yang dimilikinya sekarang adalah hasil usaha dirinya sendiri, tidak perduli kehilangan berapa banyak selagi dia masih mempunyai modal &#8211; yakni dirinya sendiri, dia tidak perlu merasa takut.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkaca dari kasus itu, seorang temannya kemudian tidak menahan diri untuk mengutarakan pendapatnya &#8220;<em>memang benar terkadang proses itu lebih berharga dibanding hasil. orang yang terbuai akan hasil yang bagus akan semakin terperosok dan selamanya susah melepaskan diri darinya. mirip seperti kecanduan narkoba. hidup serba enak oi&#8230; naik kereta mewah oi&#8230; sampe lupa diri akhirnya masuk jurang oi&#8230; mati juga tidak membawa kereta mewahnya !!</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jika lengket, bagaimana lepaskan?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ini satu pertanyaan yang bikin kacau pikiran saya. Kok bisa lengket???<br />
Mendengar kata lengket, hal pertama yang saya pikirkan adalah permen karet !!!<br />
Tapi ternyata yang dia maksudkan adalah rasa sakit&#8230; dia tidak tahu bagaimana cara melepaskannya!<br />
Yah&#8230; terkadang semakin berusaha melepaskan malah semakin gak bisa dilepaskan.<br />
Lo, kok bisa???<br />
Mana kutehek !!!<br />
Memangnya benda apa yang bisa dilepaskan sesuka hatinya? Jika tulang Anda sakit, bagaimana caranya Anda melepaskan tulang tersebut dari daging Anda? Bah&#8230; konyol banget !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Kita ambil contoh permen karet tadi. Dikunyah enak&#8230; trus sakit gigi, waktu ke dokter disuruh lepaskan giginya malah gak mau. Takut katanya! Ya udah kalo begitu lepaskan aja dokternya trus simpan giginya !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengerti maksud moral dari cerita itu, ya bagus. Namun di dunia ini masih ada orang yang meskipun ngerti masih tetap nggak mau ngerti &#8211; mereka malah nanya &#8211; &#8220;Loh, kalo dokter bilang gak perlu cabut, cuma kasih obat tapi untuk sementara bakal tetap sakit gimana?&#8221;<br />
&#8220;Ya udah&#8230; ikutin lo saran dokternya &#8230; ditahan dong! Kalo gak mau sakit, ya pergi mati aja !&#8221;<br />
Pertanyaan menyebalkan ini akhirnya dijawab dengan jawaban yang juga sama menyebalkan dan juga sekaligus sembrono !</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tahapan melepaskan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pelepasan ada tahapnya. Semakin tinggi tahapnya semakin banyak penderitaan yang bisa dikurangi, namun semakin banyak juga yang harus &#8220;dikorbankan&#8221;. (Dikorbankan disini diberi tanda petik karena bagi orang-orang yang masih terikat kata pelepasan sama artinya dengan pengorbanan)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam satu sesi meditasi, melalui satu tahapan saya pernah mengalami bagaimana rasanya berjuang melawan sakit gigi. Konyol memang,&#8230; sakit gigi kok malah meditasi. Emangnya bisa fokus?<br />
Tentu saja nggak bisa !!<br />
Setiap kali saya memikirkan nafas, rasa sakit itu kembali datang dan datang lagi. Jengkel, akhirnya saya mengubah obyek meditasi dari nafas menjadi rasa sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awalnya sakitnya semakin menjadi-jadi. Saya mengerang, menangis tapi sayangnya rasa sakit itu tidak berperasaan ! terus menerus menyiksa !<br />
Pada akhirnya karena cape, saya membiarkan rasa sakit itu menyerang otak saya, &#8220;memperhatikan&#8221; rasa sakit tersebut secara seksama dan tidak berusaha melawannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-lahan &#8230; rasa sakit itu TETAP ADA ! Tapi tidak lagi membuat menderita, seolah olah rasa sakit itu tetap terasa namun terpisah dari tubuh. Seperti halnya sentuhan di kulit yang kita sadari namun tidak sampai membuat kita menderita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sayangnya pengalaman itu cuma sekejap. Beberapa hari kemudian saya kembali &#8220;lengket&#8221; dengan segala rasa manis dan pahitnya hal duniawi. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Memang pengalaman masing-masing orang bisa berbeda, namun setiap orang punya kemampuan untuk mencari jalan bagi dirinya sendiri &#8211; asal mau melihat dengan lebih jelas, maka setiap kesakitan &#8211; setiap penderitaan bisa dipegang dan dilepaskan, hanya singgah namun tidak sampai meninggalkan kotoran. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Percaya ? Atau tidak percaya?<br />
Itu hak Anda. Peduli amat !!! LoLs</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai jumpa.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F06%2Fhidup-tidak-adil%2F&amp;title=Hidup%20Tidak%20Adil%20%3F" id="wpa2a_4"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Tentang Aku</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 01:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221; Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan. Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan. Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain. Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221;</p>
<p>Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan.<br />
Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan.<br />
Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain.<br />
Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri sendiri dan orang lain.<br />
Karena ego, maka ada yang disebut &#8216;pengorbanan&#8217;, berguna ataupun tidak berguna.</p>
<p>Lalu apakah harus melepaskan ego?<br />
Apakah harus melepaskan semuanya begitu saja?<br />
<span id="more-152"></span></p>
<p>Hidup penuh pertimbangan.<br />
Mungkin hanya untuk sebuah jawaban &#8220;Ya !!!&#8221;, butuh lebih dari seribu kali pertimbangan.<br />
Itu karena adanya rasa takut yang terus menerus menghantui.</p>
<p>Terkadang rasa takut itu muncul hanya sesaat dan kemudian pergi.<br />
Rasa takut itu datang dan pergi semaunya.<br />
Meskipun hati ini sangat tenang, namun sesekali tetesan air jatuh dan membuat riak riak kecil di atas air.</p>
<p>Ini adalah sebuah bentuk peringatan.</p>
<p>Terkadang setelah berjalan sangat jauh, ada hal-hal kecil yang terlupakan.<br />
Bahkan karena hal-hal kecil itu, perjalanan jauh bisa jadi sia-sia.</p>
<p>Hal itulah yang mengundang rasa takut itu muncul dalam diriku, sesekali datang dengan frekwensi yang tidak teratur.</p>
<p>Rasa takut itu datang bukan dari tempat yang jauh, namun datang dari sebuah tempat di dalam diri sendiri yang selama ini adalah merupakan daerah abu abu.. daerah sudah lama tak dijamah dan yang telah ditelantarkan sekian lama. Daerah yang penuh dengan pengalaman buruk dan penderitaan yang menyakitkan hati.</p>
<p>Mungkin kebahagiaan saat ini datang karena aku sudah mengabaikan &#8216;daerah&#8217; tersebut. Mungkin apa yang selama ini kurasakan sebagai &#8216;melepaskan&#8217; hanyalah topeng atau bentuk lain yang lebih canggih dari &#8216;mengingkari&#8217;. Mungkin inilah yang disebut ketidaktulusan yang tidak terlihat.</p>
<p>Jika saja tidak ada event yang memicu datangnya rasa takut ini, mungkin aku tidak akan menyadari ini semua.</p>
<p>Yah&#8230; saat ini aku merasa baik baik saja.<br />
Namun setelah rasa takut itu datang untuk pertama kalinya, dan terus menerus datang dengan intensitas yang semakin kuat, aku merasa aku harus menemukan jawabannya. Aku harus menemukan jalan keluarnya.</p>
<p>Kemudian pertanyaan demi pertanyaan mulai bergulir.<br />
Aku terpaksa menghentikan perjalananku untuk sementara waktu, menghabiskan waktu untuk berpikir dan lebih banyak mendengarkan dan menyimak pendapat dan pengalaman orang lain. Meskipun tidak bertanya, namun aku terus mengamati keadaan dan pengalaman orang lain. Aku terus berusaha mencari sebuah jalan keluar.<br />
Apa yang kupelajari dari luar nantinya akan menjadi variabel input bagiku untuk menemukan jalan/jawaban di dalam diriku sendiri.</p>
<p>Namun suatu hari, sesuatu yang tidak kukenal yang datang entah dari mana, datang untuk memperingatkan aku. Ia mengatakan padaku bahwa aku harus melanjutkan perjalananku, terlepas dari berhasil tidaknya aku menemukan jawaban dari dalam diri sendiri. Waktunya sudah dekat, aku tidak boleh hanya berdiam diri disini dan terus menerus mengasihani diri sendiri.</p>
<p>Mengasihani diri sendiri??? Benarkah???<br />
Apakah aku memang sedang mengasihani diri sendiri???</p>
<p>Karena pendapat itu datang dari tempat lain, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, karena terkadang pihak lain bisa melihat diri kita secara lebih jelas, apa adanya.</p>
<p>Aku terus berpikir dan berpikir, namun tetap belum berjalan sedikit pun.<br />
Kemudian sesuatu itu berkata lagi, &#8220;Jika kamu tidak cepat berjalan dan pergi dari tempat ini, ketakutan yang selama ini menghantuimu akan datang lagi dan mewujudkan diri menjadi kenyataan. Menghancurkanmu berlipat lipat dari sebelumnya dan yang paling buruk: meskipun kamu menang, namun dengan cara yang salah maka kamu akan mendapatkan berkah kekuatan negatif yang akan merubahmu menjadi setan, yang pada akhirnya akan membuat orang orang disekitarmu menderita !!! Ini sama saja dengan kalah !!! Dan seandainya kamu tidak &#8216;menang&#8217; dan tidak &#8216;kalah&#8217;, kamu akan memulai perjalanan dari awal lagi.&#8221;</p>
<p>Aku hanya terdiam&#8230; aku tidak berkata apapun padanya.<br />
Namun dalam hati aku tahu apa yang dikatakannya mempunyai potensi untuk menjadi kenyataan.<br />
Jika memang aku tidak siap pada waktunya, maka biarkanlah aku hancur berkeping keping.<br />
Bahkan jika aku harus menjadi setan sekalipun, yang menghancurkan hidup orang banyak, biarkanlah aku menjadi terkutuk dan dikirim ke neraka selamanya.<br />
Aku lelah terus berlari. Aku hanya ingin menang atau sebaliknya dikalahkan. Ini adalah pilihan hidupku.</p>
<p>Kemudian sesuatu itupun pergi, dengan penuh rasa jengkel.<br />
Mungkin karena aku telah mengecewakan dia.<br />
Namun aku tidak menyesal dengan jawabanku, aku ingin terus tersenyum seperti ini. Aku harus terus bertahan.</p>
<p>Melihat kejengkelan yang timbul dari &#8216;sesuatu&#8217; itu, aku pun mulai berspekulasi tentang siapakah &#8216;sesuatu&#8217; itu?<br />
Mengapa ia harus merasa jengkel, mengapa ia begitu peduli, dan mengapa ia datang, padahal aku tidak mengundangnya. Mungkin dia adalah rasa takut itu sendiri yang datang dalam bentuk lain, mencoba mempengaruhi diriku untuk terus menerus melarikan diri darinya.<br />
Mungkin ia melakukan itu untuk mempertahankan eksistensi dirinya sendiri, karena pada saat kondisi terakhir terjadi : aku menang ataupun aku kalah, rasa takut itu takut akan mati, dan menghilang.</p>
<p>Namun sebenarnya dalam pandanganku rasa takut tidak akan hilang, ia hanya akan kehilangan sebagian besar kekuatannya.<br />
Rasa takut telah dimakan oleh kekuatannya sendiri. Namun aku berterima kasih pada rasa takut itu, karena berkat dialah aku menemukan hal lainnya yang akan menjadi tambahan kekuatan bagiku yaitu : Kepercayaan terhadap diri sendiri.</p>
<p>Meskipun aku tidak tahu apakah modalku sudah cukup, namun aku tetap akan menghadapinya.<br />
Aku akan mulai menghidupkan kendaraanku, melanjutkan perjalananku, namun tidak untuk menghindari rasa takut itu.<br />
Jika dia memang harus datang, maka datanglah. Aku akan menerimanya dengan tangan terbuka lebar, tidak untuk mengalah namun untuk menerimanya dengan kasih dan kehangatan. Aku berharap suatu saat disaat aku &#8216;menang&#8217;, rasa takut itu akan mengganti bajunya dan melebur kedalam diriku. Rasa takut itu sebenarnya adalah bagian dari diriku yang telah kupisahkan dan kuasingkan di tempat yang jauh, padahal tempatnya adalah bersama diriku, disini saat ini juga. Aku baru menyadarinya, dan sekarang karena aku telah bersalah, aku bertanggung jawab untuk mengambilnya kembali, dan membersihkan semua noda yang telah membuatnya menjadi rasa takut yang mengerikan seperti sekarang.</p>
<p>Aku tidak tahu apakah aku akan &#8216;menang&#8217;, atau &#8216;menangis&#8217;, ataupun tidak menang tidak kalah.<br />
Aku akan berusaha, sementara itu aku akan terus belajar, belajar dari orang lain, belajar dari hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk.</p>
<p>~~~</p>
<p>Semakin dekat aku dengan rasa sakit, semakin dekat aku dengan rasa kecewa, semakin dekat aku dengan kemarahan, kebencian, kegelisahan dan segala hal yang aku takuti, asalkan aku terus berusaha menjaga kesadaranku maka aku bisa semakin mengenali mereka, bagaimana cara kerja mereka, dan bagaimana mengatasi mereka. Semoga aku bisa tetap bertahan dengan kesadaranku. Aku meletakkan satu tanganku pada keteguhan diriku sendiri, dan satu tanganku yang lain pada keluarga, dan teman temanku. Dengan cara demikianlah aku berusaha tetap teguh untuk menjaga kesadaranku.</p>
<p>Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mencintai seseorang seperti apa yang aku inginkan : tanpa penguasaan, tanpa penghakiman, tanpa pamrih, tanpa kecemburuan, tanpa kecurigaan. Murni berlandaskan keinginan untuk membahagiakan satu sama lain, pengertian, kepercayaan, kejujuran dan ketulusan. Jika hal tersebut tidak dapat berjalan dalam hubungan timbal balik, maka biarkanlah ia berjalan satu arah, sampai saatnya tiba dimana hal tersebut berakhir karena termakan usia/waktu ataupun kejadian. Dengan demikian aku tidak akan menyakiti diri sendiri,karena sudah tidak ada yang bisa disakiti dan memberi usaha maksimal untuk tidak menyakiti orang yang kukasihi.</p>
<p>Sampai saatnya tiba, aku tidak boleh menyerah. Aku harus tetap berusaha. Oleh karena itu aku harus TETAP SEMANGAT !!!<br />
Semoga kita semua menemukan jalan kita. Semoga semua makhluk berbahagia.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F02%2Fcerita-tentang-aku%2F&amp;title=Cerita%20Tentang%20Aku" id="wpa2a_6"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

